Laporkan Masalah

ANALISIS KELEMBAGAAN PERTANIAN DALAM PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI SAYUR DI KECAMATAN KEJAJAR KABUPATEN WONOSOBO

firman cahyadi, Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc. Ph.D.

2014 | Tesis | S2 Magister Ek.Pembangunan

Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo merupakan salah satu sentra penghasil sayuran di Jawa Tengah, dengan hasil utama berupa kentang, dengan produktfitas panen mencapai antara 147.58 – 159.9 kw/ha. Namun tingginya produksi dan peningkatan produktivitas pertanian tidak lagi menjadi jaminan akan memberikan keuntungan layak bagi petani tanpa adanya kesetaraan pendapatan antara petani yang bergerak di sub sistem on-farm dengan pelaku agribisnis di sub-sektor hulu dan hilir. Kesetaraan pendapatan hanya dapat dicapai dengan peningkatan posisi tawar petani. Pengembangan kelembagaan pertanian yang di dalamnya menyangkut upaya penguatan peran dan fungsi kelembagaan kelompok tani dan lembaga penyuluhan, memegang peranan kunci dalam upaya peningkatan kesejahteraan petani, yang tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produktivitas namun juga kekuatan petani untuk menaikkan posisi tawarnya melalui upaya kolektifikasi modal, kolektifikasi produksi, kolektifikasi pemasaran, serta efisiensi biaya transaksi. Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis kondisi kelembagaan pertanian masyarakat pedesaan di Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo; (2) menganalisis peran lembaga pertanian dalam peningkatan pendapatan petani kentang di Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo; (3) menganalisis pengaruh kondisi kelembagaan pertanian terhadap peningkatan pendapatan petani kentang di Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo. Penelitian ini menggunakan metode sequential mixed methods, yaitu penelitian yang dimulai dengan metode kuantitatif terlebih dahulu dengan menguji suatu teori atau konsep tertentu, dan kemudian diikuti dengan metode kualitatif dengan mengeksplorasi sejumlah kasus dan individu. Metode penentuan sampel adalah purpossive sampling. Data primer diperoleh melalui kuesioner. Selain itu, untuk memperdalam informasi mengenai variabel-variabel yang diteliti, maka juga dilakukan wawancara kepada narasumber yang dianggap memahami mengenai variabel yang diteliti dikumpulkan dengan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Kelompok tani aktif mempunyai kondisi lebih baik pada beberapa aspek dibandingkan kelompok tani pasif, yaitu pada aspek kepastian aturan hukum, sistem pengelolaan data, dan daya survive; (2) kelompok tani aktif mempunyai peran yang lebih baik dalam meningkatkan pendapatan anggotanya, dibandingkan peran kelompok tani pasif dan penyuluh pertanian, dan kelompok tani aktif menunjukkan perannya dalam peningkatan pendapatan melalui kolektifikasi modal dan efisiensi biaya transaksi; (3) terdapat korelasi positif antara aspek sistem pendidikan dan pelatihan, dan aspek hubungan eksternal dengan peran kelompok dalam peningkatan pendapatan petani. Kata Kunci: kelembagaan pertanian, petani sayur, pendapatan petani

Kejajar district of Wonosobo regency is one vegetable production centers in Central Java, with the main results is potatoes, the crop productivity reached between 147.58 – 159.9 kw/ha. However, the high production and an increase in agricultural productivity is no longer a guarantee of a decent benefit for farmers without the equality of income among farmers engaged in on-farm sub-system with agribusiness sub-sectors in the upstream and downstream. Income equality can only reached by increasing the bargaining power of farmers. Development of agricultural institutions in which concerns the efforts to strengthen the role and function of institutional farmer groups and the extension, played a key role in improving the welfare of farmers, who are not only determined by the increase in productivity, but also the strength their bargaining position, through capital collectivity, production collectivity, marketing collectivity, and transaction cost efficiency. The purpose of this study is (1) to analyze the institutional conditions of the rural farming community in the Kejajar district of Wonosobo regency; (2) to analyze the role of agricultural institutions in increasing the income of potato farmers in the district Kejajar of Wonosobo regency; (3) to analyze the effect of the agricultural institutions condition to increased potato farmers revenue in Kejajar district of Wonosobo regency. This study uses a sequential mixed methods, the research that began with the first quantitative method to test a particular theory or concept, and then followed by a qualitative method to explore a number of cases and individuals. Sampling method was purposive sampling. Primary data were obtained through a questionnaire. In addition, to further information about the variables studied, the interviews were conducted to the understand sources about variables studied. The results showed that (1) an active farmer groups have better conditions in some aspects than passive farmer groups, ie the rigidity of law rules, data management systems, and power to survive; (2) active farmer groups have a better role in increasing the income of its members, compared to the passive role of farmer groups and agricultural extension workers, and farmer groups active role in the increased revenue through capital collectivity and transaction cost efficiency; (3) there is a positive correlation between education and training systems aspects, and aspects of external relations with the group's role in increasing the income of farmers. Keywords: agricultural institution, vegetable farmers, farmers' income

Kata Kunci : kelembagaan pertanian, petani sayur, pendapatan petani


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.