Laporkan Masalah

Kesesuaian lahan untuk tanaman cengkeh (Eugenia Aromatica OK) pada sub das Noongan dan Panasen Kabupaten Minahasa Propinsi Sulawesi Utara

SOUTH, Grace F.E, Drs. Suprapto Dibyosaputro, M.Sc

2001 | Tesis | S2 Geografi

Penelitian mengenai evaluasi kesesuaian lahan untuk tanaman cengkeh di sub DAS Noongan dan Panasen dilaksanakan karena sekitar tahun sembilan puluhan tejadi penurunan luas panen dan produksi yang drastis. Penurunan ini disebabkan adanya pengalihan fungsi lahan cengkeh dengan jenis .tanaman lain, akibat harga cengkeh yang tidak menguntungkan Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi kesesuaian dan produktivitas lahan untuk tanaman cengkeh sebagai dasar pengembangan lahan-lahan produktif untuk tanaman cengkeh. Satuan lahan merupakan satuan pemetaan terkecil yang digunakan sebagai satuan evaluasi dalam penelitian ini. Cara penelitian dilakukan melalui uji lapangan dan pengambilan sampel tanah dengan teknik ”sampel acak berstrata” pada 24 satuan lahan untuk analisa laboratorium sejumlah karakteristik lahan. Karakteristik lahan yang dimaksud adalah : drainase, tekstur, kedalaman efektif, KTK, pH, N-total, P205- tersedia, KzO-tersedia, salinitas, lereng, batuan permukaan, singkapan batuan, erosi, suhu rata-rata tahunan, jumlah bulan kering dan jumlah hujan rata-rata tahunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penelitian tergolong sesuai untuk tanaman cengkeh dengan kelas kesesuaian hampir seluruhnya S3 (sesuai marginal) dengan jumlah 21 satuan lahan dan kelas kesesuaian S2 (cukup sesuai) dengan 1 satuan lahan. Adapun 2 satuan Iahan lainnya tergolong N1 (ti& sesuai saat hi). Berdasarkan data produksi terdapat ketidaksesuaian produktivitas masingmasing satuan lahan dilihat dari kelas kesesuaiannya dimana berdasarkan teori sehanrsnya kelas kesesuaian yang tinggi menghasilkan produksi lebih tinggi. Kelas kesesuaian S2 dan S3 (lahan kering) merupakan lahan produktif yang menjadi prioritas utama untuk pengembangan tanaman cengkeh dengan luas keseluruhannya 4.446 hektar atau 48,47 persen dari luas daerah penelitian. Sedangkan kelas kesesuaian S3 yang termasuk lahan sawah non irigasi (sawah tadah hujan) menjadi prioritas kedua untuk pengembangan tanaman cengkeh dengan luas 232 hektar atau 2,51 persen dari luas daerah penelitian. Kelas kesesuaian N1 sangat sulit untuk dikembangkan dengan tingkat pengetahuan sekarang ini dengan biaya yang normal, sebaiknya satuan lahan ini diperuntukkan bagi suatu penggunaan tertentu yang lebih sesuai dengan kelas kesesuaiannya. Luas kelas kesesuaian N1 adalah 55,7 hektar atau 0,6 persen dari luas daerah penelitian. Kelas kesesuaian S3 (sawah irigasi) sulit untuk dikembangkan karena di daerah penelitian ada semacam budaya bahwa tingkat pemilikan sawah merupakan salah satu tolok ukur kekayaan masyarakat. Luas satuan lahan ini adalah 3.242,4 hektar atau 35,19 persen dari luas daerah penelitian.

This research on evaluation of land suitability for clove in Noongan and Panasen catchment areas was conducted because in the nineties harvest and production fell into a sharp decline caused by a shift in the function of land from its used for the cultivation of clove to the cultivation of other crops when the clove business was not profitable. The research aimed to evaluate the suitability and productivity of land for clove as a basic for the development of productive land for clove Land unit was the smallest mapping unit used as an evaluation unit in this research. The method used comprised field tests and a stratified random sampling of landform 24 land units for laboratory analysis of a number of land characteristics, namely drainage, texture, effective depth, cation exchange, pH, N-total, available P2O5, available K20, salinity, slope steepness, boulders, exposed rocks, erosion, annual average temperature, the number of dry months and the annual average rainfall. The result of the research indicates that the research site is suitable for clove cultivation with S3 grade (marginally suitable) for 21 lands units, and S2 grade (adequately) for 1 land unit. The other 2 land units belong to N1 (presently not suitable). The data on production show that there is unsuitability of productivity of each land unit in terms of suitability grade whereas, according to theory, a high suitability grade, should yield a higher production. This unsuitability of productivity needs a special treatment. The S2 and S3 grades (dry land) are potential land that receive top priority for clove cultivation with an overall area of 4,446 hectares or 48,47 percent of the research site area, whereas the tinhigated land (rice fields dependent on rain) receive secondary priority for clove cultivation with an area of 232.1078 hectares or 2,51 percent of the research area. The NI grade is extremely difficult to develop cultivation at the present stage of our knowledge and at a normal cost, and it should probably be set apart for a special use that is more appropriate for its suitability grade. The area of N1 grade is 55,7 hectares or 0.60 percent of the research area. The S3 grade (irrigated rice field) is difficult for cultivation because in the research site there is a local belief that level of the rice field ownership is one of the community’s standards of wealth. The area of these land units is 3,242.5 hectares or 35.19 percent of the research site area.

Kata Kunci : Geografi Fisik,Lahan,Tanaman cengkeh,DAS Noongan dan Panasen


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.