KETAHANAN Peronosclerospora maydis TERHADAP FUNGISIDA
Dwi Astuti Yuniasih, Prof. Dr. Ir. Christanti Sumardiyono, SU
2014 | Tesis | S2 FitopatologiPenggunaan metaksil secara intensif dalam pengendalian penyakit bulai jagung, telah menyebabkan munculnya strain P. maydis yang tahan metalaksil. Strain tahan ini telah menyebabkan kerusakan besar akibat penyakit bulai. Oleh karena itu diperlukan manajemen ketahanan P. maydis terhadap fungisida. Salah satu cara manajemen ketahanan adalah dengan menggunakan fungisida yang berbeda bahan aktif, tetapi mempunyai kemampuan yang sama untuk pengendalian penyakit bulai jagung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dari fungisida berbahan aktif fenamidone dan campuran fenamidone dan propamokarb hidroklorida, dalam menghambat perkembangan penyakit bulai sebagai pengganti metalaksil, dan mengetahui kemungkinan munculnya strain tahan terhadap fungisida yang diuji. Percobaan dilakukan secara in vitro untuk mengetahui kemampuan daya hambat fungisida terhadap perkecambahan konidium P. maydis, dan untuk mengetahui kemampuan fungisida dalam menekan perkembangan penyakit bulai dilakukan percobaan secara in planta dan uji efikasi lapangan di Kediri. Sumber inokulum adalah P. maydis isolat Klaten dan isolat Kediri. Hasil penelitian menunjukkan fungisida fenamidone pada dosis tertinggi (32 ml/kg) dan fungisida campuran fenamidone dan propamokarb hidroklorida pada dosis tertinggi (80 ml/kg), tidak dapat menghambat perkembangan penyakit bulai. P. maydis isolat Kediri diduga telah tahan terhadap kedua fungisida tersebut. Hal ini diduga karena fenamidone memiliki cara kerja yang sama dengan metalaksil yaitu menghambat respirasi, sehingga fungisida campuran fenamidone dan propamokarb hidroklorida juga tidak cocok digunakan untuk pengendalian penyakit bulai. Untuk menghindari munculnya strain tahan, diperlukan manajemen ketahanan P. maydis secara bijaksana, dengan mengganti fungisida yang memiliki cara kerja yang berbeda.
Intensive using of metalaxyl to control corn downy mildew caused emergence of resistant strains of P. maydis to metalaxyl. These resistant strains have caused major damage due to downy mildew. Therefore, it is necessary to manage P. maydis resistance againts fungicide. One of the strategies resistance management is using different active ingredients fungicide, but have same ability to control corn downy mildew.The aims of this study is to determine the effectiveness of fenamidone fungicides and mix formulation fenamidone and propamocarb hydrochloride as subtitute of metalaxyl to inhibit the development of downy mildew, and to find out the possibility of the emergence of resistant strains to the fungicides tested in this study. The experiment was conducted in vitro to determine inhibition ability of fungicides againts conidial germination of P. maydis, and to know the ability of fungicides in suppressing the development of downy mildew conducted in planta and field efficacy trials in Kediri. Source of inoculum is P. maydis Klaten isolate and Kediri isolate. The results showed that the application fenamidone at highest dose (32 ml/kg) and the mixture of fenamidone and propamocarb hydrochloride at highest dose (80 ml/kg) failed to inhibit the development of downy mildew. It meaned that P. maydis Kediri isolate as apparently resistant to both of fungicides. It is presumably because of the similar mode of action between fenamidone and metalaxyl which is inhibiting respiration of pathogen. Therefore the mixture of fenamidone and propamocarb hydrochloride was unsuitable to control downy mildew. To avoid the emergence of resistant strains, resistance management of P. maydis riquired wisely to replace fungicide that has a different mode of action.
Kata Kunci : penyakit bulai, fungisida, ketahanan