INTENSITAS KOMUNIKASI TENTANG SEKS DENGAN TEMAN SEBAYA SEBAGAI FAKTOR RISIKO PERILAKU INISIASI SEKS PRANIKAH REMAJA DI BALI HALAMAN JUDUL
Ni Komang Yuni Rahyani, S.Si.t., M.Kes, Prof. dr. M. Hakimi., Sp.OG (K)., Ph.D.
2014 | Disertasi | S3 Kedokteran UmumLatar Belakang: Pendidikan seksualitas melalui kelompok remaja mengundang berbagai kontroversi karena intensitas komunikasi tentang seks oleh remaja dengan teman sebayanya diduga berpengaruh pada kejadian melakukan hubungan seksual pranikah untuk pertama kalinya. Tujuan: Mengkaji pengaruh intensitas komunikasi tentang seks dengan teman sebaya pada umur terjadinya hubungan seksual pranikah untuk pertama kalinya pada remaja usia 15-18 tahun di Bali. Metode: Studi longitudinal dengan pengamatan selama 16 bulan. Populasi penelitian adalah siswa 2 sekolah tingkat 10 dan 11 di Kota Denpasar. Sampel dipilih dari 626 siswa yang awalnya tidak berisiko tinggi terhadap perilaku seksual menyimpang (tidak merokok, tidak minum minuman beralkohol, tidak menggunakan Napza, tidak pernah berhubungan seksual pranikah). Umur melakukan hubungan seksual pranikah untuk pertama kalinya (variabel terikat) dikumpulkan melalui wawancara 3 kali follow-up antara Oktober 2011-Februari 2013. Kuesioner terstruktur digunakan untuk mengukur intensitas komunikasi tentang seks dengan teman sebaya (variabel bebas); niat untuk melakukan hubungan seks pertama kali (variabel proksimat); variabel sikap tidak langsung dan tidak langsung terhadap hubungan seks pranikah pertama kali, tekanan normatif, dan self-efficacy (variabel antara); dan variabel luar (komunikasi dengan orangtua dan paparan pornografi). Analisis statistik menggunakan Kaplan-Meier life table untuk mengetahui probabilitas hubungan seksual pranikah yang pertama kali menurut umur. Pengujian model statistik menggunakan Cox- Proportional Hazards Regression untuk mengestimasi angka Risk Ratio (RR). Hasil: Dari 169 remaja yang tergolong tidak berisiko (48 laki-laki dan 129 perempuan), insiden terjadinya hubungan seksual pranikah untuk pertama kali pada laki-laki adalah 14,6% dan perempuan 6,6%. Risiko remaja laki-laki yang sudah tidak perjaka sampai usia 18,5 tahun empat kali lebih tinggi dibandingkan dengan remaja perempuan yang sudah tidak perawan (58,5% vs 14,2%). Intensitas komunikasi tentang seks dengan teman sebaya yang tinggi meningkatkan RR sebesar 2,2 (95% CI = 0,6 - 8,8) untuk melakukan hubungan seks pranikah yang pertama kalinya, juga niat yang tinggi untuk melakukan hubungan seksual dan terpapar pornografi dengan RR = 3,8 (95% CI = 0,8 - 17,8) dan RR = 1,3 (95% CI = 0,4 – 6,6), meski secara statistik tidak signifikan. Faktor-faktor lain sebagai faktor protektif ialah: sikap tidak langsung (RR = 0,7; 95% CI = 0,2 - 2,5), sikap langsung (RR = 0,2; 95% CI = 0,0 - 2,7), tekanan normatif (RR = 0,7; 95% CI = 0,2 - 3,1), dan self-efficacy (RR = 0,8; 95% CI = 0,2 - 3,7), dan komunikasi dengan orangtua (RR = 0,6; 95% CI = 0,1 - 5,7). Kesimpulan: Intensitas komunikasi dengan teman sebaya tentang seks meningkatkan risiko hubungan seksual pranikah pertama kali, yaitu diantaranya melalui niat yang tinggi. Pada laki-laki hal ini lebih kuat pengaruhnya dibanding perempuan.
Background: Sex education through youth groups brings about controversy because the intensity of communication about sex by adolescents with their peer is suspected to affect the initiation of premarital sexual intercourse. Objective: To assess the effects of the intensity of communication about sex with peer at the age of initiating premarital sexual intercourse in adolescents aged 15- 18 years in Bali. Methods: The longitudinal study with observations over 16 months. The study population was students in two high schools grade 10 and 11 in the city of Denpasar. Samples were selected from 626 students who were not initially at high risk for sexually deviant behavior (not smoking, not drinking alcohol, not using drugs, and never having sex before marriage). The age when initiating premarital sexual intercourse (the dependent variable) was collected by means of interviews in a three time follow-up from October 2011 to February 2013. The structured questionnaires were used to measure the intensity of communication about sex with peer (the independent variable); intention to initiate sex (the proximate variable); direct and indirect attitude against initiating premarital sex, normative pressure, and self-efficacy (the intervening variables); and communication with parents and exposure to pornography (the extraneous variables). Statistical analysis used the Kaplan-Meier life table to determine the probability of premarital sexual intercourse initiation by age. Statistical model testing used Cox- Proportional Hazards Regression to estimate the value of Risk Ratio (RR). Results: Of the 169 adolescent samples classified as not at risk (48 males and 129 females), the incidence of premarital sexual intercourse initiation in male and female was 14.6% and 6.6%, respectively. The risk of adolescent male of losing their virginity until the age of 18.5 was four times higher than female (58.5% vs. 14.2%). The high intensity of communication about sex with peer friends increased RR of 2.2 (95% CI = 0.6 to 8.8) times for initiating premarital sex, also intention to have sexual intercourse and exposure to pornography with an RR value = 3.8 (95% CI = 0.8 to 17.8) and RR = 1.3 (95% CI = 0.4 to 6.6), although no statistical significant. Other influencing factors as protective factors were indirect attitude (RR = 0.7, 95% CI = 0.2 to 2.5), direct attitude (RR = 0.2, 95% CI = 0.0 to 2.7), normative pressure (RR = 0.7, 95% CI = 0.2 to 3.1), self-efficacy (RR = 0.8, 95% CI = 0.2 to 3.7), and communication with parents (RR = 0.6, 95% CI = 0.1 to 5.7). Conclusions: The intensity of communication about sex with peer increased the risk of initiating premarital sexual intercourse; one of them was through high intention. The influence in males adolescent was stronger than that in females adolescent.
Kata Kunci : remaja Bali, intensitas komunikasi, teman sebaya, niat, hubungan seks pranikah pertama kali