Laporkan Masalah

“MONEY POLITICS DALAM PEMILU LEGISLATIF 2014” Studi Kasus Masyarakat Dusun Tunjungan, Desa Pengasih, Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa Yogykarta

HEROIK MUTAQIN PRATAMA, Dr. Ari Dwipayana, M.Si

2014 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN (POLITIK DAN PEMERINTAHAN)

Studi ini hendak mengelaborasi lebih jauh mengenai kehadiran praktek money politics dalam proses pemilu legislatif 2014 berikut implikasi terhadap perolehan suara yang dihasilkan.Money Politics atau yang dikenal dengan sebutan politik uang bukanlah suatu hal yang baru dalam dunia kepemiluan Indonesia. Akan tetapi pada pemilu 2014 money politics menjadi semakin massif dan terbuka untuk dilakukan oleh setiap calon anggota legislatif di setiap level untuk meraih suara terbanyak. Untuk itu fokus kajian dari studi ini berusaha untuk menjawab bagaimana praktek money politics bekerja dalam pemilu legislatif 2014 di Dusun Tunjungan, Kabupaten Kulon Progo berikut implikasi elektoral yang ditimbulkan. Dusun Tunjungan di pilih sebagai lokus dari penelitian ini dengan maksud untuk membatasi penelitian ini agar lebih terfokus dan tidak melebar.Mengingat metode penelitian yang digunakan dalam studi ini ialah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, yang mengisyaratkan hadirnya bounderis agar lebih terelaborasi lebih dalam. Penelitian ini akan dibantu oleh beberapa frame work teoritik terkait money politics untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Konsep uang sebagai sumber daya politik menjadi cara pandang awal dalam melihat seberapa jauh peran uang dalam proses memperoleh kekuasaan. Sedangkan vote buying dan pork barrel sebagai dua bentuk dari money politics menjadi kerangka konseptual untuk melihat bentuk politik uang, sekaligus cara bekerjanya dalam pasar suara di Dusun Tunjungan. Hasil dari penelitian ini menunjukan digunakanya sistem proposional terbuka yang semakin membuka peluang persaingan antar caleg untuk meraih kursi legsilatif, dan masih dijadikanya uang sebagai kunci utama kemenangan caleg dalam memperoleh suara terbanyak.Menjadi latar belakang utama terjadinya praktek money politics di Dusun Tunjungan. Selain itu praktek money politics dalam pasar suara di Dusun Tunjungan memiliki dua bentuk dan dengan cara bekerja yang berbeda-beda yakni vote buying dengan memberikan uang sebesar 30.000, dan pork barrel dengan memberikan janji pembangunan fasilitas publik di Dusun Tunjungan. Meski demikian dari kedua bentuk ini selalu memanfaatkan agen penghubung yang berasal dari elit lokal Dusun Tunjungan.Sedangkan hasil akhir perolehan suara di Dusun Tunjungan menunjukan kandidat yang menggunakan money politics menempati perolehan suara tertinggi dibandingkan dengan caleg lainnya.

This study try to elaborate further on the presence of the practice of money politics in the 2014 legislative elections and also its implication to the vote result.Money Politics or the socalled “politik uang” is not something new in the world of Indonesia electoral. However, the 2014 election of money politics is becoming increasingly massive and open to be done by any legislative candidates in every level to win the most votes. The focus of this study is to answer how the practice of money politics works in the legislative elections in 2014 in the resident Tunjungan village, Kulon Progo Regency and also the resulting electoral implications. Resident Tunjungan village is chose as the focus of this study with a view to limiting the study to be more focused and not widened.Because the research methods used in this study is a qualitative research method with a case study approach, which requires to be more elaborated bounderis deeper. This study will be supported by several theoretical frameworks related to money politics to answer the research question. The concept of money as political resources into early perspective in seeing how far the role of money in the process of getting power. Vote buying and pork barrel as two forms of money politics will be a conceptual framework to look at the political form of money, as well as how it works in the vote market in resident Tunjungan village. The results of this study indicate open proportional electoral system raises the possibility of competition between candidates to get a seat Legislative,and still made his money as a key victory in the candidate gets the most votes. Being the main background in the practice of money politics Resident Tunjungan Village.Besides the practice of money politics in the vote market in resident Tunjungan village has two forms and in a manner different works that vote buying by giving money amounting to Rp. 30,000, and the pork barrel to deliver the promise of construction of public facilities in the resident Tunjungan village.However both these forms always utilize liaison agent from the local elite resident Tunjungan village.While the final outcome of the vote in the resident Tunjungan village show candidates who use money politics occupies the highest vote totals in comparison to other candidates.

Kata Kunci : -


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.