PENGARUH PEMBERIAN INFORMASI OBAT TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN DI APOTEK UGM YOGYAKARTA
ANTRASITA AGUSTINA, Anna Wahyuni W., S.Farm, M.PH., Apt
2014 | Skripsi | FARMASIPengetahuan pasien yang kurang dalam hal obat dapat menimbulkan masalah seperti tidak efektifnya terapi, minimnya kepatuhan pasien bahkan munculnya risiko overdosis bila obat tidak dikonsumsi tepat dosis. Oleh karenanya, melalui penelitian ini dilakukan penilaian keefektifan pemberian informasi obat dalam meningkatkan pengetahuan pasien. Hasil dari penelitian diharapkan dapat menjadi acuan agar apoteker mampu memberikan informasi obat dengan maksimal. Penelitian menggunakan kuesioner yang diisi berdasarkan jawaban 100 pasien yang membawa resep dengan 3-5 jenis obat ke Apotek UGM Yogyakarta dari tanggal 10 Maret sampai 2 Mei 2014. Sampel dipilih berdasarkan accidental sampling. Pre dan post test diberikan untuk melihat pengaruh intervensi berupa pemberian informasi obat oleh apoteker. Hasil penelitian kemudian dinilai dengan skala Likert. Uji Wilcoxon dilakukan untuk melihat pengaruh pemberian informasi obat. Karakteristik pasien juga dianalisis dengan chi square untuk melihat pengaruhnya pada peningkatan pengetahuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 45 dari 100 pasien memiliki pengetahuan yang rendah sebelum intervensi dan 100% pasien memiliki pengetahuan yang sangat tinggi setelah intervensi. Nama obat, dosis, dan cara penyimpanan obat merupakan informasi yang kurang diketahui pasien sebelum intervensi. Peningkatan pengetahuan pada 46% pasien tergolong tinggi dan pada 41% pasien tergolong sangat tinggi. Pemberian intervensi secara signifikan (p=0,000) meningkatkan pengetahuan pasien tentang obat yang akan dikonsumsinya. Hubungan antara peningkatan pengetahuan pasien dengan karakteristik pendidikan terakhir dan usia adalah signifikan, namun tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan karakteristik jenis kelamin, pekerjaan, dan banyaknya jenis obat.
The lack of patient’s knowledge in medication may cause some problems such as ineffectiveness of therapy, reduction of patient’s compliance and even an emergence of overdose hazard when the medicines are taken in the wrong dose. Therefore, a research to evaluate the effectiveness of drug information giving in the promotion of patient’s knowledge need to be done. The results of this research are hopefully could be the reference among pharmacists to give drug information properly. Research requires questionnaire which is filled based on the answer of 100 patients who brought a prescription that consist of 3-5 types of drugs to Apotek UGM Yogyakarta from 10 March to 2 May 2014. Samples are selected based on accidental sampling. Pre and post test are given to evaluate the influence of drug information giving by pharmacist. The results then scored by Likert scale. Wilcoxon test is used to evaluate the influence of intervention which is drug information giving. Patient’s characteristics also analyzed with chi square to evaluate its influence on knowledge enhancement. The results show that 45 of 100 patients have a low knowledge level before intervention and 100% patients have a very high knowledge level after intervention. Name of drugs, dosage, and drugs storage method are informations that patients know poorly before intervention. Knowledge enhancement on 46% patients are high and on 41% patients are very high. Intervention giving is significantly (p=0,000) increase patient’s knowledge about their treatments. Correlation between patient’s knowledge enhancement and age characteristic is significant, the same result is shown on patient’s school level characteristic. But these significances are not found in gender, type of occupation and drug types characteristics.
Kata Kunci : Informasi obat, Pengetahuan, Pasien, Apotek