Laporkan Masalah

PENGARUH PERUBAHAN KADAR AIR TANAH AKIBAT SIKLUS BASAH-KERING TERHADAP PARAMETER KEKUATAN DAN PENGEMBANGAN TANAH LEMPUNG

DHANUR WICAKSONO, Ir. Agus Darmawan Adi, M.Sc., Ph.D.

2014 | Skripsi | TEKNIK SIPIL

Tanah lempung mempunyai sensitifitas yang besar terhadap perubahan kadar air tanah, mengembang ketika kadar air naik, dan menyusut ketika kadar air turun. Penelitian ini, dilakukan untuk mengetahui pengaruh perubahan kadar air tanah terhadap kekuatan dan pengembangan tanah lempung, terutama pada tanah lempung yang ada di permukaan. Dalam rangka mensimulasikan perubahan kadar air pada tanah permukaan yang di lapangan, maka tanah lempung diberi perlakuan siklus basah-kering. Siklus basah-kering, dilakukan dengan cara membasahi tanah sampai pada kondisi jenuh, dan kemudian tanah dikeringkan dengan suhu ≤ 60 oC. Setelah tanah kering, kemudian tanah dijenuhkan lagi sehingga terbentuk suatu siklus. Susunan partikel lempung yang telah mengalami perlakuan siklus basah-kering, diketahui melalui pengujian scanning electron microscope (SEM). Kemudian, untuk parameter kekuatan dan pengembangan lempung tersebut, didapatkan dari pengujian tekan bebas dan pengujian pengembangan satu-dimensi ASTM. Lempung pada penelitian ini mempunyai plastisitas tinggi dan bisa dikategorikan sebagai tanah ekspansif, serta jenis mineral yang paling dominan pada lempung adalah montmorillonite. Susunan partikel lempung dengan perlakuan siklus basah-kering, berbentuk teratur tetapi tidak terlalu padat. Kekuatan lempung dengan perlakuan siklus basah-kering lebih tinggi ± 13 kPa daripada kekuatan lempung yang dipadatkan, namun kekuatan lempung dengan perlakuan siklus basah-kering belum bisa dikorelasikan. Untuk potensi pengembangan dan tekanan pengembangan, lempung yang dipadatkan memberikan nilai yang lebih besar daripada lempung dengan perlakuan siklus basah-kering, dengan selisih nilai ± 1,0 % pada potensi pengembangan dan ± 17,5 kPa pada tekanan pengembangan. Kata Kunci: lempung, kekuatan tanah, pengembangan tanah, SEM

Clay has a great sensitivity to changes in soil moisture content, expands when the moisture content rise, and shrink when the moisture content down. This study, conducted to determine the effect of changes in soil moisture content on the strength and swell of clay, especially on clay soil on the surface. In order to simulate the changes in the moisture content of the soil surface in the field, then clays treated with wet-dry cycle. Wet-dry cycle, done by wetting the soil to the saturated conditions, and then the soil dried at a temperature of ≤ 60 ° C. Once the soil reaches the dry conditions, then the soil is saturated again to form a cycle. The clay particles structure of the soil which have undergone treatment of wet-dry cycle, known by the scanning electron microscope (SEM) test. Then, for the strength parameters and the swell parameters of clay, obtained from the unconfined compression test and the one-dimensional swell test of ASTM. Clays in this study have high plasticity and can be categorized as expansive soil, as well as the most dominant mineral in the clay is montmorillonite. The composition of the clay particles with wet-dry cycle treatment, regularly shaped but not too dense. The strength of clays by wet-dry cycle treatment is higher ± 13 kPa than the strength of compacted clays, but the strength of clays and the treatment of wet-dry cycle can not be correlated. For the swelling potential and swelling pressures, the compacted clays give a greater value than the clay with wet-dry cycle treatment, the differences in value are ± 1,0 % at the swelling potential and ± 17,5 kPa at the swelling pressures. Keywords: clay, soil strength, soil swell, SEM

Kata Kunci : lempung, kekuatan tanah, pengembangan tanah, SEM


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.