GROUNDWATER POLLUTION HAZARD ASSESSMENT IN YOGYAKARTA CITY, YOGYAKARTA SPECIAL PROVINCE, INDONESIA
PISETH SENSAMRAS, Dr. Ir. Heru Hendrayana
2014 | Tesis | S2 Teknik GeologiDikenal sebagai salah satu kota besar di Indonesia , Kota Yogyakarta memerlukan sumber daya air tanah yang banyak karena sekitar 70 % dari seluruh populasi menggunakan sumur dangkal, sehingga kualitas air tanah yang aman harus dipertimbangkan. Prediksi terjadinya bahaya polusi air tanah adalah kunci yang bermanfaat untuk manajemen kualitas air tanah yang berkelanjutan. Penelitian ini telah dilakukan dalam tiga tujuan utama: penentuan kerentanan air tanah, estimasi pemuatan nitrat dan pencemaran organik, dan penilaian bahaya polusi air tanah. Kerentanan air tanah dinilai dengan metode SVV (Kerentanan Vertikal Simpel, Putra 2007). Muatan nitrat dan pencemaran kimia organik dianalisis dengan proses bertahap (Johasson dan Hirata, 2002; Putra, 2007). Selain itu, bahaya pencemaran air tanah adalah kombinasi dari kerentanan intrinsik air tanah dan muatan pencemaran. Sebagai hasilnya, air tanah di sebagian besar daerah penelitian diperkirakan akan tercemar oleh nitrat dalam tingkat yang cukup tinggi terutama di daerah tanpa sistem pembuangan limbah. Untuk kontaminasi bahan kimia organik, sangat cukup dan memungkinkan untuk hadir dalam air tanah di daerah dekat lokasi industri dan stasiun gas kereta api. Hasil kualitas air tanah menunjukkan bahwa konsentrasi nitrat berkisar 10,2-208,1 mg / L. Seperti yang diperkirakan, zona merah mewakili tingkat polusi yang cukup tinggi terutama terdiri dari nitrat lebih tinggi dari 100 mg / L , dan konsentrasi nitrat dalam sebagian besar sampel dalam zona bahaya polusi moderat adalah 50-100 mg / L. Kurang dari 50 mg / L nitrat hadir di daerah dengan potensi polusi cukup rendah. Berdasarkan rasio nitrat dan klorida, sumber nitrat adalah limbah feses yang berasal dari kegagalan sistem sanitasi on-site. Untuk bahan kimia organik, pengukuran TOC (Total Organic Carbon) dianalisis. Konsentrasi yang sangat tinggi dari dua sampel sampai 1510 mg / L adalah dekat stasiun kereta api Yogyakarta. Hal ini terjadi karena kebocoran jangka panjang dari tangki bahan bakar penyimpanan bawah tanah pembuangan minyak kereta api sejak tahun 1998. Kesimpulannya, peta bahaya pencemaran air tanah yang diterima karena probabilitas terjadinya polusi dan hasil analisis air tanah yang cocok. Walaupun tidak benar -benar cocok, tetapi setidaknya memberikan resiko yang terukur terkait dengan kemungkinan polusi. Namun demikian, untuk mendapatkan aplikasi yang tepat dari peta ini, analisis kualitas air tanah harus dilakukan karena penerapan berbagai sumber di permukaan tanah sangat dinamis dan sulit untuk diperkirakan dengan baik.
Known as one of big cities in Indonesia, Yogyakarta City requires extensive groundwater resource since around 70% of whole populations are using shallow wells, so safe groundwater quality should be considered. The prediction of occurrence of groundwater pollution hazard is the beneficial key for sustainable groundwater quality management. This research has been conducted in term of three main objectives: determination of groundwater vulnerability, estimation of nitrate and organic chemical contaminant loading, and assessment of groundwater pollution hazard. Groundwater vulnerability is assessed by SVV method (Simple Vertical Vulnerability, Putra 2007). Nitrate and organic chemical contaminant loads are analyzed by stepwise processes (Johasson and Hirata, 2002; Putra, 2007). Moreover, groundwater pollution hazard is the combination of intrinsic groundwater vulnerability and contaminant loading. As the result, groundwater in most parts of study area is predicted to be polluted by nitrate in moderately high rate especially in the area without sewage system. For organic chemical contamination, it is highly and moderately possible to present in groundwater in the area nearby industrial locations and train-gas stations, respectively. The result of groundwater quality shows that nitrate concentration ranges from 10.2 – 208.1 mg/L. As predicted, red zone representing moderately high pollution rate mainly consists of nitrate higher than 100 mg/L, and nitrate concentration in majority of samples in moderate pollution hazard zone is from 50 – 100 mg/L. Less than 50 mg/L of nitrate presents in the area with moderately low pollution potential. Base on nitrate and chloride ratio, the source of nitrate is faecal waste coming from failure of on-site sanitation systems. For organic chemicals, the measurement of TOC (Total Organic Carbon) is analyzed. Extremely high concentration of two samples up to 1510 mg/L is nearby the Yogyakarta Train Station. This has been due to the long term leakage of the underground fuel-storage tank of train oil disposal since 1998. In conclusion, groundwater pollution hazard maps are accepted since pollution occurrence probability and the result of groundwater analysis are reasonably matched. Even it is not well matched, but it at least gives measured risk related with possible pollution. Nevertheless, to get the proper applications of these maps, the groundwater quality analysis should be done since the application of various sources on the ground surface are very dynamic and are hard to be well estimated.
Kata Kunci : Kerentanan Air Tanah, Muatan Pencemaran, Bencana Polusi Air Tanah