PERTUMBUHAN TEGAKAN DAN PRODUKTIVITAS SERTA LAJU DEKOMPOSISI SERESAH BEBERAPA JENIS POHON LOKAL PADA LAHAN GAMBUT DI KABUPATEN PELALAWAN, RIAU
Ahmad Junaedi, Prof. Dr. Suryo Hardiwinoto
2014 | Tesis | S2 Ilmu KehutananInformasi pertumbuhan tegakan dan produktivitas serta dekomposisi seresah pada jenis pohon lokal di lahan gambut yang didrainase perlu diketahui sebagai bagian dari informasi penting yang akan digunakan untuk memilih jenis pohon lokal sebagai penghasil kayu pulp. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan tegakan; produksi seresah dan input haranya; serta dekomposisi seresah dan pelepasan haranya pada beberapa jenis pohon lokal di lahan gambut yang didrainase. Penelitian dilakukan pada bulan Pebruari 2013 – Maret 2014 di plot penelitian jenis pohon lokal yang berumur 2 – 3 tahun di lahan gambut yang didrainase di Pelalawan, Riau. Rancangan acak kelompok digunakan pada plot tersebut, dengan perlakuan 4 jenis pohon yakni mahang (Macaranga pruinosa), geronggang (Cratoxylum arborescens) dan skubung (Macaranga gigantea) sebagai jenis pohon lokal dan krassikarpa (Acacia crassicarpa) sebagai jenis eksotik (kontrol). Pengamatan pertumbuhan dilakukan dengan metode sensus. Pengamatan produktivitas dan input hara dilakukan dengan metode litter trap, sedangkan laju dekomposisi dan pelepasan hara dengan metode litter bag. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan statistik (ANOVA/GLM, uji lanjut, analisis korelasi dan regresi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persen hidup jenis pohon lokal sampai pada umur 3 tahun (68,0 – 90,0%) secara nyata (p < 0,05) lebih baik dibandingkan krassikarpa (53,6%). Pertumbuhan jenis pohon lokal terbaik pada umur 3 tahun ditunjukkan oleh mahang dengan riap tinggi 2,54 m/tahun dan DBH 2,92 cm/tahun. Riap DBH mahang tersebut relatif sama dengan riap krassikarpa dari bibit asalan, tetapi lebih rendah dibandingkan riap krassikarpa dari bibit terseleksi. Produktivitas seresah dan input hara tertinggi ditunjukkan oleh geronggang yakni 7,04 ton/ha/tahun dan melepaskan N sebanyak 60,69 kg/ha/tahun, P sebanyak 10,82 kg/ha/tahun dan K sebanyak 57,68 kg/ha/tahun, tetapi tidak berbeda nyata (p > 0,05) dengan krassikarpa. Laju dekomposisi seresah semua jenis pohon lokal dan krassikarpa termasuk lambat yakni k = 0,98 – 1,18 tahun-1. Hara yang mengalami pelepasan dari dekomposisi seresah jenis pohon lokal dan krassikarpa sampai bulan keempat adalah P sebanyak 70,1 - 83,2% dan K sebanyak 91,7 - 93,8%, tetapi N mengalami imobilisasi yakni sebanyak 14,53 – 36,46%. Dekomposisi yang lambat dan adanya imobilisasi N mengindikasikan bahwa mahang, geronggang dan skubung tidak sesuai sebagai jenis penghasil kayu pulp, tetapi lebih direkomendasikan sebagai jenis untuk rehabilitasi. Kata kunci : jenis pohon lokal, pertumbuhan, seresah, dekomposisi, input hara dan pelepasan hara
The information about stand growth performances, litter productivity and litter decomposition of some native tree species were important as the main information which will be used in tree species selection for pulpwood raw material. Research was done to obtain those informations. Research was carried out at February 2013 – March 2014 in native tree species experimental plot that had 2 – 3 years old in drained peat land in Pelalawan, Riau. This plot was established using completely randomized block design, with 4 tree species as treatments i.e mahang (Macaranga pruinosa), geronggang (Cratoxylum arborescens) and skubung (Macaranga gigantean) as native tree species and krassikarpa (Acacia crassicarpa) as exotic tree species (control). The growth performance was observed with census. Litter trap method was used to obtain data of litter productivity and its nutrient input to forest floor. Litter bag method was used to obtain data of litter decomposition rate and its nutrient release to soil. Quantified and statistical technique (ANOVA/GLM, Duncan test, correlation and regression analysis) were used as data analyzed method. The results showed that survival rate of native tree species (68,0 – 90,0%) was significantly (p < 0,05) better than krassikarpa (53,6%) at 3 years old. While, the best growth performance at the same age displayed by mahang with height annual increment were 2,54 m/year and DBH annual increment were and 2,92 cm/year. Its DBH annual increment were similar to unimproved krassikarpa increment, but lower than improved krassikarpa increment. The highest litter productivity and its nutrient input were obtained by geronggang with magnitude 7,04 ton/ha/year and N released 60,69 kgha/year; P released 10,82 kg/ha/year and K released 57,68 kg/ha/year, but was not significantly (p > 0,05) different with krassikarpa. The decomposition rate of all native tree species and krassikarpa were slow (annual k = 0,98 - 1,18 year-1). The nutrients which were released from all litter decomposition until fourth months were P (70,1- 83,2%) and K (91,7- 93,8%), but N was immobilized (14,53 – 36,46%). The slow decomposition and N immobilized indicated that mahang, geronggang and skubung were not recommended for pulpwood forest plantation, but more recommended for forest rehabilitation. Keywords: native tree species, growth, litter, decomposition, nutrients input and nutrients release
Kata Kunci : jenis pohon lokal, pertumbuhan, seresah, dekomposisi, input hara dan pelepasan hara