Laporkan Masalah

IDENTIFIKASI RISIKO DAN PENENTUAN ASURANSI BANGUNAN GEDUNG NEGARA PADA DAERAH RAWAN GEMPA BUMI STUDI DI KABUPATEN BANTUL

Helvita Dorojatun, Prof. Dr. Eduardus Tandelilin, M.B.A.

2014 | Tesis | S2 Magister Ek.Pembangunan

Bertambahnya bangunan gedung negara, menyebabkan pemerintah perlu memperhatikan aspek manajemen risiko. Risiko terhadap bangunan gedung negara salah satunya adalah risiko bencana alam. Risiko adalah potensi kerugian yang timbul akibat bencana di suatu kawasan pada kurun waktu tertentu. Kondisi geografi Indonesia yang terletak di jalur gunung api menjadikan risiko tersebut cukup besar. Besarnya kerusakan dan kerugian akibat bencana gempa bumi dimasa lalu setiap kejadiannya adalah Rp.25-40 Triliun. Pemerintah sejak tahun 2007 telah menempuh berbagai langkah pengurangan risiko, namun bangunan merupakan aset yang kurang adaptif. Bangunan bila saat didirikan terdapat unsur eksternal yang tidak terakomodasi maka ketika unsur tersebut menjadi suatu ancaman, risiko yang besar akan timbul. Linnerooth, Mechler, dan Hochrainer (2010: 3) menyatakan bahwa langkah asuransi perlu diambil untuk mengurangi risiko yang tersisa setelah langkah lain telah diambil. Tesis ini meneliti risiko bangunan gedung negara pada daerah rawan bencana studi di Bantul. Melalui analisis kerentanan dan analisis paparan, risiko pada bangunan gedung negara diidentifikasi dan di ukur besarannya. Hasilnya skor indeks kerentanan ≥ 12 berkaitan dengan kerusakan lebih dari 2,6 persen. Kerusakan tersebut telah melebihi nilai risiko sendiri. Terlihat bahwa dari Rp704 miliar bangunan gedung negara yang diukur 82,6 persen nilai tesebut berada pada skor indeks kerentanan ≥ 12. Bangunan inilah yang perlu diasuransikan

The increasing number of state building causes the government to pay attention to the aspect of risk management. One of the risks of state building is natural disaster. Risk can be explained as the potential loss which is arisen as a result of the disaster in a region in a specific time. Indonesia geography condition that is placed on the volcano increase the amount of risks sufficiently large. The scale of the damages and losses caused by the devastating earthquake in the past may cost Rp.25-35 trilion for every incident. The Government since 2007 had have some action in order to decrease the risk, however the building is less adaptive asset. There are external elements which cannot accommodate when the building is constructed, and then when it becomes a threat, consequently the big risks will arise. Linnerooth, Mechler, and Hochrainer (2010:3) said that insurance steps should be done to reduce the risks that remain after other measures which have been taken. This thesis estimates the devastating risk of state building on earthquake prone area in Bantul. According to vulnerability and exposure analysis, the risk on state building has been identified and measured. As a result, from 82.6 percent of Rp.709 billion of measured state building shows over 12 point of vulnerability index which surpasses deductible limit. Therefore, its building should be insured.

Kata Kunci : Identifikasi Risiko, Analisis Kerentanan, Analisis Paparan, Asuransi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.