Laporkan Masalah

PEMANTAUAN KAWASAN SABUK HIJAU WADUK WADASLINTANG MENGGUNAKAN CITRA SATELIT LANDSAT 8

ERLYNA NOUR ARROFIQOH, Dr. Harintaka, ST, MT.

2014 | Skripsi | TEKNIK GEODESI

Waduk Wadaslintang merupakan waduk serbaguna yang dibangun di provinsi Jawa tengah. Volume dan tingkat operasional waduk semakin berkurang karena laju sedimentasi yang tinggi. Untuk menjamin fungsi waduk tetap optimal dan berkelanjutan, kegiatan pengelolaan harus ditekankan pada upaya pengamanan dan penyelamatan waduk serta daerah di sekitarnya. Daerah-daerah yang bervegetasi terutama kawasan sabuk hijau, harus dilindungi dan harus tetap dijaga kelestariannya. Salah satu upaya pengawasan pemanfaatan lahan di kawasan waduk dan sekitarnya adalah dengan memantau sabuk hijau dan mengetahui penggunaan lahan di sekitar kawasan Waduk Wadaslintang. Berkurangnya luas lahan vegetasi di daerah tersebut, akan memberikan dampak negatif terhadap siklus hidrologi waduk. Pemantauan sabuk hijau dan penggunaan lahan di sekitar Waduk Wadaslintang menggunakan data satelit penginderaan jauh, yaitu dengan membandingkan citra Landsat 7 ETM+ tahun 2001 dan citra Landsat 8 tahun 2013. Metode yang dipakai dalam penelitian ini yaitu dengan klasifikasi digital menggunakan metode maximum likelihood untuk mengetahui penggunaan lahannya. Hasil klasifikasi kemudian dianalisis untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan dan sabuk hijaunya selama rentang waktu 12 tahun. Berdasarkan uji ketelitian, menunjukkan bahwa metode maximum likelihood dapat digunakan untuk membuat peta penggunaan lahan dengan nilai overall accuracy citra Landsat 7 ETM+ tahun 2001 sebesar 89,14 % dan citra Landsat 8 tahun 2013 sebesar 93,43 %. Analisis hasil klasifikasi membuktikan adanya perubahan penggunaan lahan pada kawasan sabuk hijau, yaitu hutan mengalami penurunan luas sebesar 60.300 m 2 , kebun bertambah 145.800 m 2 , tubuh air bertambah 581.400 m 2 , tegalan berkurang 775.800 m 2 , sawah bertambah 286.200 m 2 , semak belukar berkurang 338.400 m 2 , dan tanah terbangun mengalami pertambahan sebesar 161.100 m 2 .

Wadaslintang reservoir is a multipurpose dam that built in Central Java. The volume and rate of operations on the wane due to the high rate of sedimentation. To ensure optimum function of the reservoir and sustainable management activities should be focused on security and rescue efforts as well as the area surrounding the reservoir. Vegetated areas, especially the green belt, should be protected and should remain preserved. One of the efforts to control landuse in the reservoir area is to monitor green belt and determine land use around the reservoir. Reducing land area of vegetation, will have negative impacts on the hydrological cycle of the reservoir. To monitor green belt and land use around the Wadaslintang reservoir using satellite remote sensing data was done by comparing the Landsat 7 ETM+ in 2001 and Landsat 8 in 2013. The method used in this research is the digital classification using maximum likelihood to determine land use. The results are then analyzed to detect the land use and the green belt that changes over 12 years. Based on the accuracy test showed that the maximum likelihood method can be used to create a land use map with overall accuracy Landsat 7 ETM+ in 2001 is 89,14% and Landsat 8 in 2013 is 93,43%. Analysis of the classification results proved that there are land use changing on the green belt area, forest decreased 60.300 m 2 , agriculture field increased 145.800 m 2 , water increased 581.400 m 2 , dry agriculture decreased 775.800 m 2 , cropland increased 286.200 m 2 , shrub decreased 338.400 m 2 , and urban area increased 161.100 m 2 .

Kata Kunci : sabuk hijau, Landsat 7 ETM+, Landsat 8, sedimentasi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.