HUBUNGAN PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING AIR SUSU IBU (MP-ASI) DENGAN STATUS GIZI BAYI USIA 6-12 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KETUWAN, KECAMATAN KEDUNGTUBAN KABUPATEN BLORA, JAWA TENGAH
VINDA DWI HANIFAH, Setyowati, SKM, M.Kes
2014 | Skripsi | GIZI KESEHATANLatar belakang : Tingginya angka kematian bayi dan anak merupakan ciri yang umum dijumpai di negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Salah satu penyebab yang menonjol diantaranya karena keadaan gizi yang kurang baik. Enam bulan pertama merupakan masa sangat kritis dalam kehidupan balita. Salah satu permasalahan dalam pemberian makanan pada bayi adalah terhentinya pemberian ASI dan pemberian MP-ASI tidak cukup baik jumlah maupun mutu. Hasil penelitian mengenai hubungan pemberian MP-ASI dengan status gizi menunjukkan hubungan yang beragam. Prevalensi malnutrisi di Kecamatan Kedungtuban yang diatas rata-rata kecamatan lain dijadikan dasar mengapa penelitian ini dilakukan. Objektif: Mengetahui hubungan antara asupan energi MP-ASI dengan status gizi bayi usia 6-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Ketuwan, Kedungtuban, Blora, Jawa Tengah. Metode : Penelitian ini merupakan studi observasional, dengan desain cross sectional. Sampel adalah bayi usia 6-12 bulan bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Ketuwan, Kecapamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora. Jumlah sampel 60 anak yang diambil secara cluster random sampling dan proporsional. Responden wawancara adalah ibu/keluarga/pengasuh dari bayi(subjek penelitian). Uji statistik yang digunakan adalah Fisher’s Exact Test. Hasil : Jenis MP-ASI terdiri dari Buah (3,3%), pabrikan (5%), tradisional (1,67%), campuran MP-ASI pabrikan dan buah (6,67%), campuran MP-ASI tradisional dan pabrikan (5%), campuran MP-ASI buah dan tradisional (3,33%), campuran terdiri dari ketiga komponen yaitu buah, makanan pabrikan dan makanan tradisional (75%). Asupan energi pada bayi dengan status gizi baik mendapat asupan energi lebih banyak daripada bayi dengan status gizi kurang 114,63 kkal, dengan tingkat asupan energi bayi dengan status gizi baik lebih tinggi 12.63 % dibanding bayi dengan gizi kurang. Uji statistik hubungan usia pertama pemberian MP-AI dengan status gizi mempunyai signifikansi sebesar 0,89(p>0,05), sedangkan hubungan frekuensi pemberian MP-ASI dengan status gizi mempunyai p=0,43 (p>0,05) Pada table statistik hubungan yang signifikan antara asupan energi MP-ASI dengan status gizi bayi umur 6-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Ketuwan, Kedungtuban, Blora diperoleh hasil signifikansi 0,04(p<0,05). Simpulan: Jenis MP-ASI yang paling banyak diberikan adalah campuran (buah, makanan pabrikan dan makanan tradisional) sebanyak 75%. Bayi dengan status gizi baik mendapat asupan energi dan protein lebih banyak daripada bayi dengan status gizi kurang. Tidak ada hubungan usia pertama pemberian MP-AI dengan status gizi. Tidak ada hubungan frekuensi pemberian MP-ASI dengan status gizi bayi. Ada hubungan yang signifikan antara asupan energi MP-ASI dengan status gizi bayi umur 6-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Ketuwan, Kedungtuban, Blora.
Background: The high rate of infant and child mortality is a common characteristic in countries that are developing, including Indonesia. One cause that stands out among others because of poor nutritional status. The first six months is a very critical period in the life of a toddler. One of the problems in infant feeding is the cessation of breastfeeding and complementary feeding is not giving sufficient in quantity and quality. The results of research on the relationship giving complementary feeding and nutritional status showed diverse relationships. The prevalence of malnutrition in Sub distict Kedungtuban are above the average of other districts. This is the basis of why the research was conducted. Objective: To identify the relathionship between the complementary feeding energy intake and nutritional status of infants aged 6-12 months in Puskesmas Ketuwan, Kedungtuban, Blora, Central Java. Methods: This study is an observational study, using the cross-sectional design. Samples were infants aged 6-12 months residing in Puskesmas Ketuwan, Sub District Kedungtuban, Blora. The number of samples taken 60 infants and taken by proportional cluster random sampling. Interview respondents were mothers / families / caregivers of infants (research subjects). The statistical test used was Fisher's Exact Test. Results: Type MP-ASI consists of fruit (3.3%), manufacturing (5%), traditional (1.67%), MP-ASI mixture manufacturer and fruits (6.67%), a mixture of traditional and complementary feeding manufacturer (5%), a mixture of traditional and fruit (3.33%), a mixture consisting of three components: fruit, traditional food, and manufacturers (75%). Energy intake in infants with good nutritional status gets more energy intake than infants with malnutrition status 114.63 kcal, with the rate of energy intake of infants with good nutritional status is higher than 12.63% of infants with malnutrition. The significancy of first timing of complementary feeding with nutritional status of infants is 0,85, and the significancy of frequency of complementary feeding with nutritional status of infants is 0,43. The significancy of relationship between energy intake of complementary feeding with nutritional status of infants aged 6-12 months in Puskesmas Ketuwan, Kedungtuban, Blora is 0.04 (p <0.05). Conclusion: MP-ASI pattern of a mixture of fruit, food manufacturers and traditional food is the highest number of complementary feeding. Energy intake in infants with good nutritional status gets more energy and protein intake than infants with malnutrition status. There is not significant relationship between first timing of complementary feeding and nutritional status of infants. There is not a significant relationship between frequency of complementary feeding and nutritional status of infants. There is a significant relationship between energy intake of complementary feeding and nutritional status of infants aged 6-12 months in Puskesmas Ketuwan, Kedungtuban, Blora.
Kata Kunci : status gizi, bayi usia 6-12 bulan, usia pertama pemberian MP-ASI, frekuensi pemberian MP-ASI asupan energi MP-ASI, asupan protein MP-ASI