WISATA: GAYA HIDUP BARU ELITE BUMIPUTERA DI JAWA TAHUN 1920 SAMPAI 1930-AN
IKA TANTRI APSITASARI, Prof. Dr. Bambang Purwanto
2014 | Skripsi | ILMU SEJARAHKegiatan wisata yang gencar dipromosikan saat ini bukanlah hal yang baru muncul. Pada tahun 1920 sampai 1930an, ketika fasilitas-fasilitas perkotaan Jawa telah memadai dan telah dibukanya tempat-tempat untuk berwisata, kegiatan tersebut marak dilakukan. Elite bumiputera atau priyayi adalah salah satu golongan yang sering berwisata. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan gaya hidup elite Jawa dalam merespon masuknya kebudayaan Barat yang semakin kuat di perkotaan Jawa tahun 1920 sampai 1930an melalui kegiatan wisata mereka. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode sejarah, terdiri dari pemilihan topik, pengumpulan sumber, kritik, interpretasi, dan penulisan. Sumber yang digunakan berupa sumber primer non lisan dan sumber sekunder berupa buku, artikel, biografi, dan lain sebagainya. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa berbagai kepentingan non ekonomis mendorong priyayi melakukan kegiatan wisata. Priyayi memiliki akses jenis wisata yang lebih lebar daripada rakyat kebanyakan. Mereka melakukan jenis wisata lama maupun baru, dan ada kalanya menggabungkan keduanya. Priyayi senantiasa menunjukkan status dalam atribut-atribut yang digunakan selama berwisata. Diperoleh pula gambaran bahwa dengan kemampuan ekonomi yang sama priyayi di kota gubernemen mengadopsi gaya wisata Barat lebih besar daripada priyayi di kota kerajaan.
Tourism lately promoted by government is not a new thing. In 1920 to 1930s, when towns have had enough facilities and tourism objects have been opened, many people attracted to do tourism activities. Indigenous elite or priyayi was a social class who often did tourism activities. This research aims to describe Javanese elite’s lifestyle to respond the massive internalization of western culture in Java towns in 1920 to 1930s by their tourism activities. It employs historical method, consist of topic selection, heuristic, verification, interpretation, and historiography. It uses non oral primary resources and secondary resources such as books, articles, biography, and etc. Result of the research is that many non economical reasons pushed priyayi to do tourism activities. They accessed wider tourism activities compared to ordinary people. They did both of old and new kind of tourism, and sometimes they combined them. Priyayi always show their status by the attributes they used. This research also pictured that by their same wealthy level, priyayi in gubernemen towns adopted more western tourism compared to priyayi in kingdom towns did.
Kata Kunci : elite, priyayi, wisata, gaya hidup, Jawa.