PENGARUH UMUR DAN FREKUENSI PEMOTONGAN TANAMAN KALIANDRA (Caliandra calothyrsus) TERHADAP KADAR KANDUNGAN NUTRIEN, PRODUKSI, TANIN DAN KECERNAAN NUTRIEN SECARA IN VITRO
ABQORIYAH, Prof. Dr. Ir. Ristianto Utomo, S.U.
2014 | Tesis | S2 Ilmu PeternakanPenelitian bertujuan untuk mengetahui kandungan nutrien, produksi, kadar tanin, dan kecernaan nutrien in vitro tanaman kaliandra yang dipotong pada umur dan frekuensi pemotongan yang berbeda. Penelitian dilaksanakan di Lahan Hijauan Pakan Ternak Satuan Kerja Kaligesing, Dinas Peternakan Jawa Tengah, Kecamatan Kaligesing, Purworejo selama bulan Juni 2012 sampai Juni 2013. Penelitian terdiri dua tahap penelitian, tahap I terdiri dari (P1) dipotong umur 6 minggu, (P2) dipotong umur 8 minggu, (P3) dipotong umur 12 minggu, (P4) dipotong umur 16 minggu. Penelitian tahap II tanaman dilakukan pemotongan selama 48 minggu, berdasarkan perlakuan yang ditentukan yaitu (F1) dipotong umur 6 minggu dengan frekuensi 8 kali pemotongan, (F2) dipotong umur 8 minggu dengan frekuensi 6 kali pemotongan, (F3) dipotong umur 12 minggu dengan frekuensi 4 kali pemotongan, (F4) dipotong umur 16 minggu dengan frekuensi 3 kali pemotongan. Tanaman kaliandra pada saat pemanenan dipotong berdasarkan edible portion (bagian yang dapat dimakan oleh ternak, yang terdiri dari semua batang muda dan daun). Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok. Blocking dilakukan terhadap kemiringan tanah. Hasil analisis penelitian I menunjukkan bahwa kadar bahan kering tertinggi terdapat pada P3 (31,25%) dan berbeda nyata (P<0,05) dengan P1 (26,51%) dan P4 (28,11%). Kadar protein kasar tertinggi pada perlakuan P2 (21,10%) dan tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan P1 (21,09%), P3 (19,20%), kadar protein kasar terendah terdapat pada perlakuan P4 (18,04%). Nilai TDN berbeda tidak nyata (P>0,05) pada umur pemotongan yang berbeda. Hasil penelitian tahap II menunjukkan bahwa produksi bahan segar, bahan kering, bahan organik, dan protein kasar tertinggi terdapat pada F4 dan berbeda nyata (P<0,05) dengan F1, F2, F3. Peningkatan kecernaan terjadi dengan peningkatan umur pemotongan. Disimpulkan bahwa semakin tua umur pemotongan tanaman kaliandra semakin tinggi produksi hijauan, bahan kering, kadar tanin, tetapi kadar protein semakin menurun, sedangkan semakin sering dilakukan pemotongan tanaman kaliandra semakin menurun produksi hijauan, bahan kering, kecernaan tetapi kadar tanin semakin meningkat. Kata kunci: Kaliandra, Umur pemotongan, Frekuensi pemotongan, Kandungan nutrien
The aimed of this research was to determine nutrient and tannin content, production, and in vitro digestibility of Caliandra calothyrsus at different cutting ages and defoliation. This research conducted for 4 months (June 2012 – June 2013) at forage feed Kaligesing area, Animal department, Purworejo, Central Java. Two phases of research, the first treatment given was P1 (cutting of age 6 weeks), P2 (cutting of age 8 weeks), P3 (cutting of age 12 weeks), and P4 (cutting of age 16 weeks). The second treatment given was F1 (cutting every 6 weeks, with 8 cutting interval), F2 (cutting every 8 weeks, with 6 cutting interval), F3 (cutting every 12 weeks, with 4 cutting interval), and F4 (cutting every 16 weeks, with 3 cutting interval). Caliandra calothyrsus was cut at edible portion (part of plant, where get eaten by animal like young stem and leaf). This research used randomized complete block design, blocking at slope soil. Parameters measured were production like dry matter and organic matter production, and nutrient content like dry matter, crude protein, crude fiber, and in vitro digestibility. The result first phases showed that the highest dry matter was at P3 (31.25%) and different (P<0.05) with P1 (26.51%) and P4 (28.11%). The highest crude protein was at P2 (21.10%) and not different with (P>0.05) with P1 (21.09%) and P3 (19.20%). The lowest crude protein was at P4 (18.04%). TDN not different (P>0.05) in the different defoliation.The result second phases showed that the highest production of fresh matter, dry matter, organic matter, and crude protein was at F4 and different (P<0.05) with F1, F2, and F3. Improving digestibility was occured with increased of cutting age. Theolder cutting Calliandra calothyrsus the more forage prdoduction, dry matter, tannin, but crude protein will decrease. Interval cutting Calliandra calothyrsus would decrease forage production and dry matter, and digestibility. Tannin will increase with the increase of cutting interval. Keywords: Calliandra calothyrsus, Cutting age, Cutting interval, Nutrient content
Kata Kunci : Kaliandra, Umur pemotongan, Frekuensi pemotongan, Kandungan nutrien