DIAGNOSIS HARA MAKRO PADA TANAMAN JATI (Tectona grandis L. f.) DENGAN METODE DRIS, M-DRIS DAN CND
SURYANAJI, Prof. Dr. Ir. Cahyono Agus D.K., M.Agr.Sc.
2014 | Tesis | S2 Ilmu KehutananKlon unggul Jati Plus Perhutani (JPP) memerlukan metode diagnosis untuk manajemen haranya. DRIS (Diagnosis and Recommendation Integrated System), M-DRIS (Modified-Diagnosis and Recommendation Integrated System) dan CND (Compositional Nutrient Diagnosis) digunakan untuk diagnosis keseimbangan hara dengan mempertimbangkan interaksinya dalam jaringan tanaman. Penelitian bertujuan untuk mengetahui metode diagnosis terbaik serta pengaruh pemupukan yang telah dilakukan pada tanaman JPP terhadap keseimbangan dan tingkat kebutuhan hara makronya. Uji pemupukan berbagai dosis Urea, TSP dan KCl dilaksanakan di Petak 139d, RPH Kedungringin, BKPH Ngliron KPH Randublatung. Sampel tanaman dengan kriteria pertumbuhan „kurang‟ diambil di Petak 96b, RPH Cepu, BKPH Sekaran, KPH Cepu, sedangkan dengan kriteria pertumbuhan „optimal‟ diambil di Petak 4a, RPH Kricak, BKPH Sonde KPH Ngawi. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada tahun 2013. Variabel yang diukur adalah tinggi, diameter, volume tanaman, hara makro total pada daun terdiri dari nitrogen (N), fospor (P), kalium (K) kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). Korelasi volume tanaman dengan indeks M-DRIS (-0,60) lebih baik dibandingkan DRIS (-0,56) maupun CND (-0,41), karena M-DRIS telah menghitung interaksi dua pasang hara serta mengakomodir hara lain yang tidak ikut dilakukan analisis didalam indeks berat keringnya. Hasil uji pemupukan KPH Randublatung menunjukkan bahwa kombinasi Urea 50g + TSP 50g + KCl 25g menghasilkan keseimbangan hara terbaik dengan indeks keseimbangan M-DRIS dari sebesar 3,83 pada kontrol, menjadi 1,81 dan perubahan tingkat kebutuhan hara dari Mg>P>K>N>Ca pada kontrol menjadi P>K>N>Mg>Ca. Lahan mengalami kekurangan P dan kelebihan Ca karena adanya fiksasi P oleh Ca sehingga diperlukan perbaikan manajemen hara P yang tepat. Kata Kunci : diagnosis, jaringan tanaman, keseimbangan hara, klon unggul
Teak Plus Perhutani Clone needs a diagnosis method for its nutrient management. DRIS (Diagnosis and Reccomendation Integrated System), M-DRIS (Modified-Diagnosis Recommendation Integrated System) and CND (Compositional Nutrient Diagnosis) are used to diagnosis nutrient balance by considering the interaction between nutrient in plant tissues. The objectives of this research to determine the best diagnosis method, fertilizing effect on Jati Plus Perhutani nutrient balance and the order of macronutrient requirement.Fertilizing study of Urea, TSP and KCl and their dosage were conducted in KPH Randublatung. Low teak productivity sample taken from KPH Cepu and high productivity from KPH Ngawi on 28 month old plantation. Measurement and foliar sampling were conducted in 2013. Parameters measured were height, diameter, volume, and total of foliar nutrient of nitrogen (N), phosporus (P), potassium (K), calsium (Ca) and magnesium (Mg).Correlation between plant volume and M-DRIS index (0,60) better than DRIS (-0,56) or CND (-0,41), because M-DRIS method have calculated two pair of nutrient interaction and accommodate another nutrients that are not include it. Fertilizing of Urea 50g + TSP 50g + KCl 25 g produce nutrient balance base on M-DRIS index (1,81) better than control (3,83) and changes the order of nutrient requirement from Mg>P>K>N>Ca on control into P>K>N>Mg>Ca. Land status are defficiency P and excess Ca because fixation P by Ca, so it needs better P nutrient management. Keywords: diagnosis, nutrient balance, plant tissue, plus clone, teak
Kata Kunci : diagnosis, jaringan tanaman, keseimbangan hara, klon unggul