Perbandingan Penyembuhan Luka Bakar Derajat II Tikus Wistar yang Mendapatkan Lisat Platelet rich Plasma dan Putih Telur
Pungky Prasetyo, Dr. dr. Yohanes Widodo Wirohadidjojo,Sp.KK(K).
2014 | Tesis | S2 Ked.Klinik/MS-PPDSLatar Belakang : Laporan World Health Organization (WHO) menunjukkan angka mortalitas luka bakar mencapai 300.000 pertahun untuk seluruh dunia. Kerusakan jaringan akibat luka bakar mengakibatkan gangguan suplai nutrisi, oksigen, serta proses regulasi cairan tubuh dan suhu pada kulit. Kondisi ini menjadikan durasi penyembuhan luka bakar berlangsung lama. Modifikasi re-vaskularisasi jejaring kapiler dan re-epitelialisasi kulit banyak diteliti pada kasus luka bakar untuk memperpendek durasi penyembuhan luka. Metode yang sedang banyak diteliti untuk modifikasi re-vaskularisasi dan re-epitelialisasi adalah penggunaan faktor pertumbuhan. Contoh sumber faktor pertumbuhan adalah plateletrich plasma (PRP) dan platelet-rich fibrin (PRF), yang bisa dibuat dari darah pasien sendiri. Telur merupakan bahan yang mudah didapatkan dan sudah sejak lama dimanfaatkan untuk penyembuhan luka bakar. Putih telur mengandung lipida yang memiliki kemampuan seperti faktor pertumbuhan. Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian lisat PRF dan putih telur terhadap penyembuhan luka bakar derajat II pada tikus dengan melihat re-epitelialisasi secara klinis dan histologis serta pertumbuhan kembali bulu tikus. Metode : Luka bakar derajat II dibuat pada 3 lokasi di punggung 30 ekor tikus wistar betina yang terbagi dalam 3 kelompok, yakni kontrol, injeksi putih telur, dan injeksi PRF. Pengukuran penurunan luas luka dinilai dari foto yang diambil tiap hari. Pengukuran persentase re-epithelialisasi secara histologis dilakukan pada sediaan biopsi yang diambil pada hari ke-7, 14, dan 21. Pengukuran luas area pertumbuhan kembali bulu tikus diukur dari selisih luas luka awal dan akhir penelitian. Analisis statistik menggunakan uji ANOVA-1 Arah dan Friedman. Tingkat kemaknaan diperoleh pada p<0,05. Hasil : Tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada penurunan luas luka bakar antara kelompok kontrol dengan kelompok yang menerima lisat PRF atau putih telur (p>0,05). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada persentase re-epitelialisasi secara histologis antara kelompok kontrol dengan kelompok yang menerima lisat PRF atau putih telur (p>0,05). Jumlah subyek dengan re-epitelialisasi komplit di hari ke-14 pada kelompok lisat PRF lebih banyak daripada kelompok putih telur dan kontrol. Terdapat perbedaan bermakna pada luas area pertumbuhan kembali bulu tikus antara kelompok lisat PRF dengan kelompok yang kontrol dan putih telur (p>0,05). Kesimpulan : Pemberian lisat PRF lebih unggul daripada putih telur untuk penyembuhan luka bakar derajat II pada tikus
Background : World Health Organization (WHO) report shows the mortality index of burns is about 300,000 per year. Burn on skin will cause tissue damage that lead to disruption of supply of nutrients and oxygen, and also regulation of body fluids and temperature. These conditions will delay the healing process of the burn wound. The use of growth factors that induce faster re-epithelialization and re-vascularization will shorten the duration of burn healing. Platelet-rich plasma (PRP) and platelet-rich fibrin (PRF) are the source of growth factors, which can be made from a patient's own blood. Egg is easy to get and has long been used for healing burns. Egg-whites contain a lipid that has the ability like growth factor. Objective : Determine the effect of PRF lysate and egg-whites to the second-degree burn wound healing in rat through observation of re-epithelialization (clinically and histologically) and hair regrowth. Method : Three second degree burn wounds were produced and the rats were divided into three groups according to treatment including PRF lysate, egg-white, and control. The decrease of wound areas were measured from photograph taken everyday. The epithelialization were also measured from the histological slides taken by biopsy on day 7, 14, and 21. The hair regrowth areas were measured from the diffrence between wound areas on the first and last day of the research. One-way ANOVA and Friedman statistical analysis were used to find the difference between groups with a significant value of p<0.05. Result : There is no significant differences on re-epithelialization, either clinically or histologically, between control, PRF lysate, and egg-white group (p>0.05). Subjects with complete re-epithelialization on day 14 were highest on PRF lysate group. There is a significant difference on hair regrowth between PRF lysate group vs egg-white and control. Conclusion : PRF lysate is superior than egg-white for the second degree burn wound healing in rat
Kata Kunci : Luka bakar, PRF, Putih telur