Laporkan Masalah

Pengaruh ketersediaan obat terhadap pola penggunaan obat pada lima penyakit di Puskesmas kota Palangkaraya

PRAWITASARI, Dewi, dr. Iwan Dwipraharto, M.Med.Sc.,PhD

2001 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Penggunaan obat tidak rasional merupakan salah satu persoalan utama di negara berkembang. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ketidaktepatan penggunaan obat secara signifjkan mempengarh mutu pelayanan kesehatan dan peningkatan anggaran pemerintah yang halokasikan untuk obat-obatan. Seiring dengan terjadinya krisis moneter tahun 1998 maka terdapat bantuan obat-obatan dari luar negeri diterima oleh Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketersediaan obat (temasuk obat bantuan Jepang) terhadap pola penggunaan obat pada lima penyakit Q 7 Puskesmas Kota Palangkaraya. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental / observasional dengan metode kuantitatif dan kualitatif, menggunakan rancangan cross - sectional. Data dianalisis secara deskriptif, uji Anova dan Chi-Square. Data peresepan dikumpulkan secara retrospektif pada periode 1 Januari 1998 sampai dengan 31 Desember 2000. Data diperoleh dari buku register rawat jalan, kertas resep yang meliputi data peresepan terhadap 5 jenis diagnosis yaitu diagnosis ISPA, infeksi usus, kulit infeksi, kulit alergi, serta sistem otot dan jaringan pengikat. Jumlah kasus yang diambil sebanyak 4560. Tingkat kecukupan obat di GFK & Puskesmas Kota Palangkaraya diperoleh melalui observasi dokumen persediaan obat di GF'K dan LPLPO di Puskesmas. Selain observasi dokumen dan pengumpulan data, penelitian ini dilengkapi pula dengan pengisian kuesioner oleh 9 dokter Puskesmas, 20 paramedis Puskesmas, 12 pengelola obat Puskesmas dan 1 Kepala Gudang Farmasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata jumlah obat yang diterima pasien di Puskesmas adalah 3,32 - 381 pada tahun 1998 dan sedikit menurun pada tahun 1999 menjadi 3,22 - 3,71 serta meningkat kembali 3,32 - 3,81 pada tahun 2000. Penggunaan antibiotika di Puskesmas bervariasi dari 5,41% - 90,54% pada tahun 1998 , pada tahun 1999 dan 2000 penggunaannya mengalami peningkatan menjadi 5,36% - 91,37% dan 5,06% - 94,05%. Penggunaan injeksi di Puskesmas juga bervariasi, namun dari tahun 1998 sampai dengan 2000 hampir tidak berubah. Tahun 1998 : 3,38%-37,84%, di tahun 1999 : 3,87% - 34,52%, dan di tahun 2000 : 2,08% - 34,52%. Tingkat kecukupan obat di GFK Palangkaraya dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2000 menunjukkan peningkatan. Pada tahun 1998 tingkat kecukupan bervariasi dari 2,55 bulan - 462,13 bulan menjadi 4,36 bulan - 811,68 bulan pada tahun 1999. Tingkat kecukupan obat tertinggi mencapai 1 1,41 bulan - 1032,16 bulan pada tahun 2000. Sedangkan tingkat kecukupan obat di Puskesmas variasinya tidak sebesar di GFK, yaitu tahun 1998 dari 1,3 bulan- 463,7 bulan, di tahun 1999 sedikit berkurang (2,25 bulan - 359,14 bulan) dan bertambah menjadi 2,l bulan - 623, 3 bulan pada tahun 2000. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pola penggunaan obat Q Puskesmas belum rasional. Adanya perubahan ketersediaan obat mempengaruhi pola penggunaan obat di Puskesmas pada terapi ISPA, kulit infeksi dan kulit alergi. Pola penggunaan obat tergantung pada ketersediaan obat di Puskesmas. Perencanaan dan pengelolaan obat di Kota Palangkaraya belum efisien

Irrational uses of drugs has been one of the major issues in developing countries. Various studies show that inappropriate of drugs might significantly affect the quality of health services and increase govermental budgets allocated on drugs. In line with the OccUTence of 1998 monetary crisis a great deal of foreign medical aids received by Indonesia. The objective of this research is to study the effects of the availability of drugs (include drugs donation from Japan) on the pattern of drugs uses in five diseases in 7 health centers in the City of Palangkaraya. This research is a non-experimental/observational in quant&itive as weU as qualitative methods, employing cross-sectional design The data were descripvely analized, Anova and Chi-Square tests were conducted. Prescription data were collected retrospectively on the period of January 1,1998, through December 31,2000. Data were obtained fiom register books of inpatients, prescriFon sheets including prescription data on 5 kinds of diagnosis, i.e upper respiratory tracts infections (ISPA), intestinal infections, skin alergies, and muscular systems and bracing tissues. 4560 cases were taken. Adequacy levels of drugs in GFKs and health centers in Palangkaraya City were obtained by observing documents of drugs stocks in GFKs and LPLPO in health centers. In addition to documents observations and data collection, ths research was also supplemented by completions of qdonnaks by 9 doctors, 20 paramedics, 20 drugs managers, 1 pharmaceutical warehouseman of health centers. Results of the research showing that the average number of drugs received by patients in health centers were 3.32 to 3.81 in 1998 and slightly decreased in 1999 to 3.22 to 3.71 and increased again to 3.32 to 3.81 in 2000. The uses of antibiotics in health centers varied from 5.41 to 90.54% in 1998 and in 1999 and 2000 incmsed by varying from 5.36 to 91.37o/b and fiom 5.06 to 94.05Y0, respectively. The uses of injections in health centers also varied, however, from 1998 to 2000 remained almost unchanged, in 1998: 3.38 to 37.84%, in 1999: 3.87 to 34.52%, and in 2000: 2.08 to 34.52%, respectively. Adequacy levels of drugs in GFKs in Palangkaraya fiom 1998 to 2000 showing an increase. In 1998 varied from 2.55 to 462.13 months, to 4.36 to 811.68 months in 1999. The highest adequacy level were 11.41 to 1032.16 months in 2000. Whereas adequacy levels of medicine in health centers did not vary as much as those in GFK, i.e., in 1998 were 1.3 to 463.7 months, in 1999 slightly decreased (2.25 to 359.14 months), and increased to 2.1 to 623.3 months in 2000. From the results of the research it may be concluded that the paUern of the uses of drugs in health centers were not yet rational. The presence of drugs availability change were affected the uses of drugs in health centers in acute respiratory tracts infections, skin infections and skin allergies, the pattern of the uses of drugs in health center depends on drug availability the planning. The planning and management of drugs in the City of Palangkaraya is not yet efficient.

Kata Kunci : Layanan Kesehatan,Ketersediaan Obat Puskesmas,Pola Penggunaan Obat, drugs uses pattern, drug availability


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.