ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN MEDIA CETAK LOKAL DALAM ISU GENDER DI YOGYAKARTA TAHUN 2013
FITA PURWANTARI, Muhamad Sulhan, S.IP., M.Si.
2014 | Skripsi | Ilmu KomunikasiKonsep gender masih harus melakukan beberapa adaptasi sebagai sistem nilai setempat, media massa dipandang punya kedudukan strategis melakukan perubahan di masyarakat. Paradoks terjadi ketika berita yang dihasilkan masih bias gender. Ideologi patriarki sebagai ideologi umum masyarakat Indonesia, membawa konsekuensi pada posisi dan peran perempuan di media, sebab bagaimanapun media tidak hidup dalam situasi yang bebas nilai terhadap lingkungan sosialnya. Fakta ini jelas bertolak belakang dengan gagasan normatif yang muncul dalam UU Pers No. 4/ Tahun 1999 tentang Asas, Fungsi, Hak, Kewajiban dan Peranan Pers dan Kode etik Jurnalistik Pasal 1. Penelitian dengan metode analisis framing ini berupaya memberikan gambaran mengenai pembingkaian berita terkait isu gender yang di muat di media cetak lokal Yogkarta yaitu Kedaulatan Rakyat dan Harian Jogja. Dari data yang dikumpulkan, diperoleh gambaran bahwa Rekonstruksi berita SKH Kedaulatan Rakyat menyuarakan suara dari para pihak yang mempunyai konsen terhadap isu gender, sedangkan rekonstruksi pemberitaan Harian Jogja lebih menyuarakan suara masyarakat sipil. Harian Jogja menggunakan narasumber sebagai kambing hitam (spacegoat) untuk mendiskreditkan dan memberikan label tertentu kepada perempuan. Deskripsi pemberitaan SKH Kedaulatan Rakyat menekankan peran perempuan dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Sedangkan pemberitaan Harian Jogja lebih mendeskripsikan mengenai sensualitas. Harian Jogja menempatkan wartawan/editor perempuan lebih banyak di isu gender, namun tidak menjamin pemberitaannya sensitif gender. Bingkai berita terkait isu gender pada SKH Kedaulatan Rakyat memberikan apresiasi kepada perempuan, sedangkan pemberitaa Harian Jogja belum memberikan apresiasi pada perempuan.
The gender concept is still have to do some adaptations as a local value system, the mass media tend to have strategic position to make a change in society. Paradox happened when the news which they produce is still gender biased. The patriarch ideology as a society mainstream ideology in Indonesia, bring consequences to women’s role and position in the mass media, however, the media does not live in value free-condition towards its social environment. This fact is absolutely contradictive with the normative idea emerge on UU Pers No. 4/Tahun 1999 tentang Asas, Fungsi, Hak, Kewajiban dan Peranan Pers dan Kode etik Jurnalistik Pasal 1. This framing analysis research is try to give decsription about news framing related to gender issues that published by the local print media in Yogyakarta, Kedaulatan Rakyat and Harian Jogja. From the collected data, this research put on desription that the news reconstruction from SKH Kedaulatan Rakyat bring the voice of gender issues concerned-side, meanwhile the news reconstruction from Harian Jogja tend to deliver the voice of civil society. Harian Jogja used source as a scapegoat to discredit and give certain label to women. Kedaulatan Rakyat’s news decription stressed on women roles and eliminating violence againts women. Whereas, Harian Jogja’s news is more describing sensuality. Harian Jogja put woman journalist/editor more in gender issue, but it did not guarantee its news would be gender sensitive. News framing related to gender issue on Kedaulatan Rakyat give appreciation to women, while Harian Jogja’s news is not give the same yet.
Kata Kunci : Media Massa, Gender, Analisis Framing