E-CULTURE DALAM PEMBENTUKAN E-GOVERNMENT DI PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA
Danang Sri Wibowo Riyanto, Prof. Dr. Muhadjir Darwin, MPA; Prof. Dr. Irwan Abdullah, MA
2014 | Disertasi | S3 STUDI KEBIJAKANPenelitian ini secara faktual mendeskripsikan tentang bagaimana sesungguhnya e-culture dapat menjadi basis bagi pembentukan e-government dan bagaimana e-government tersebut diterapkan di Pemerintah Kota Yogyakarta beserta implikasinya dalam pencapaian pembangunan daerah. Pada prosesnya, selain berpijak pada berbagai studi kepustakaan, penelitian ini juga mengacu pada beberapa teori yang terkait. Teori e-government yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagaimana dikemukakan oleh Heeks, bahwa dalam implementasi e-government harus mencakup unsur-unsur e-administration, e-services/e-citizen dan e-society (Heeks, dalam Ndou, 2004:6). Terkait dengan e-culture sebagai basis bagi pembentukan e-government, pendekatan teori yang digunakan adalah teori dari Koentjaraningrat (1984) tentang tiga wujud kebudayaan. Pada sisi lain untuk memperkuat pendekatan teori tersebut, khususnya pada terbentuknya masyarakat melek teknologi, digunakan teori dari Dijk tentang terbentuknya e-culture; dalam hal ini Dijk mengemukakan bahwa e-culture terbentuk karena adanya motivasi, pemilikan, penggunaan, dan keterampilan terhadap teknologi informasi (Van Dijk dalam Haan dan Huysmans, 2003). Sedangkan untuk mengetahui bagaimana implikasi dari implementasi e-government digunakan indikator sebagaimana hasil penelitian Buckley (2003) yang mencakup efficiency, fulfillment, reliability, dan privacy. Pendekatan yang digunakan dalam disertasi ini adalah pendekatan kualitatif, dengan lokasi penelitian di internal Pemerintah Kota Yogyakarta, Kecamatan Umbulharjo, Kecamatan Jetis, dan Kecamatan Gondokusuman. Adapun proses pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, focus group discussion, dan pengamatan di lokasi penelitian. Temuan mendasar dalam penelitian ini diantaranya adalah adanya fakta bahwa e-culture ternyata menjadi basis dalam pembentukan dan keberhasilan e-government. Selain itu, penerapan unsur-unsur e-government yaitu e-administration, e-services dan e-society terbukti mampu menciptakan nilai-nilai dan pola-pola baru, baik dalam sistem layanan maupun komunikasi antara pemerintah dan masyarakat yang pada akhirnya mempengaruhi ketercapaian pembangunan daerah. Problematika mendasar yang ditemukan diantaranya adalah kurangnya kesiapan aparatur dan masyarakat dalam menghadapi kehadiran e-government.
This study factually describes how e-culture can be the basis for the establishment of e-government and how the e-government is applied in the City of Yogyakarta and its implications for the achievement of regional development. In the research process, besides founded on a variety of literary studies, this study also refers to several related theories. E-government theory which was used in this study was the one proposed by Heeks that the implementation of e-government should include elements of e-administration, e-services/e-citizen and e-society (Heeks in Ndou, 2004:6). Related to e-culture as the basis for e-government establishment, the theoretical approach used was the theory of Koentjaraningrat (1984) about the three manifestations of culture. In addition, to strengthen the theoretical approaches, especially on the formation of a technology literate society, this study used Dijk’s theory about the formation of e-culture. In this case, Dijk argues that e-culture is formed because of the existence of motivation, ownership, usage, and skills in utilizing information technology (Van Dijk in Haan and Huysmans, 2003). Meanwhile, to know the implications of e-government implementation, this study used indicators as in Buckley’s research results (2003) that include efficiency, fulfillment, reliability, and privacy. The approach used in this dissertation was a qualitative approach and the research site was in the internal government of Yogyakarta City, Umbulharjo District, Jetis District, and Gondokusuman District. The data were collected through interviews, focus group discussions, and observations at the study site. The main findings of this study include the fact that the e-culture turned out to be the basis for the establishment and success of e-government. In addition, the application of e-government elements, such as e-administration, e-services and e-society, proved to be capable of creating new values and patterns, both in systems and communication services between government and society, which in turn affects the achievement of regional development. The main problems that were found are the lack of aparatus and public’s preparedness in facing the presence of e-government. Research keywords: e-culture, e-government, and regional development
Kata Kunci : e-culture, e-government, dan pembangunan daerah