Laporkan Masalah

KEMISKINAN MASYARAKAT NELAYAN DESA SEPEMPANG, KABUPATEN NATUNA, KEPULAUAN RIAU

RUGUN AMELIA K SIMANJUNTAK, Agus Indiyanto, S.Sos., M.Si

2014 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA

Kemiskinan bukan lagi merupakan gejala baru yang muncul ditengah tengah masyarakat Indonesia. Bayang-bayang ketidakpastian kehidupan kerap menghampiri kehidupan masyarakat khususnya kalangan nelayan. Kemiskinan seperti menjadi suatu kondisi yang sangat pasti dalam kehidupan nelayan. Tatanan struktural dan budaya menjadi bagian dari masalah kemiskinan di kalangan nelayan. Hal tersebut membentuk ciri khas kemiskinan yang ada pada kehidupan nelayan. Salah satunya dapat dilihat melalui kehidupan masyarakat nelayan di Natuna. Sebagai salah satu kabupaten yang terletak di Kepulauan Riau, Kabupaten Natuna tidak dapat terhindar dari jerat kemiskinan. Meskipun memiliki sumber daya alam yang melimpah, sebagian besar masyarakat Natuna masih berada pada garis kemiskinan. Kehidupan masyarakat Natuna dapat dilihat melalui kehidupan masyarakat Desa Sepempang. Masyarakat Desa Sepempang yang berjumlah 1.459 jiwa memiliki jumlah keluarga miskin sebanyak 133 keluarga. Fakta menunjukkan dari jumlah keluarga miskin tersebut sebagaian besar bekerja sebagai nelayan yakni lebih kurang 100 kepala keluarga. Hal ini menyebabkan Desa Sepempang tercatat sebagai salah satu desa nelayan yang penduduknya berada dalam kategori miskin. Kemiskinan tersebut banyak terjadi karena keterbatasan dan ketidakberdayaan masyarakat dalam mengelola sumber daya alam yang tersedia. Terbatasanya aset dan akses menjadi salah satu dampak ketidakerdayaan masyarakat dalam peningkatan ekonomi meraka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan analisis deskriptif di mana penelitian ini mencoba memberikan gambaran mengenai kehidupan masyarakat nelayan di daerah Natuna. Melalui gambaran kehidupan tersebut dapat diketahui apa yang menjadi penyebab terjadinya kemiskinan pada masyarakat nelayan Desa Sepempang. Analisis meliputi faktor faktor penyebab kemiskinan dan gambaran kehidupan nelayan Sepempang. Adapaun tahapan penelitian berupa persiapan, pengumpulan data, dan pengolahan serta pengkajian data penelitian. Pengumpulan data lapangan dengan melakukan observasi dan wawancara dengan tiga narasumber utama dan beberapa narasumber yang dipilih secara acak sebagai sampel keluarga miskin nelayan. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, maka dapat disimpulkan bahawa kemiskinanan nelayan Sepempang adalah pertama, kemiskinan yang disebabkan oleh tatanan struktural dan budaya pada masyarakat nelayan. Kedua, kemiskinan juga hadir karena keterbatasan akses dan aset dilakangan nelayan. Ketiga, keterbatasan yang dimiliki oleh nelayan membuat ketergantungan nelayan terhadap pemilik modal sehingga membuat kemiskinan semakin tidak terhindarkan oleh nelayan. Beberapa faktor yang membentuk kemiskinan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi faktor ekonomi dan sosial pembentuk kemiskinan di kalangan nelayan. Oleh karena itu, perlu diadakan kajian lebih lanjut mengenai kemiskinan di kalangan nelayan karena pada kenyataannya kemiskinan pada masyarakat adalah berbeda-beda.

Poverty is not a new phenomenon that emerges in the midst of Indonesian people. The uncertainties of life often come to the life of the society especially the fishermen. Poverty seems to be a condition that surely happens to fishermen’s lives. The arrangement of structural and cultural becomes a part of poverty problem among fishermen. This makes a typical poverty that exists in fishermen’s lives. One of them can be seen through the life of fishermen society in Natuna, as one of the regions that is located in Riau Islands. Natuna Region cannot avoid the poverty. Although they have rich natural resources, most of them are still categorized as poor. Natuna society life can be seen from the life of people of Sepempang village. People of Sepempang village that the total is 1.459, have poor family as many as 133 families. The fact shows that almost all of the poor families work as fishermen and there are about 100 families. This causes Sepempang Village as one of the fishing villages that are categorized as destitute inhabitants. This poverty occurs due to the limitations and incapacities of people in managing natural resources that are available. Limited asset and access is one of the effects of incapability of people in developing their economy. This research used qualitative method by using descriptive analysis in which the researcher attempts to provide the description of Natuna fishermen’s lives. From this description, it can be recognized what causes poverty that happens to fishermen of Sepempang village. The analysis includes some factors causing poverty and the description of Sepempang fishermen’s lives. The steps of the study are preparation, data collection, organizing and also reviewing the data. Data collection is conducted through observation and interview with three key informants and some other informants that are chosen randomly as the sample of poor fishermen family. Based on the research, it can be concluded that poverty of Sepempang fishermen is affected by some factors. First, poverty is caused by the arrangement of structural and cultural of the society. Second, poverty occurs due to the limited access and asset of them. Third, fishermen’s limitations make the fishermen depend on the capital so that poverty cannot be avoided. Several factors that cause poverty can be classified into economic and social factors which form poverty among fishermen. Hence, there should be a further study of poverty among fishermen; in fact poverty of each society is varied.

Kata Kunci : Natuna, Nelayan, Kemiskinan, Belenggu Kemiskinan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.