Laporkan Masalah

Pengembangan Sistem Perawatan pada Komponen Sistem Pendingin Lokomotif dengan Menggunakan Pendekatan Proportional Hazard Method (PHM)

DHANES TANTYO PUSPONEGORO, Andi Rahadian Wijaya., S.T., M.Sc.,Lic.,Ph.D.

2014 | Skripsi | TEKNIK INDUSTRI

Sistem pendingin lokomotif merupakan sistem yang berfungsi menjaga temperatur mesin lokomotif dalam kondisi yang ideal. Perawatan sistem pendingin perlu dilakukan, apabila terjadi kebocoran pada sistem pendingin akan terjadi pemanasan mesin yang berlebihan (overheating) dan mengakibatkan gangguan, sehingga mesin lokomotif tidak dapat berfungsi. Standar operasional untuk perawatan sistem pendingin tiap Dipo sama. Namun, berdasarkan data historis, terdapat pola waktu kerusakan yang berbeda dari setiap Dipo berupa kebocoran air radiotaor untuk pendingin akibat korosif, hal ini dapat diprediksi perlakuan dari setiap Dipo mempunyai faktor-faktor khusus yang berbeda dalam merawat sistem pendingin. Penelitian ini berupaya untuk melihat analisis faktor yang berpengaruh terhadap kebocoran air radiator pada sistem pendingin lokomotif masing-masing Dipo. Metode yang digunakan adalah proportional hazard untuk menentukan faktor yang mempengaruhi kerusakan sistem pendingin lokomotif. Objek yang dilibatkan adalah data historis kerusakan komponen sistem pendingin akibat kebocoran radiator yang mengakibatkan overheat. Data tersebut diambil dari 7 Dipo diantaranya Sidotopo, Jatinegara, Cirebon, Purwokerto, Yogyakarta, Semarang Poncol, dan Bandung. Data masing-masing Dipo disusun dengan melihat laju kegagalan sistem pendingin berdasarkan satuan hari, kemudian dibentuk distribusi weibull sebagai parameter kegagalan. Variabel independen yang digunakan yaitu kadar SO4, tingkat pH, kadar Dissolved Oxygen, kualitas perawatan, dan tahun pembuatan. Dari hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa variabel yang paling berpengaruh dari variabel yang mempengaruhi lama kerusakan sistem pendingin lokomotif pada model proportional hazard adalah faktor kualitas perbaikan akhir dengan nilai β yaitu -0.707. Selain itu, dipo yang mempunyai probabilitas kerusakan sistem pendingin lokomotif paling tinggi adalah dipo 3 yaitu Cirebon, sedangkan yang mempunyai probabilitas kerusakan sistem pendingin paling rendah adalah dipo 4 yaitu Jatinegara.

Locomotive cooling system is a system that serves to keep the engine in a locomotive engine temperature to ideal conditions. Cooling system must be done, if there occur a leak in the cooling system, the engine will be overheating, so the engine locomotive can’t operation. Every dipo has a preventive maintenance of operational standards within the same conditions cooling system. However, based on historical data, there is a different time pattern of failure from any dipo in the water leak radiator for cooling, it can be predicted treatment of each dipo has specific factors that differ in treating cooling system to function properly. Therefore, this research analysis factors of influence the water leak in the radiator cooling system every locomotive dipo . This research used survival analysis methods were performed using Cox Proportional Hazard models to determine the factors. The results showed that the most influential variable from the variables that affect the cooling system damage locomotive proportional hazard models is the quality factor, the final improvements to the value of β is -0707 . In addition, the dipo which has a probability of failure the cooling system is the highest locomotive dipo 3 Cirebon, then the probability of failure to the cooling system has the lowest is dipo 4 Jatinegara.

Kata Kunci : Sistem Pendingin, Perawatan, cox proportional hazard, Lokomotif


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.