Laporkan Masalah

KAJIAN KARAKTERISTIK KETINGGIAN GELOMBANG TSUNAMI PADA MORFOLOGI PANTAI YANG BERBEDA DENGAN MODEL NUMERIK

YASIR AGUS HARTANTO, Abdul Basith, S.T., M.Si., Ph.D.

2014 | Skripsi | TEKNIK GEODESI

Indonesia memiliki pantai dan pesisir terpanjang ke empat di dunia yaitu sepanjang 95.181 km dengan keadaan morfologi pantai yang beragam, pada umumnya berbentuk lurus, teluk dan tanjung dengan kemiringan dari landai sampai curam. Indonesia juga merupakan salah satu negara yang rawan bencana gempa bumi dan tsunami karena terletak pada tiga pertemuan lempeng tektonik bumi yang sangat aktif. Tsunami telah beberapa kali melanda Indonesia dan menelan ribuan korban jiwa. Upaya untuk mitigasi bencana tsunami adalah mencegah kerugian yang semakin besar. Salah satunya adalah membuat prediksi tsunami yang sesuai dengan keadaan morfologi pantai. Tsunami dapat diprediksi menggunakan pemodelan numerik tsunami, yaitu model TUNAMI (Tohoku University’s Numerical Analysis Model for Investigation of Near-field Tsunamis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik ketinggian gelombang tsunami pada morfologi pantai lurus, pantai tanjung, dan pantai berbentuk teluk, serta pantai landai dan curam. Penelitian ini diawali dengan pembuatan model pantai dengan merekayasa morfologi pantai riil di wilayah Cilacap menjadi pantai berbentuk lurus, teluk dan tanjung. Selain itu juga melibatkan rekayasa dimensi perairan untuk teluk dan tanjung menjadi empat variasi yakni 3,75 km, 7,5 km, 15 km, dan 30 km. Kemiringan batimetri pantai juga direkayasa dengan tiga variasi kemiringan pantai yaitu 3%, 13% dan 23%. Pemodelan simulasi tsunami ini menggunakan model numerik TUNAMI-N3 dengan melibatkan tiga morfologi pantai dengan empat dimensi perairan pada teluk dan tanjung, tiga kemiringan pantai dan enam variasi magnitud gempa. Kombinasi dari ketiga parameter tersebut menghasilkan 162 skenario pemodelan. Penelitian ini menggunakan titik pengamatan di sepanjang garis pantai dan di sepanjang garis yang tegak lurus dengan garis pantai dengan interval setiap titik 400 meter. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan sumber yang sama, semakin besar nilai kemiringan pantai, maka semakin rendah ketinggian gelombang tsunami di pantai. Pada pantai lurus dengan kemiringan 3%, 13%, 23% berturut-turut menghasilkan tinggi gelombang tsunami 27,5 m, 21,54 m, 2,7 m. Morfologi pantai dan dimensi perairan berpengaruh terhadap tinggi tsunami di pantai. Secara umum hasil pemodelan menunjukkan tinggi maksimum tsunami berturut-turut dari tinggi ke rendah terjadi pada pantai tanjung, pantai lurus dan pantai teluk. Dari sisi dimensi perairan, semakin besar dimensi perairan, maka tinggi tsunami di ujung morfologi semakin rendah. Secara berurutan tinggi tsunami dari tinggi kerendah terjadi pada peraiaran berdimensi 3,75 km, 7,5 km, 15 km, dan 30 km. Morfologi pantai dan dimensi perairan juga berpengaruh terhadap distribusi tsunami di pantai. Pada kemiringan pantai yang sama, pantai lurus distribusi ketinggian tsunaminya seragam yakni sekitar 27,5 m ,sedangkan pada teluk dan tanjung distribusi ketinggian tsunaminya tidak seragam. Hasil titik pengamatan secara umum juga menunjukkan distribusi tinggi tsunami pada teluk dan tanjung berdimensi 3,75 km berbeda dengan hasil pada dimensi 7,5 km, 15 km dan 30 km

Indonesia has the 4th longest coastline in the world that is 95.181 km with varied circumstances of coastline morphology, generally in the form of straight, bays, and capes, with a slope of ramps to steep. Indonesia is also one of the countries prone to disasters due to earthquake and tsunami because it is located at tripple jungtion of the Earth's tectonic plates, which cause Indonesia region vulnerable to earthquake and tsunami threats. Tsunami has strucked Indonesia several times and caused a thousand of fatalities. Tsunami hazard mitigation is addresses to prevent the bigger losses. One of them is to make tsunami prediction on coastal morphologies. A Tsunami can be predicted by using a numerical tsunami model, such as TUNAMI model (Tohoku University's Numerical Analysis Model for Investigation of Near-field Tsunamis). This research is aimed to find out the characteristics of wave height on straight, bay and cape shape coastal morphology. This research started the making coast model by manipulating the real coastal morphology of Cilacap into linear, bay and cape shape. It also involved coastal dimension manipulation for bay and cape into four different types namely 3.75 km, 7.5 km, 15 km and 30 km. The bathymetry slope of the coast was also manipulated into three types of coastal slope namely 3%, 13% and 23%. This tsunami simulation modeling used TUNAMI N3 numerical model which involved three coastal morphology, four dimensions of waters in bay and cape, three coastal slope and six types of earthquake magnitude. The combination of these three parameters produced 162 modeling scenario. This research applied for avaluation purpose observation points along the coastline and those perpendicular to outer coastal with its intervals in every 400 m. The results show that the larger the slope value of the beach the lower the height of the tsunami waves on the beach. Tsunami modelling using slope 3%, 13%, 23% resulted in tsunami wave height of 27.5 m, 21,54 m and 2.7 m respectively. The morphology’s and their respective dimension also influenced the height of the tsunami coast. Respectively from height to low, have to cape, straight, and bay shape coastal morphology. From the side of water dimension, large water dimension, height tsunami wave at end morphology. Respectively the height tsunami wave from high to low occured at the coast with the water dimension 3.75km, 7.5km, 15km, and 30km. Coastal morphology’s and their respective dimension also influenced tsunami wave height distribution. On the same slope showed a similar value for the straight coast, that is around 27.5 m and different value for the bay and cape showed distribution of tsunami wave not similar along the coast. Generally, the result of observe point show the distribution height tsunami wave at the bay and cape with dimension 3,75km different with the result of dimension 7,5km, 15km, and 30km.

Kata Kunci : -


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.