PERANCANGAN BADMINTON CENTER DI PEKANBARU DENGAN PENDEKATAN REGIONALISME MODERN
BRILIAN ECHONERY, Agus Hariyadi, S.T., M.Sc.
2014 | Skripsi | ARSITEKTURBulu tangkis merupakan olahraga yang paling digemari masyarakat Indonesia setelah sepak bola. Hal ini dapat dilihat dari antusiasnya masyarakat ketika pertandingan bulu tangkis ditayangkan di televisi. Apabila menang, maka para atlit akan disanjung-sanjung. Apabila kalah, atlit akan menjadi sasaran kekesalan. Beberapa dekade yang lalu, indonesia merupakan rajanya olah raga ini, baik skala asia maupun dunia. Namun makin hari prestasi bulu tangkis Indonesia mulai menurun. Beberapa tahun terakhir Indonesia terlihat sering absen menyumbangkan piala di berbagai turnamen dan kejuaraan internasional. Hal ini terjadi karena rendahnya bibit pemain baru. Rendahnya bibit baru ini disebabkan oleh 2 hal, pertama adalah gaji dan jaminan tua para atlet yang tidak menjanjikan, yang kedua adalah rendahnya pelatihan terhadap atlit muda. Alasan kedua merupakan fokus penulis dalam pembuatan tulisan ini. Di Provinsi Riau, khususnya di Pekanbaru, terdapat banyak bibit pemain muda yang pantas untuk dikembangkan. Bila dilihat dari hasil PON 2012 dimana Riau sebagai tuan rumahnya, Riau belum bisa menggaet satu medali pun di bidang bulu tangkis. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan fasilitas pelatihan untuk pemain muda. PON 2012 juga menjadi pelajaran bagi Riau betapa kurangnya fasilitas olahraga yang ada di Riau. Bahkan fasilitas yang baru di buat pun banyak yang disebut tidak standar, kurang siap, dan tidak layak pakai. Dengan pembangunan Badminton Center ini, diharapkan banyak bibit pemain muda Riau yang akan menoreh prestasi di nasional maupun internasional. Selain itu diharapkan masyarakat dapat semakin tergerak untuk berolahraga dan mencintai kebudayaan lokal dengan penerapan konsep regionalisme pada desain bangunan ini nantinya.
Badminton is one of the most popular sport game in Indonesia after football. It can be observed through the people’s enthusiasm when a badminton match is broadcasted on TV. If the team wins, the athletes will be honored and praised. But if they’re losing, they will become the target of people’s dejection. A few decades ago, Indonesia is the king and the master of this sport in Asia even in the wolrd. But it seems our achievements nowadays are decreasing. In the last few years Indonesia seems to be absent being the champion and holding a trophy in many leagues and internatinional tournaments. We believe this happens because of the quality of new athletes is not as good they used to be. This descending quality of the young smashers can be caused by 2 factors, first is the unconvincing fees, this makes the athles is less motivated than before. The second reason is the lack of training center for the young athletes. The second reason is writer’s main focus in this writing. In Riau Province, especially in Pekanbaru, there are so many good candidates for badminton athletes and they deserve to be trained properly by professionals. If we look back when Riau is being the host of PON 2012, we can’t even win a single medal in badminton sport. This fact tells us that Riau needs to improve the training facility for the young athletes. This event also gives us another input that Riau is really lack of proper sport facilities. Even some of the new venues are either unqualified or unfinished. With this design plan of Riau Badminton Center, we hope that this facilities can provide proper training so that Riau’s athletes can compete or even be the champions in both national and international events and tournaments. Another objective is to persuade people to do more sports and admiring their local culture at the same time through the design of this Badminton Center wich uses regionalism context.
Kata Kunci : Badminton/Bulu tangkis, Pusat Pelatihan, Regionalisme, Arsitektur Melayu