Analisis biaya obat pasien rawat jalan melalui substitusi generik di RSU PKU Muhammadiyah Jogjakarta
YUNIARTI, Endang, Dr.Dra. Sri Suryawati, Apt
2001 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatBiaya obat masih merupakan komponen terbesar dalam struktur pembiayaan pelayanan kesehatan di Indonesia, sehingga pengendalian biaya obat dengan penggunaan obat generik akan meningkatkan efisiensi pembiayaan pelayanan kesehatan. Dalam upaya meningkatkan penggunaan obat generi k, RSU PKU Muhammadiyah Jogjakarta mengeluarkan Surat Keputusan Direksi No. 1329/EIV/ SK. 3.20V1999 dan No. 1330/E-IV/ SK. 3.2/II/1999 yang membolehkan Instalasi Farmasi melakukan substitusi obat paten menjadi obat generik apabila pasien menghendaki. Untuk menghindari turunnya pendapatan rumah sakit akibat substitusi generik, perlu dirancang skema pembiayaan yang rnemungkinkan rumah sakit memperoleh insentif keuangan dari pelaksanaan substitusi generik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis biaya obat pasien rawat jalan RSU PKU Muhammadiyah Jogjakarta dan merancang skema pembiayaan yang mendukung pelaksanaan substitusi generik di rumah sakit tersebut. Penelitian ini juga menganalisis pelaksanaan kebijakan substitusi generik di RSU PKU Muhammadiyah Jogjakarta. Penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimental dengan rancangan studi kasus yang bersifat analitik eksploratif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dokumen dan wawancara mendalam dengan personelpersonel yang berhubungan dengan implementasi kebij akan, serta survei sederhana kepada pasien rawat jalan RSU PKU Muhammadiyah Jogjakarta. Penurunan biaya obat akibat substitusi diuji kemaknaannya dengan t-test. Efektivitas penerapan kebijakan substitusi generik di RSU PKU Muhammadiyah dinilai dari pengaruh kebijakan terhadap persentase generik dan biaya peresepan. Hasil penelitian menunjukkan apabila substitusi generik dilakukan pada resep pasien rawat jalan akan terjadi penurunan biaya peresepan dengan amat sangat bermakna (p=O,OOO) dari Rp 35.042,- menjadi Rp 26.218 dan potential saving sebesar Rp 4.687.923,- untuk 531 peresepan, atau rata-rata Rp 8.824,- untuk satu peresepan. Tarif paket yang sesuai dengan kemampuan bayar pasien sebesar Rp 28.800,-. Selisih biaya obat yang diperoleh dapat digunakan sebagai insentif keuangan bagi rumah sakit. Penerapan kebijakan substitusi generik di RSU PKU Muhammadiyah menaikkan secara tidak bermakna (P=0,297) persentase brandname yang disubstitusi dari 2,56% menjadi 3,52%. Namun kenaikan ini tidak meningkatkan penggunaan obat generik yang justru turun tidak bermakna (P=0,062) dari 36,22% menjadi 3 1,55%. Terjadi kenaikan biaya peresepan secara bermakna (P=0,022) dari Rp. 22.990,OO tahun 1998 menjadi Rp. 28.403,OO pada tahun 2000.
Drug cost is the biggest component of cost of health service in Indonesia, so drug cost control through generic prescribing would increase efficiency of cost of health service. Making an effort to increase generic prescribing, PKU Muhammadiyah hospital in Jogiakarta published Administration Decision Letter No. 1329/E-IV/SK.3.2/11/199a9n d No. 133O/E-IV/SK.3.2/11/19w99h ich allow the Pharmacy Instalation substitutes branded-generic to generic if patient want it. Decreasing of hospital revenue could be avoided by a financing scheme which giving a financial incentive to the hospital. This study aimed to analyse drug cost of PKU Mubammadiyah hospital out patient and design a financing scheme which support generic substitution implementation on that hospital. This study also analysed efectivity of implementation of generic substitution polycy at PKU Muhammadiyah hospital. This study was designed as a quasi experimental case study analyticallj. and exploratively. The data gathering was done by observing documentation and interviewing the officers related to policy implementation, and also a simple suwey to outpatient of PKU Muhammadiyah hospital. The reducting of drug cost caused by generic substitution was statisticale analysed applying a t-test. The efectivity of implementation of generic substitution was evaluated by assessing influence of policy on generic prescription and drug cost. Result of the study showed that through generic substitution, drug cost was decrease very significantly (p=O,OOO) from Rp 35.042,- to Rp 26.218,- and the potential saving is Rp 4.687.923,- for 53 1 prescription or Rp 8.824.- per prescription. The package rate based on patient's ability to pay is Rp 28.800.-. The differences between drug cost and package rate could have been used as financial incentive to the hospital. Implementation of generic substitution policy at PKti Muhammadiyah hospital increased non-significantly (p=0,297) percentage of brand-name substituted from 2,56% to 3,52%. But, there is no increase in percentage of using generic medicine which even decrease non-significantly (p=0,062) from 36,22% to 3 1,55%. There is a significant increase (p=0,022) in prescription cost from Rp 22.990,- in 1998 to Rp 28.403,- in 2000.
Kata Kunci : Manajemen Obat,Biaya Obat,Pasien Rawat Jalan,Substitusi Generik, analysis, generic substitution, hospital