IDENTIFIKASI DAN ESTIMASI WILAYAH INTERTIDAL MENGGUNAKAN CITRA ALOS PALSAR, DATA PASANG SURUT DAN DATA DEM (Studi Kasus : Distrik Merauke, Kabupaten Merauke)
EDWARD WIJAYA, Abdul Basith, ST. M.Si. Ph.D.,
2014 | Skripsi | TEKNIK GEODESIWilayah intertidal adalah wilayah yang terletak di antara pasang tertinggi dan surut terendah dari suatu wilayah pesisir. Informasi mengenai wilayah intertidal menjadi sangat penting dalam hal pemanfaatan maupun pembangunan wilayah pesisir. Pengamatan wilayah intertidal harus dilakukan secara berkesinambungan dan terus-menerus. Bentuk wilayah intertidal dipengaruhi oleh dua buah faktor yaitu kondisi pasang surut dan bentuk topografi wilayah pesisir itu sendiri. Semakin besar tunggang pasut (pasang surut) suatu wilayah pesisir maka semakin besar pula wilayah intertidal. Semakin landai kondisi topografi atau lereng wilayah pesisir maka semakin besar pula wilayah intertidal-nya. Perairan Merauke memenuhi kedua kriteria untuk memiliki wilayah intertidal yang luas. Berdasarkan data dari Bappeda Kabupaten Merauke diketahui bahwa kemiringan lereng wilayah pesisir Merauke berkisar 0-8 % dan masuk dalam kategori landai. Tunggang pasut di perairan Merauke juga cukup besar yaitu berada di kisaran 4-5 meter. Tujuan dari proyek ini adalah untuk melakukan identifikasi dan estimasi wilayah intertidal serta melakukan analisis wilayah intertidal pada perairan Merauke. Proyek ini dilakukan dengan studi kasus Distrik Merauke, Kabupaten Merauke. Proyek ini menggunakan citra ALOS PALSAR untuk melakukan idetifikasi garis pantai Distrik Merauke, data SRTM untuk mengetahui nilai kemiringan lereng pesisir distrik Merauke serta model TPXO 7.1 yang dijalankan dengan perangkat lunak TMD (Tidal Model Driver) untuk melakukan prediksi pasut. Data garis pantai sesaat yang didapat dari citra ALOS PALSAR digunakan sebagai titik pangkal untuk menentukan garis pantai pasang dan garis pantai surut. Penentuan garis pantai pasang dan garis pantai surut dilakukan dengan bantuan dari data pasang surut hasil prediksi dan DEM SRTM. Hasil dari proyek ini adalah identifikasi dan estimasi wilayah intertidal Distrik Merauke dan garis pantai distrik Merauke dalam bentuk peta serta perhitungan luas Distrik Merauke. Hasil analisis menunjukkan bahwa distrik Merauke memiliki garis pantai sesaat sepanjang 18.172,004 m. Hasil penghitungan menunjukan garis pantai saat pasang memiliki panjang sebesar 22.934,903 m dan garis pantai saat surut memiliki panjang sebesar 30.242,489 m serta luas wilayah intertidal sebesar 4.587.826,299 m2.
Intertidal zones are areas that lie between the highest and lowest tide of coastal region. Forms of intertidal zones are affected by two factors: the condition of tidal and coastal topography shape itself. Based on data from Merauke Bappeda note, the slope of the coastal area of Merauke ranges between 0-8 %, categorized as ramps. Tidal ranges at Merauke is also large enough, ranging from 4 to 5 meters. The project was taking District of Merauke in Merauke Regency as a case study. The project used ALOS PALSAR imagery for idetifying coastline of Merauke District, SRTM data for determining coastal slope of Merauke district and TPXO 7.1 models run using TMD (Tidal Model Driver) software for performing tidal predictions. The results of this project are identificated and estimated of intertidal zones and shoreline of Merauke District in the form of maps and area of Merauke District. The results of the analysis show that Merauke district has an instantaneous coastline by 18.172,004 m. The results also show that the shoreline at high tide is 22.934,903 m length, shoreline at low tide is 30.242,489 m length and the identified intertidal area is 4.587.826,299 m2.
Kata Kunci : citra ALOS PALSAR, wilayah intertidal, garis pantai, prediksi pasang surut