Hubungan jenjang kepangkatan jabatan, dan profesionalitas akademisi :: Studi tentang hubungan jenjang kepangkatan, jabatan, dan profesionalitas akademisi di lingkungan UGM
SUPRAJA, M, Prof.Dr. Sunyoto Usman
2001 | Tesis | S2 SosiologiPendidikan merupakan basis yang sangat penting dalam pembentukan masyarakat profesional. Hal h i tidak lain karena masyarakat profesional membangun kompetensi dirinya atas dasar ilmu pengetahwin (science) dan keahlian (skill) melalui proses panjang pendidikan. Maka dari itu pendidikan hingga dewasa ini dianggap sebagai alat untuk mencapai mobilitas sosial vertikal, baik secara sosial, ekonomi maupun politik. Selain itu sebagai sarana untuk membebaskan masyarakat dari belenggu struktur, sistem dan lingkungan sosial yang sudah mapan. Pendidikan dalam konteks ini adalah juga sarana untuk memecahkan berbagai masalah @robZern posingl. Pahdangan pendidikan di atas merupakan latar belakang yang ikut mewarnai kaum profesional kita, tidak terkecuali akademisi. Sebagai bagian dari kaum profesional dalam tatanan masyarakat kapitalis, profesi akademis adalah profesi yang cukup dihargai oleh masyarakat. Demikian yang dirasakan oleh para akademisi UGM. Mereka memiliki kompetensi keilmuan, dan membangun kompetensi keilmuannya melalui proses yang panjang, dimulai sej ak mahasiswa, hingga saat menetapkan dan menjalankan profesinya. Memiliki perpustakaan pribadi, berlangganan jurnal, memiliki waktu baca, mempersiapkan materi perkuliahan, menulis dan meneliti, selain itu menerima kritik. Kesemua ini merupakan bagian dari cara para akademisi untuk memelihara, mempertahankan dan mengembangkan kompetensi keilmuan mereka sebagaimana dicerminkan melalui Tridharma Perguruan Tinggi. Selain dipengaruhi oleh berbagai faktor di atas, penelitian yang dilakukan dengan metode kualitatif dan mengambil responden dari kalangan akademisi, birokrasi kepegawaian dan mahasiswa ini membuktikan bahwa tidak ada hubungan yang tegas antara profesionalitas seorang akademisi dengan jenjang kepangkatan dan jabatan yang dimilikinya. Apalagi kenaikan jenjang kepangkatan dan jabatan seorang akademisi selain dipengaruhi oleh respon birokrasi kepegawaian f a t a s , ia dipengaruhi juga oleh respon akademisi bersangkutan. Semakin birokrasi kepegawaian responsif terhadap kenaikan kepangkatan dan jabatan akademisi, maka semakin cepat pula kenaikan kepangkatan dan jabatan dapat dicapai. Dan demikian sebaliknya. Oleh sebab itu pandangan di atas dengan sendirinya mengaburkan pandangan formal yang selama ini berkembang, yakni bahwa jenjang kepangkatan dan jabatan memiliki hubungan yang kuat terhadap profesionalitas seorang akademisi. Temuan juga menunjukkan bahwa dikalangan mahasiswa profesionalitas akademisi justeru dinilai bukan berdasmkan senioritas baik karena kepangkatan, jabatan, atau jenjang akademik yang dimiliki, melainkan berdasarkan kemampuan membangun komunikasi dalam proses belajar mengajar, sehingga atas kriteria ini pula mahasiswa lebih cenderung mengelompokkan akademisi menjadi dua golongan, yakni tua dan muda. Tua merupakan simbol feodalisme (otoriteriter) dan muda simbol dialogis (demokratis).
Education is a very important basis for the formation of professional community. This is obviously because professional community build their selfcompetence based on the science and skills through a long process of education. Therefore, education to date is considered a means of achieving vertical mobility either socially, economically or politically. Apart fiom those, it is also a means of freeing people fiom the structural chain, established system and social environments. Education under such a context is also a method of solving problem Such a notion on education was a background colouring our professionals with no exception of academic people. As a part of professionals in the capitalistic community hierarchy, academic profession was relatively appreciated. This was felt by academic people in UGM. They have a scientific competence and build it through a long-term process starting fiom they are university students to the time they decide to take the profession and go through it. Having a private library, subscribing to scientific journals, having time for reading, preparing materials for teaching, writing and undertaking research as well as receiving any critiques, all of these are part of the ways how the professional nurture, maintain and develop their scientific competence as reflected in Three Duties of Colleges (Tridhurmu'Perguruan Tinggi) Apart from the influence of those foregoing factors, the research employing qualitative method and having the respondents from lecturers, university workers and students proved that there was no significant relation between an academic professionalism and the rank and degree shehe held. Moreover, the promotion of rank and degree depended on the desire of related lecturers apart from the response of the university workers. The more responsive the university workers were, the faster the promotion could be had. Otherwise was true of the case. Therefore, the foregoing notion in turn thwarted the present belief that the hierarchy of rank and degree bore relation to the lecturers' professionalism. Besides, in the eyes of the students, professionalism was not viewed according to the seniority in rank or degree lecturers belonged to, but was based on the capabilities of building communication in the teaching-learning process. Consequently, the students classified two types of lecturers, namely the older and younger. The older symbolises feudalism (or authoritarian) and the younger represents dialogue (or democratic)
Kata Kunci : Masyarakat Akademis,Profesionalisme,Pangkat dan Jabatan