Laporkan Masalah

PENDEKATAN LEAN HOSPITAL UNTUK PERBAIKAN BERKELANJUTAN (CONTINUOUS IMPROVEMENT) PROSES PELAYANAN INSTALASI FARMASI RS BETHESDA YOGYAKARTA

Nancy, Prof. Dr. Marchaban, DESS., Apt

2014 | Tesis | S2 Ilmu Farmasi

Perusahaan jasa layanan kesehatan dewasa ini berkembang dengan pesat baik dari sisi jumlah maupun kualitas. Rumah sakit sebagai salah satu sarana kesehatan harus dapat meningkatkan dan mempertahankan mutu pelayanan kesehatan yang berorientasi pada tercapainya kepuasan stakeholder. Instalasi farmasi sebagai salah satu unit bisnis di RS Bethesda Yogyakarta juga dituntut untuk meningkatkan mutu pelayanannya secara berkelanjutan (continuous improvement). Penelitian bertujuan menggunakan pendekatan lean hospital sebagai acuan pembenahan proses pelayanan yang difokuskan kepada satelit farmasi rawat jalan dan satelit farmasi rawat inap RS Bethesda Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian non-eksperimental dengan pendekatan kualitatif. Data value stakeholder dan waste kritis diperoleh dengan alat ukur kuesioner, sementara data aliran proses pelayanan untuk VAA, akar penyebab waste kritis untuk RCA, serta nilai peluang dan dampak untuk penentuan risk rating diperoleh melalui observasi langsung, wawancara mendalam, wawancara tidak terstruktur dan telaah dokumen terkait. Upaya yang ditempuh peneliti untuk menjaga validitas data adalah triangulasi data. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis deskriptif. Hasil analisis data menunjukkan bahwa perbandingan aktivitas non-value added terhadap value added di satelit farmasi rawat jalan adalah 55% : 45%, sementara di satelit farmasi rawat inap adalah 69% : 31%. Waste kritis yang terjadi di dalam satelit farmasi rawat jalan adalah waste motion sebesar 19,26% dan waste kritis yang terjadi di satelit farmasi rawat inap adalah waste waiting sebesar 15,23%. Usulan perbaikan dengan pendekatan lean hospital bagi manajemen satelit farmasi rawat jalan adalah menambah satu unit komputer dan printer untuk memfasilitasi pembuatan copy resep, membuat penunjuk alur pengambilan obat, menerapkan automated queueing system, dan menambah visual management di area antar counter penyerahan perbekalan farmasi, sementara bagi manajemen satelit farmasi rawat inap adalah menempatkan apoteker atau TTK yang telah dilatih untuk melaksanakan sistem ODD di semua ruangan dan membagi shift untuk memasukkan kartu obat atau resep ke satelit farmasi rawat inap, menambah satu tenaga apoteker untuk standby melayani di satelit farmasi rawat inap, serta mengembangkan robotic delivery system untuk melengkapi teknologi pneumatic tube yang sudah ada.

Nowadays healthcare organizations is growing by a rapid development either in quality or quantity. Hospitals as one of healthcare providers have to improve and maintain their quality of service which is stakeholder satisfaction-oriented. Pharmacy department as one of Bethesda Hospital Yogyakarta’s business unit is struggling to continuously improve their service quality (continuous improvement). The purpose of this research was to embrace lean hospital approach as a driving point to improve the existing service process which focused to ambulatory pharmacy and inpatient pharmacy of pharmacy department of Bethesda Hospital Yogyakarta. The research was a non experimental research with qualitative research strategy. Stakeholder value and critical waste data were conducted by survey with questionnaire as an instrument, while service process stream data for VAA, root problems of critical waste for RCA, and probability and consequence values for determining risk rating were collected by direct observation, in depth interview, non structured interview and also by related document study. Data triangulation was also conducted to improve the validity of research data. The data collected was then analyzed with a descriptive analysis. The result of the data analysis showed that the non value added to value added activities ratio in ambulatory pharmacy was 55% : 45%, while the ratio in inpatient pharmacy was 69% : 31%. The critical waste which occurs due to the way of operation of processes in ambulatory pharmacy was motion at 19,26% and the critical waste of inpatient pharmacy was waiting time at 15,23%. Improvement recommendations built with lean hospital approach for ambulatory pharmacy management are adding one more unit computer and printer to facilitate the making of prescription copies, making medicine delivery stream indication-board, applying automated queueing system, and adding some visual management to the area between delivering medicine counters. Inpatient pharmacy management should place a pharmacist or trained pharmacy technician into all wards to implement ODD system and to schedule shifts for medicine card or prescription submission to inpatient pharmacy, appoint one pharmacist whom is standby for servicing in inpatient pharmacy, and also develop robotic delivery system to complement the existing pneumatic tube technology

Kata Kunci : lean hospital, continuous improvement, RCA, analisa risiko


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.