Laporkan Masalah

ANALISI FINANSIAL PEMBANGUNAN TEGAKAN JATI PLUS PERHUTANI DI KESATUAN PEMANGKUAN HUTAN CEPU DIVISI REGIONAL JAWA TENGAH

FAHMI MAJID, Slamet Riyanto S.Hut., M.Si

2014 | Skripsi | MANAJEMEN HUTAN

Kebutuhan kayu jati untuk industri mebel dan kerajinan harus diimbangi dengan ketersediaan bahan kayu jati. Perum perhutani sebagai pemasok utama kayu jati masih belum mampu memenuhi jumlah permintaan industri karena produktifitas tegakan yang masih rendah. Usaha yang telah dilakukan perhutani untuk mengatasi masalah tersebut adalah menciptakan varietas jati unggul yang disebut jati plus perhutani (JPP). JPP diharapakan memiliki produktifitas yang tinggi dan kualitas batang unggul. Pembangunan tegakan JPP berkaitan dengan investasi jangka waktu pengusahaan yang panjang, sehing ga diperlukan gambaran mengenai sturktur biaya dan pendapatan melalui analisis finansial untuk mengetahui tingkat keuntungan pembangunan tegakan JPP. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi besaran dan struktur biaya dan pendapatan pembangunan tegakan JPP dan mengevaluasi kelayakan finansialnya. Penelitian ini dilakukan dengan mengikuti tahapan sebagai berikut 1). Analisis biaya 2). Analisis pendapatan 3). penyusunan aliran biaya dan pendapatan (distounted cash flow) 4). Menentukan profitabilitas dengan kriteria Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), Internal rate of Return (IRR). Penaksiran volume kayu penjarangan dan tebangan akhir dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu : (1) persamaan regresi antara umur dengan volume (2) tabel normal JPP. Estimasi biaya pembangunan tegakan JPP dihitung berdasarkan data sekunder yang dikeluar oleh perum perhutani KPH Cepu yang terdiri dari biaya investasi langsung, biaya investasi tetap dan biaya rutin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan tegakan JPP secara finansial layak untuk dijalankan. Dengan discount rate sebesar 6,02% kelayakan tersebut ditujukkan dengan nilai kriteria NPV, BCR, IRR dengan penaksiran volume menggunakan rumus pada sistem tanam tumpangsari berturut -turut adalah Rp 225.171.560/ha/20 tahun, 17,23, 30,03% dan pada sistem banjarharian adalah Rp 225.174.991/ha/20 tahun, 17,24, 30,04%. Dengan penaksiran volume menggunakan tabel normal JPP nilai NPV, BCR, IRR pada sistem tanam tumpangsari adalah Rp 197.181.658 /ha/20 tahun, 15,22, 29,61% dan pada sistem tanam banjar harian adalah Rp 197.185.09 /ha/20 tahun, 15,22 dan 29,63%. Berdasarkan analisis sensetivitas, pembangunan tegakan JPP tetap layak dijalankan ketika menghadapi resiko penurunan produksi dan peningkatan biaya

The industrial demand of teak wood for furniture and handicraft have to be balanced with the availability of teak wood raw materials. Perum Perhutani, as the primary supplier of the teak wood, is still unable to meet the industrial demand because of lower stands productivity. Perhutani attempt to overcome this problem by introducing genetically superior variety, known as jati plus perhutani (JPP). JPP is expected to has a higher productivity and an excellent wood quality than conventional stands. JPP stands establishment is related to long period investment , so that the evaluation of cost and revenue through financial analysis are exactly needed to discover the profit rate of JPP stands establishment. This study was aimed to estimate amount and structure of cost and income of JPP stands establishment and evaluate its financial feasibility. This study was conducted by following stages; 1) cost analysis 2) income analysis 3) compilate discounted cashflow 4) determining profitability according to Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), Internal Rate of Return (IRR). Estimation of intermediate and final cutting was conducted by using two methods; 1) Linier regression between age and volume 2) normal JPP table. Estimation of JPP stands establishment cost was calculated and built upon secondary data issued by Perum Perhutani KPH Cepu, consists of direct investment cost, fixed investment cost and routine cost. The result showed that JPP stands establishment is finacially feasible to be conduted, as indicated by values of NPV, BCR, IRR through volume estimation using formula in tumpangsari and banjar harian planting system. The values of NPV, BCR, IRR were Rp 225.171.560/ha/20 years; 17,23; 30,03% in tumpangsari planting system and Rp 225.174.991/ha/20 years; 17,24; 30,04% in banjar harian planting system, respectively. According to estimation by using normal table of JPP, value of NPV, BCR, IRR in tumpangsari planting system were Rp 197.181.658/ha/20 years; 15,22; 29,61% and Rp 197.185.09/ha/20 years ; 15,22; 29,63% in banjar harian planting system, respectively. Based on sensitivity analysis, JPP stands establishment was still feasible to faced unexpected condition such as decreasing production and incresing cost.

Kata Kunci : JPP, discounted cashflow, kelayakan finansial


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.