UKURAN KOMPONEN DENTOKRANIOFASIAL ARAH VERTIKAL ANAK TUNA WICARA USIA 7-13 TAHUN (KAJIAN SEFALOMETRI)
Titus Andy Kurnia, Dr. drg. Indah Titien, SU, Sp. KGA(K)
2014 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Gigi AnakAnak tuna wicara umumnya memiliki cara berjalan yang agak kaku, cenderung membungkuk, dan kebiasaan memiringkan kepalanya mendekati sumber suara. Hal ini mengakibatkan terjadinya perubahan pada postur kepala dari posisi normal sehingga dapat memicu tumbuh kembang dentokraniofasial arah vertikal. Sesuai teori Moss, matrik fungsional jaringan lunak merupakan pengatur utama proses pertumbuhan tulang. Pada anak tuna wicara terjadi penurunan fungsi otot bicara sehingga terjadi gangguan pada pertumbuhan dentokraniofasial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan ukuran dentokraniofasial arah vertikal antara anak tuna wicara dengan anak normal. Jenis penelitian adalah observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Subyek penelitian adalah 20 anak tunawicara suku jawa usia 7-13 tahun di SLBN I di Kabupaten Bantul. Pada subyek dilakukan pengambilan rontgen sefalometri lateral untuk pengukuran ukuran komponen dentokraniofasial arah vertikal. Data ukuran anak normal diambil dari penelitian Alphianti tahun 2011. Data diuji dengan uji t tidak berpasangan dan ANOVA untuk mengetahui signifikansi perbedaan tiap kelompok usia pada anak tuna wicara. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0.05) pada tinggi fasial posterior dan tinggi ramus mandibula pada anak tuna wicara kelompok usia 11,6 -13 tahun. Disimpulkan bahwa ukuran tinggi fasial posterior (S-Go) dan tinggi ramus mandibula (Ar-Go) anak tuna wicara usia 7-13 tahun lebih rendah dibandingkan dengan anak normal. Kelompok usia yang memiliki perbedaan yang signifikan pada pengukuran S-Go (tinggi fasial posterior) dan Ar-Go (tinggi ramus mandibula) adalah usia 11,6-13 tahun. Kata kunci: anak tuna wicara, ukuran dentokraniofasial, sefalometri lateral
Muted child generally tends to bend and has a rather stiff gait and the habit of tilting his head closer to the sound source. This will change the head posture from its normal position and affect the vertical direction of dentocraniofacial. According to Moss theory, functional matrix of soft tissue is a major regulator of bone growth process. There is a decreased of speech muscle function in the muted children that will result in dentocraniofacial growth. This study aims to determine the size comparison between muted children and normal children. The study was an observational analytic with cross sectional design. Subjects were 20 muted Java children aged 7-13 studied in SLBN I in Bantul. Subjects were taken the lateral cephalometric radiographs to measure the vertical component of dentocraniofacial. Data of normal children was drawn from Alphianti in 2011. The results were analyzed by unpaired t test and ANOVA to determine the significance differences in each age group at the muted children. Results showed significant difference (p<0.05) in variable posterior facial height and height of the ramus of mandible in 11.6-13 years group of age. It was concluded that the size of posterior facial height (S-Go) and height of the ramus of mandible (Ar-Go) of muted children aged 7-13 years was lower than normal children. The 11.6-13 age group had a significant difference in the S-Go (posterior facial height) and Ar-Go (height of the ramus of mandible) variable. Keywords: muted children, dentocraniofacial size, lateral cephalometric.
Kata Kunci : anak tuna wicara, ukuran dentokraniofasial, sefalometri lateral