NOVEL MAHAR CINTA GANDORIAH KARYA MARDHIYAN NOVITA M.Z: ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA IAN WATT
EKA DAMAYANTI, Drs. Rudi Ekasiswanto, M.Hum.
2014 | Skripsi | SASTRA INDONESIAAnalisis terhadap novel Mahar Cinta Gandoriah karya Mardhiyan Novita M.Z bertujuan menunjukkan adanya cerminan persoalan sosial dalam karya sastra, terutama persoalan pertentangan terhadap suatu tradisi. Penelitian ini bertujuan pula mengungkapkan bentuk pertentangan tersebut. Teori yang digunakan adalah teori sosiologi sastra Ian Watt yang memiliki tiga fokus penelitian yaitu konteks sosial pengarang, cerminan masyarakat, dan fungsi sosial sastra. Teks sastra diasumsikan sebagai produk sosial budaya yang mencerminkan kehidupan masyarakat. Realitas sosial yang dicerminkan dalam karya sastra merupakan fakta yang sudah dibingkai dalam bentuk fiksi. Bentuk fakta yang difiksikan tidak terlepas dari hal yang sifatnya faktual. Persoalan faktual misalnya persoalan tentang pertentangan pelaksanaan tradisi bajapuik. Berdasarkan faktualitas persoalan yang diangkat dalam karya sastra mau tidak mau karya sastra harus mampu mencerminkan masyarakat dan memiliki fungsi sosial. Pengangkatan persoalan faktual dalam sastra tidak terlepas dari konteks sosial pengarangnya. Konteks sosial pengarang, cerminan masyarakat, dan fungsi sosial sastra memiliki relasi yang mesra. Hasil penelitian menunjukkan adanya hal yang memengaruhi pertentangan pelaksaan tradisi bajapuik beserta dinamika penentuan harga lelaki dalam pernikahan khas orang Minangkabau di Pariaman dalam novel ini. Terdapat tiga pihak dalam hal pertentangan tradisi bajapuik yaitu pihak yang ragu-ragu menentang atau mengikuti, pihak yang mendukung, dan pihak yang menentangnya sama sekali. Dari pihak yang mendukung pelaksanaan tradisi bajapuik tidak serta merta terlepas dari persoalan. Penentuan harga lelaki dalam tradisi bajapuik pun mengalami dilema. Gelar kebangsawanan, pendidikan, dan kekayaan menjadi tiga hal yang tidak bisa dilepaskan dalam penentuan harga lelaki dalam tradisi bajapuik. Kepemilikan ketiga hal tersebut atau salah satunya atau dua di antaranya justru menghadapi persoalan tersendiri dalam penentuan harga lelaki dalam tradisi bajapuik. Kehadiran agama Islam sesudah mengakar kuatnya tradisi bajapuik juga mengalami persoalan tersendiri. Hubungan antara agama Islam dan tradisi bajapuik pun hanya memiliki dua pilihan yaitu dilematik atau romantik. Demikianlah hubunganan konteks sosial pengarang, cerminan masyarakat, dan fungsi sosial sastra bersifat dialektik.
This analysis on novel entitled Mahar Cinta Gandoriah by Mardhiyan Novita MZ aims to show the reflection of social issue in literature, notably the conflict issue toward a tradition. This research attempts to investigate the forms of conflict on the novel. The theory used in this research is Ian Watt‟s sociology of literature which has three research focuses, there are: social context of the author, reflection of society, and social function of literature. Literary text is assumed as a product of socio-culture which reflects the life of a society. Social reality reflected on a literary text is a reality framed into a fiction. A fiction cannot be separated from the factual one. The conflict on bajupuik tradition is one of factual issue appointed on the novel. Based on the factual issue appointed on an literary work, it is inevitably that literature should be able to reflect the society and it should has a social function. The factual issue appoited on a literary text cannot be separated from its author‟s social context. Social context of the author, reflection of society, and social function of literature have an intimate relation. The result of this research showed that there are some factors which influence conflict on bajupuik tradition, also the dynamics of man pricing in Minangese marriage on the novel. There are three sides in the conflict: those who doubtful against the tradition, the pro sides, and those who oppose the tradition. Those who support the practice of bajapuik tradition not necessarily detached from the problem. The man pricing on bajapuik tradition got its dilemma. Aristocratic title, education, and wealth are three main points which cannot be separated from the man pricing on bajapuik tradition. Having those three things or one or two of those three things precisely give rise to problem on the man pricing. The presence of Islam after the entrenced of bajapuik tradition also experienced a certain problem. The relation between Islam and bajapuik tradition only has two choices; dilemmatic or romantic. Thus, the relation of author‟s social context, reflection of society, and social function of literature is a dialectical tone.
Kata Kunci : sosiologi sastra, tradisi bajapuik, Pariaman, resistensi, dialektik