Laporkan Masalah

SEJARAH SOSIAL KOMUNITAS HAJI URBAN DI BANDUNG, 1906-1930AN

DEDE ROHAYATI, Prof. Dr. Bambang Purwanto, M.A.

2014 | Tesis | S2 Sejarah

Perubahan sosial ekonomi pada awal abad ke-20 di Bandung akibat adanya dialektika antara gagasan modernitas Barat dengan gagasan pribumi Sunda yang menggunakan Islam sebagai basisnya. Dialektika ini ditanggapi dengan cara yang hampir sama dengan jalur yang berbeda. Kalangan menak (bangsawan) merespon modernitas dengan bersekolah di sekolah Belanda. Lulusan sekolah tersebut biasanya mendapat kesempatan menjadi pegawai pemerintah. Kalangan somah (orang biasa) juga memanfaatkan sistem ini sehingga memiliki kesempatan untuk menaikkan status sosial mereka. Selain bekerja sebagai pegawai pemerintah, somah biasanya memilih menjadi pedagang. Selain itu, somah juga berhaji yang menjadikan mereka beralih status menjadi kelas menengah secara sosial. Beberapa orang pedagang yang berhaji mendirikan perhimpoenan soedara di Bandung. Himpoenan Soedara menarik untuk ditulis, selain karena didirikan oleh para haji juga karena keunikan mereka menyikapi modernitas Barat itu sendiri. Pendirian lembaga ekonomi ini dapat dilihat sebagai cara para haji melakukan modernisasi terhadap masyarakat Sunda di Bandung. Gejala modernitas Barat awal abad ke-20 di Bandung direspon oleh kalangan santri kota dengan sikap akomodatif, sehingga mereka mampu memadukan gagasan kemajuan dan ke- Barat-an dengan kebudayaan lokal, Sunda-Islam. Wujud dari sikap ini mengejawantah dalam bentuk lembaga simpan-pinjam Himpoenan Soedara. Sebagai sebuah organisasi modern, Himpoenan Soedara memiliki struktur kelembagaan yang organis dan asosiasonal, lepas dari sosok pemimpin kharismatis. Lembaga simpan-pinjam ini kemudian menjadi lembaga perbankan yang kini lebih dikenal dengan sebutan “Bank Saudara”. Kelas menengah santri perkotaan telah lahir di Bandung awal abad ke-20. Hal ini tidaklah mengherankan sebab Bandung telah tumbuh menjadi kota metropolitan kecil yang bermula dari kehadiran orang-orang Eropa. Di samping itu juga karena letak Bandung yang tidak jauh dari ibukota negara Indonesia kolonial, Batavia.

This research focuses on Haji’s responds toward urban modernity in Bandung in the early 20th century. It covers from 1906 to 1930s. The study reveals a concept of middle class santri bearing on economic activities in a modernizing city, namely Bandung. The research belongs to social history whose focus on haji as a middle class santri in urban Bandung. It restrains to merely focus on haji in commercial sectors, mostly batik and wooden goods. Two groups of haji have special attention in this research namely Saudagar Bandung and Kancana Saparakanca. Saudagar Bandung is a representation of migrant in origin; otherwise Kancana Saparakanca is ascribed as sedentary Haji community in urban Bandung. Responds of middle class santri toward modernity in the early 20th century was accommodative by combining progress ideas from West with local-Islamic-based culture. City santri was characterized as urban, mobile and reformist which presenting themselves in modern organization. Himpoenan Soedara reflected new solidarity amid city santri. Its modern character came in the modern model of saving and loan institution which free from charismatic leader. The institution, which subsequently became a bank, was the product of haji in early 20th century

Kata Kunci : kota, kelas menengah santri, Himpoenan Soedara


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.