Direct of ophthalmoscopy by trained paramedic for primary open angle glaucoma screening
EKANTINI, Retno, Prof.Dr.dr. Rusdi Lamsudin, SpS(K),M.Med.Sc
2001 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran KlinisJudul: Pemeriksaan oftalmoskopi direk oleh paramedis terlatih untuk skrining glaukoma primer sudut terbuka Tujuan: Menentukan validitas paramedis terlatih untuk skrining glaukoma primer sudut terbuka. Hypotesis: Sensitivitas pemeriksaan paramedic untuk shning glaukoma primer sudut t d u k a adalah lebih dari 80 YO dan spesifisitasnya lebih dari 70 % Manfaat penelitian: Jika didapatkan validitas yang baik maka cara ini dapat digiinakan irntuk skrining glaukoma primer sudut terbuka. Desain: Menipakan stiidi diabmostik, suatu penelitian observasional prospektif dengan uji buta. Tempat: RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta indoiiesia Cam penelitian: Dipilih 2 orang pamnedis yang telah dilatih untuk menggunakan oftalmoskop. Mereka memm’ksa subyek peneiitian yang tdah dipilih, kemudian hasilnya dibandin&an dengan hasil pemeriksaan spesialis mata yang mendiagnosis glaukoina menggunakan pemeriksaan rasio CD papil saraf optik, tonometer aplmasi dan pemeriksaan lapang pandang menggtmakan perimeter kinetik Goldinaiin. Kriteria subyek adalah sebagai berikut: umur 35 taliin keatas, laki-laki dan perempuan, mata tenang,papil saraf optik tampak jelas, papil batas teas dan tidak ada riwayat penyebab glaukoma sekunder, serta bersedia ikut dalam penelitian. Diukur sensitivitas, spesifisitas, nilai pendugaan (predictive value) dan nilai rasio kecenderungan (likelihood mtio). Hasf penelitian: Jumlah subyek penelitian 530 orang terdiri dari 1060 mata. Jumlah laki-laki 203 orang dan perempuan 327 orang. Umur berkisar antara 35 tahtm dan 78 talitin. Berdasmkan rasio CD horisontal pada nilai batas 0.4 didapatkan sensitivitas sebesar 79,77 % dan spesifisitas 47.44 %, sedangkan nilai duga untuk test positif sebesar 11.66 % dan 96,42 % untuk nilai duga negatif Nilai rasio kecenderungan uiitiik test positif adaiali sebesar 1.52 dan untuk test negatif 0.43. Dengan menggunakan nilai batas 0,5, sensitivitas turun menjadi 47,62 % sedangka spesifisiias iiaik menjadi 89.86 %, deinikian juga pada nilai batas 0,6,0,7 dan 0.8, sensitivitas turun tetapi spesifisitas naik. Berdasarkan rasio CD vertical didapatkan liasil yang sempa dengan rasio CD horisontaLyaitu sensitivitas sebesslr 79,76 O h dan spesifisitas 46,93 % pada nilai batas 0,4, sedangkan nilai duga positif sehesar 1 1 ,GG 5 dan iiilai d i p negatif96.42 %. Nilai rasio kecetiderungan positif sebesar 1 52 dan kecenderungan negatif sebesar 0,43. Pemeriksaan spesialis iiiata bedasarkan rasio CD saja ,maighasilkan sensitivitas sebesar 96,43 04 dan spesifisitas 8 1.86% pada nilai batas 0,4. Kesimpulan: llasil pcricliiiaii iiii ineskipuii tidak rnendapatkan liasil test yang ideal yaitu sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, tetapi masih sesuai dengan tujuan yaitu mendapatkan metode skriniiig dengan seiisitivitas yang cukup pada nilai batas 0,4, meskipim akan terdapat kasus .false psirive yang cukup besar akibat spesifisitas yang rendah. Jika digunakan nilai batas 0,5, mskipun jumlah false psifive lebih kecil, tetapi terdapat lebih banyak kasus POAG yang terlewatkan karena sensitivitasnya kbih reiidah. Berdasarkan adanya kenyataan bahwa pemeriksaan spesialis mata menghasilkan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, padahal kesqakatan antara pai-ainedis dan spesialis mata juga tkggi, ternyata terdapat hasil pemm'ksaan paramedis yaag tidak memuaskan. Hd ini perlti dilakukan penelitian lebih lanjut ttntuk mengetahui kernamptian yang sebenarnya dari paramedis uiituk inelakrikan skrining terhadap glaukoma primer sudut terbuka.
