TINJAUAN MENGENAI COMMON AGRICULTURAL POLICY UNI EROPA TERHADAP AGREEMENT ON AGRICULTURE WTO
Fenita Oktaviana, Prof. M. Hawin, S.H., LL.M, Ph.D
2014 | Tesis | S2 Magister HukumPerundingan Uruguay Round merupakan perundingan yang paling kontroversi, karena dalam perundingan tersebut terdapat 2 kekuatan ekonomi terbesar dunia, yang memiliki kepentingan startegis dalam perdagangan internasional. Adapun isu sensitif yang dibahas dalam perundingan Uruguay Round adalah masalah pertanian. Salah satu kekuatan besar tersebut adalah Uni Eropa dengan Common Agricultural Policy yang mana salah tujuannya tercantum dalam Title II Agriculture Article 39 The Treaty of Rome adalah melindungi kesejahteraan petani. Uni Eropa mengeluarkan anggaran pertanian tiap tahunnya sebesar 40% dari anggaran tahunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari CAP terhadap negara berkembang, serta upaya yang dilakukan oleh negara berkembang dalam menghadapi CAP, dan bentuk pelanggaran yang dilakukan CAP terhadap AoA. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan hukum normatif dengan cara mengumpulkan dan menelaah data sekunder yang diperoleh di lapangan melalui penelitian kepustakaan serta menggunakan pendekatan sejarah. Setelah dilakukan penelitian maka, hasil yang diperoleh adalah Uni Eropa melakukan tindakan diskriminasi atas produk cocoa untuk ACP dan Indonesia. ACP mendapatkan perlakuan bebas tariff yakni 0% karena negara bekas kolonial, dan Indonesia dikenakan tariff beragam, dan UE memberikan potongan tariff cocoa Indonesia berdasarkan GSP. Hambatan non-tariff pun dilakukan oleh Uni Eropa dalam hal akses pasar yang mana ketatnya kebijakan sanitasi yang diterapkan membuat hambatan bagi negara berkembang untuk mengakses ke pasar Uni Eropa. Produk Indonesia yang mengalami masalah sanitasi adalah pala sehingga membuat ekspor pala turun drastis pada 2013, UE menemukan kandungan aflatoxin yang mengancam kesehatan. Subsidi ekspor UE telah mengalami penurunan yang signifikan sebesar € 1,400,000,- pada 2009/2010 namun tetap menguntungkan petani di UE. Bantuan domestik UE, untuk amber box telah mengalami penurunan juga, namun untuk AMS cenderung stabil dari kurun waktu waktu 2004/2005 hingga 2009/2010 tingkatan AMS tidak beranjak dari € 71,000,000,-. Hal tersebut telah menunjukkan bahwa komitmen pengurangan AMS Uni Eropa masih sedikit.
The negotiation of Uruguay Round is the most controversial negotiation, because there are 2 largest economic powers in the world, which have strategic interest in international trade. Sensitive issue in the Uruguay Round negotiation is the agricultural problem. One of the economic powers is European Union (EU). UE have Common Agricultural Policy which one of the objectives mentioned in Title II Agriculture Article 39 of The Treaty of Rome is protecting the farmer’s welfare. Every year EU spend 40% of the annual budget for agriculture budget. The purposes of this research were to determine the impact of the CAP for developing countries, as well as the efforts made by developing countries in the face of the CAP, and the form of CAP's abuses. In this research, researcher use a normative law by collecting and reviewing secondary data obtained through library research and historical approach. Having done the research, the results obtained are EU discriminated for cocoa product from ACP and Indonesia. ACP get free tariff until 0% because they are excolonial country of EU. Indonesia get variant tariff and EU gives reduction tariff for Indonesia's cocoa with GSP. Non-tariff barriers undertaken by the EU in terms of market access where strict sanitation policies are applied to make barriers for developing countries to access the EU market. Nutmeg is one of the Indonesian products which have sanitation problem in EU. In 2013, EU found aflatoxin in Indonesia’s nutmeg which harmful for health. As the result, Indonesia's nutmeg export decrease in very low level. EU subsidy export encounter a significant decrease of € 1,400,000,- in 2009/2010 but it still make surplus for EU’s farmers. EU’s domestic support, for amber box has decreased, but for AMS tends to be stable from 2004/2005 until 2009/2010. The AMS levels did not move from € 71,000,000,-. It indicates that EU’s commitment about AMS reduction is still low
Kata Kunci : Agreement on Agriculture, WTO, Common Agricultural Policy