PROSES KETERLIBATAN ANAK MENJADI PEKERJA RUMAH TANGGA (Studi Pada Pekerja Rumah Tangga Anak di Kota Bandung, Jawa Barat)
ELMI FRIDA PURBA, Dr. Hempri Suyatna, M.Si.
2014 | Tesis | S2 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAANPekerja anak merupakan masalah sosial yang terjadi di masyarakat, masih banyaknya anak bekerja di sektor informal yaitu PRT (Pembantu Rumah Tangga). Menurut Konvensi ILO No.182 yang telah diratifikasi Indonesia dengan Undang-Undang No.1 tahun 2000 bahwa pekerja anak di sektor informal yaitu PRT termasuk kategori kondisi pekerjaan terburuk dan dilarang dilakukan oleh anak usia di bawah 18 tahun, karena berdampak buruk pada perkembangan anak, kesehatan dan kerentanan terhadap putus sekolah, kekerasan fisik, psikis dan human trafficking. Masuknya anak bekerja menjadi PRT karena faktor dorongan lingkungan internal dan eksternal anak melalui penyampaian informasi pekerjaan PRT, diajak dan direkomendasikan kepada majikan agar diterima bekerja, proses ini yang dilakukan oleh aktor sebagai pihak perantara, dimana aktor yang dimaksud adalah orang-orang berada dalam lingkungan internal dan eksternal anak tersebut. Peran aktif aktor-aktor tersebut hingga anak masuk pada proses keterlibatan informal anak menjadi PRT di Kota Bandung, bahkan aktor paling berperan adalah saudara atau kerabat PRTA dalam garis keturunan sehingga pekerjaan PRT merupakan pekerjaan yang dilakukan secara turun temurun atau di kaderisasi, terlihat menolong tetapi anak menjadi korban dalam hal ini. Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Dinas Sosial Kota Bandung dalam upaya mengatasi pekerja anak PRT melalui kerjasama kemitraan dengan lembaga LAHA (Lembaga Advokasi Hak Anak) yang secara khusus menangani pekerja anak PRT di Kota Bandung, namun angka pekerja anak PRT masih tetap mengalami peningkatan. Hal ini merupakan masih menjadi masalah yang serius mengenai pekerja anak PRT di Kota Bandung maka dibutuhkan kerjasama oleh semua pihak untuk mengatasinya. Metode penelitian ini adalah metode fenomenologi dimana mendeskripsikan tentang fenomena pekerja anak PRT di Kota Bandung melalui proses keterlibatan informal yang dilakukan oleh aktor. Aktor dimaksud adalah PRTA, orang tua, saudara, teman dan tetangga, mereka sebagai informan dalam penelitian ini hingga menemukan makna anak bekerja sebagai PRT bahwa pekerjaan PRT bagi anak merupakan pilihan pekerjaan paling tepat karena tidak ada pilihan yang lain. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi (pengamatan terbatas), wawancara informan dan triangulasi. Pengamatan terbatas karena tidak berpartisipasi dalam kegiatan PRTA. Pengamatan dan membuat catatan mengenai latarbelakang keluarga, proses keterlibatan, siapa yang mengajak anak bekerja PRT, hingga kondisi pekerjaan PRTA di rumah majikan. Kesimpulan penelitian ini adalah: proses keterlibatan informal anak menjadi PRT melalui informasi yang disampaikan oleh aktor kepada anak, diajak dan direkomendasikan. Keterlibatan informal ini dipengaruhi oleh peran aktor dalam lingkungan internal dan eksternal anak, dan aktor lebih berperan adalah saudara PRTA dalam garis keturunan sehingga pekerjaan PRT sebagai pekerjaan yang diwariskan secara turun temurun. Aktor sebagai pihak perantara dan perekomendasi anak agar diterima bekerja oleh majikan di rumah tangganya. Alasan keterbatasan ekonomi bukan faktor utama anak bekerja menjadi PRT tetapi lebih dipengaruhi oleh peran aktor-aktor tersebut
Child labour is a social problem that occurs in the community, that there are many children work in the informal sector as child domestic workers. According to ILO Concention number 182 which had been ratified with Indonesia Law number 1 in 1999, it is stated that child domestic workers are included in the worst condition job category and are prohibited for children under 18 years old, due to a negative impact on child development, health and vulnerability to drop out of school, physical abusement, psychological effect and human trafficking. The entry of children to be child domestic workers induced by internal and external factors through the information of child domestic labor, encouragement and recommendation to the employer in order to be accepted to work. This process in performed by the actor as an intermediary, this involved actors are the people who are in the internal and external environment of the children. The actors show their active role until the children entered the informal engagement process to be child domestic workers in Bandung city. Even, the most responsible involved actors are the relatives of the child domestic workers in the lineage, therefore the child domestic workers are hereditarily done, which it seems to help those children but actually in this case the children are victims. The policy that was conducted by the Social Department of the Government of Bandung city as an effort to overcome the child domestic workers in by holding cooperation partnerships through with institutions LAHA (Lembaga Advokasi Hak Anak) which specifically handles child domestic workers in Bandung city. Nevertheless the number of child domestic workers are still increasing, therefore this serious problem requires cooperation from all parties to solve it. The conclusions of this study are: the informal involvement process of children to be child domestic workers through the information given by the involved actors, encouragement and recommendation. Informal engagement is influenced by the actor’s role in the internal and external environment and those actors are the relatives of the child domestic workers in the lineage, therefore the child domestic workers are hereditarily done. The actors are intermediaries to help the children to be hired by the employer. Financial limitations in not a major factor for children to work as child domestic workers, but it is more affected by the role of these involved actors
Kata Kunci : pekerja anak, pembantu rumah tangga anak, proses keterlibatan informal, aktor yang berperan Iv