Judul: Pemeriksaan oftalmoskopi direk oleh paramedis terlatih untuk skrining glaukoma primer sudut terbuka Tujuan: Menentukan validitas paramedis terlatih untuk skrining glaukoma primer sudut terbuka. Hypotesis: Sensitivitas pemeriksaan paramedic untuk shning glaukoma primer sudut t d u k a adalah lebih dari 80 YO dan spesifisitasnya lebih dari 70 % Manfaat penelitian: Jika didapatkan validitas yang baik maka cara ini dapat digiinakan irntuk skrining glaukoma primer sudut terbuka. Desain: Menipakan stiidi diabmostik, suatu penelitian observasional prospektif dengan uji buta. Tempat: RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta indoiiesia Cam penelitian: Dipilih 2 orang pamnedis yang telah dilatih untuk menggunakan oftalmoskop. Mereka memm’ksa subyek peneiitian yang tdah dipilih, kemudian hasilnya dibandin&an dengan hasil pemeriksaan spesialis mata yang mendiagnosis glaukoina menggunakan pemeriksaan rasio CD papil saraf optik, tonometer aplmasi dan pemeriksaan lapang pandang menggtmakan perimeter kinetik Goldinaiin. Kriteria subyek adalah sebagai berikut: umur 35 taliin keatas, laki-laki dan perempuan, mata tenang,papil saraf optik tampak jelas, papil batas teas dan tidak ada riwayat penyebab glaukoma sekunder, serta bersedia ikut dalam penelitian. Diukur sensitivitas, spesifisitas, nilai pendugaan (predictive value) dan nilai rasio kecenderungan (likelihood mtio). Hasf penelitian: Jumlah subyek penelitian 530 orang terdiri dari 1060 mata. Jumlah laki-laki 203 orang dan perempuan 327 orang. Umur berkisar antara 35 tahtm dan 78 talitin. Berdasmkan rasio CD horisontal pada nilai batas 0.4 didapatkan sensitivitas sebesar 79,77 % dan spesifisitas 47.44 %, sedangkan nilai duga untuk test positif sebesar 11.66 % dan 96,42 % untuk nilai duga negatif Nilai rasio kecenderungan uiitiik test positif adaiali sebesar 1.52 dan untuk test negatif 0.43. Dengan menggunakan nilai batas 0,5, sensitivitas turun menjadi 47,62 % sedangka spesifisiias iiaik menjadi 89.86 %, deinikian juga pada nilai batas 0,6,0,7 dan 0.8, sensitivitas turun tetapi spesifisitas naik. Berdasarkan rasio CD vertical didapatkan liasil yang sempa dengan rasio CD horisontaLyaitu sensitivitas sebesslr 79,76 O h dan spesifisitas 46,93 % pada nilai batas 0,4, sedangkan nilai duga positif sehesar 1 1 ,GG 5 dan iiilai d i p negatif96.42 %. Nilai rasio kecetiderungan positif sebesar 1 52 dan kecenderungan negatif sebesar 0,43. Pemeriksaan spesialis iiiata bedasarkan rasio CD saja ,maighasilkan sensitivitas sebesar 96,43 04 dan spesifisitas 8 1.86% pada nilai batas 0,4. Kesimpulan: llasil pcricliiiaii iiii ineskipuii tidak rnendapatkan liasil test yang ideal yaitu sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, tetapi masih sesuai dengan tujuan yaitu mendapatkan metode skriniiig dengan seiisitivitas yang cukup pada nilai batas 0,4, meskipim akan terdapat kasus .false psirive yang cukup besar akibat spesifisitas yang rendah. Jika digunakan nilai batas 0,5, mskipun jumlah false psifive lebih kecil, tetapi terdapat lebih banyak kasus POAG yang terlewatkan karena sensitivitasnya kbih reiidah. Berdasarkan adanya kenyataan bahwa pemeriksaan spesialis mata menghasilkan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, padahal kesqakatan antara pai-ainedis dan spesialis mata juga tkggi, ternyata terdapat hasil pemm'ksaan paramedis yaag tidak memuaskan. Hd ini perlti dilakukan penelitian lebih lanjut ttntuk mengetahui kernamptian yang sebenarnya dari paramedis uiituk inelakrikan skrining terhadap glaukoma primer sudut terbuka.
Kata Kunci : Glaukoma Primuer Sudut Terbuka,Skrining Paramedis,Pemeriksaan Opthalmoskopi Direk