DIALEKTIKA PETANI DALAM MEMILIH MELAKUKAN PERTANIAN ORGANIK (Fenomena Romantisme Pertanian Di Wilayah Ganjuran, Kabupaten Bantul)
RIZKA KHOIRULIKA, Drs. Silvertus Djuni Prihatin, M.Si.
2014 | Skripsi | ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)Involusi pertanian yang ditandai oleh hilangnya budaya tani menggugah perasaan romantisme dikalangan petani. Kondisi tersebut menjadikan pergulatan dalam diri petani, sehingga beberapa petani di wilayah Ganjuran memilih mengembangkan pertanian organik. Adapun pertanian organik yang dipahami setiap petani berbeda sebagaimana proses dialektika. Dalam pemikiran Karl Marx, dialektika manusia terkait dengan unsur material yang ditangkap melalui indra manusia. Dialektika membawa kesadaran baru dalam memandang pertanian organiksebagaimana kontradiksi dan interrelasi yang membentuk kesadarannya. Dari hasil penelitian ini, diketahui bahwa sebagian petani memaknai pertanian organik sebagai usaha kemandirian dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia di wilayahnya. Bagi sebagian petani lainnya pertanian organik dimaknai sebagai peluang pasar sehingga kegiatan pertanian organik yang dilakukan hanya sebatas pencapain hasil tanpa memuat prinsip kemandirian. Penelitian ini termasuk jenis penelitian lapangan yang bersifat deskriptis analitis. Metode pengumpulan data dilakukan secara kualitatif melalui observasi, interview dan dokumentasi.
Farming involution which is symptomed by disappearance of farming culture triggers romanticism feeling among farmers. These conditions lead struggle within the farmers, so that farmers in some of Ganjuran areas chose to develop organic farming. Every farmer has different understanding on organic farming, as well as dialectical process. In Karl Marx thought, human dialectics do have a relationship with materialism element captured through human sense. Dialectics brought a new consciousness in viewing organic farming as contradiction and interrelation which later form its consciousness. From these results, it was known that some farmers made sense of independence organic farming by exploiting the potential of natural resources in the region. For some other farmers, organic farming was defined as a market opportunity, so that organic farming was limited only for results achievement without considering the principle of independence. The type of this research was analitical descriptive field research. Data collection method was conducted qualitatively through observation, interview, and documentation.
Kata Kunci : Romantisme, Dialektika, Pertanian Organik