Laporkan Masalah

WACANA PIDATO BERBAHASA JAWA DALAM UPACARA PERKAWINAN MASYARAKAT JAWA

Mulyana, Drs.,M.Hum, Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana, S.U., M.A.

2014 | Disertasi | S3 Linguistik

Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan bahasa yang digunakan dalam pidato upacara perkawinan adat Jawa, aspek-aspek estetika bahasa pidato yang digunakan, dan bagaimana konteks pidato menyebabkan terjadinya perubahan wacana pidato. Secara lebih rinci, penelitian ini menjelaskan penggunaan bahasa dan unsur-unsur kebahasaan apa saja yang menyebabkan wacana pidato memiliki estetika susastra Jawa. Selanjutnya, penelitian ini juga mengungkap perubahan-perubahan konteks yang menyebabkan terjadinya perubahan wacana pidato dalam upacara perkawinan masyarakat Jawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis wacana (discourse analysis) yang dilengkapi dengan sosiolinguistik. Bahan penelitian atau data yang digunakan dalam penelitian ini berupa tuturan lisan pidato perkawinan (PP) yang dapat didokumentasikan selama penelitian. Tuturan yang diambil sebagai data, didokumetasikan dari tuturan langsung dalam upacara perkawinan yang diselenggarakan oleh masyarakat Jawa di wilayah Yogyakarta. Wilayah ini dijadikan seting penelitian, karena dianggap sebagai wilayah pemakaian bahasa Jawa yang representatif, termasuk bahasa Jawa ragam seremonial wacana pidato dalam upacara perkawinan. Data lisan yang diperoleh tersebut selanjutnya dilengkapi juga dengan data tulis yang dikutip dari buku-buku pedoman pidato upacara perkawinan Jawa. Penyediaan data dilakukan dengan tiga langkah; yaitu pengumpulan data, pencatatan, dan penyeleksian data. Data dikumpulkan dengan teknik simak atau observasi langsung di lokasi upacara perkawinan. Selanjutnya data ditranskrip ke dalam catatan data, untuk kemudian diseleksi secara hati-hati untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel. Proses selanjutnya ialah analisis data, yaitu dengan pendekatan analisis wacana. Jenis pendekatan ini digunakan untuk memperoleh deskripsi yang jelas mengenai bentuk dan estetika wacana pidato perkawinan. Sementara itu, untuk mendapatkan kejelasan tentang konteks dan perubahannya, digunakan analisis sosiolinguistik yang mendasarkan pada komponen tuturan yang dikemukakan oleh Hymes: yaitu SPEAKING. Hasil analisis yang dilakukan terhadap data berhasil mendeskripsikan dan menjelaskan sejumlah permasalahan yang ada dalam penelitian ini. Pertama, bahasa yang digunakan dalam upacara perkawinan masyarakat Jawa antara lain adalah: bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasa campuran Jawa Indonesia (Jawindo). Dalam penyampaiannya, wacana pidato kadang-kadang mengalami gejala alih kode dan campur kode, dan juga mengalami perubahan atau pergantian tingkat tutur sebagaimana dimiliki bahasa Jawa. Sebagai bentuk wacana, pidato perkawinan menyimpan sejumlah unsur-unsur yang menjadikannya memiliki keutuhan sebuah wacana. Unsur-unsur tersebut adalah unsur kohesi dan koherensi. Pada unsur koherensi, keberadaannya dimungkinkan muncul dengan dua kategori, yaitu secara ekspilist dan implisit. Kedua, untuk mendapatkan nilai keindahan digunakan aspek-aspek susastra Jawa yang cukup lengkap. Ketiga, perubahan konteks yang terjadi menyebabkan perubahan bentuk wacana pidato perkawinan. Komponen konteks yang dimaksud adalah tempat, waktu, suasana, partisipan, maksud, norma, dan genre kebahasaannya.

This study aims to explained using languages in the Javanese wedding ceremony, and linguistic elements that caused the speech discourse have aesthetics of susastra Jawa (Javanese literature). Furthermore, this study will also express the contextes and their changes happening in the wedding ceremony performed by the Javanese people. This study used the discourse analysis that accompanied by the sosiolinguistic approach. This study used the object or data of the oral story about wedding speech (PP: pidato perkawinan) that gathered and documented as long as the study was conducted. The data were documented from the direct stories in the wedding ceremony that performed by the Javanese in the area of Yogyakarta. We fixed this area as the setting of the study because it could be considered as the area where the Javanese language spoken representatively, including the Javanese of the ceremonial speech discourse in the wedding ceremony. The oral data was accompanied with the written data gathered from the manual books of Javanese wedding speech. The written data was used as the comparative data, so that we could see how were the changes and the differences happened between them. The data supplying was conducted in three steps: data gathering, data writing, and data selection. We gathered data using scrutinizing technic or direct observation in the location where the wedding ceremony performed. And then, the data was trancripted in the data document to be selected carefully to get the valid and reliable data. The next process was the data analysis. The selected data was analyzed using the speech discourse approach. This kind of approach was performed to get distinct description about the form and the aesthetic of wedding ceremony discourse. Meanwhile, in order to get distinctness about the contextes and their changes, we used the sociolinguistic analysis that underlied on the story elements suggested by Hymes: SPEAKING. The analysis results performed to the data could describe and explain several problems of this study. First, the spoken language in the wedding ceremony in the Javanese people were the Javanese, the Indonesian, and the mixed language between them called Jawindo (Javanese-Indonesian). In the delivery of speech, this discourse sometimes experienced the indications of moving and mixed codes, and also experienced the story changesor replaces as found in the javanese language. As a discourse form, the wedding speech had some elements that made it complete as a discourse. These were the cohesive and the coherence elements. In the coherence element, it could be present through two categories, explicitly and implicitly. Second, the aesthethics elements used in the wedding speech discourse that we found successfully were called susastra Jawa. Third, the change of the wedding speech discourse was happened because of the change of the underlying context. In this case, the context had the relation with the current situation and atmosphere in the ceremony, change of time, change of the speaker and the other participants. norms, and genre of its language.

Kata Kunci : -


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.