Laporkan Masalah

Perbandingan Kebijakan Publik Kota Yogyakarta dan Kota Berlin dalam Membentuk dan Memelihara Identitas Kota Toleran

IQBAL ZAKKY HASBIANTO, Drs. Samsu Rizal Panggabean, M.Sc.

2014 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Pada tanggal 3 Maret 2011, kota Yogyakarta mengukuhkan diri sebagai Kota Toleran di hadapan berbagai macam lapisan masyarakatnya. Tetapi kota Yogyakarta bukanlah satu-satunya kota yang memiliki identitas sebagai Kota Toleran. Kota Berlin sejak lama dikenal dunia sebagai Kota Toleran. Lahirnya identitas Kota Toleran tidak akan berarti tanpa adanya kebijakan-kebijakan publik yang mendukung identitas tersebut. Kedua kota memiliki kebijakan-kebijakan publik yang berbeda dalam rangka mendukung identitas Kota Toleran yang disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan masyarakat mereka masing-masing. Keduanya sama-sama memiliki permasalahan dalam mengelola kemajemukan di tengah masyarakatnya yang terbagi menjadi dua, yakni penduduk asli dan pendatang. Kota Yogyakarta haarus berhadapan dengan para pendatang yang didominasi oleh warga nusantara yang datang dari daerah lain, sedangkan Kota Berlin harus berhadapan dengan para imigran. Kebijakan-kebijakan publik yang dikeluarkan dalam rangka membentuk dan memelihara identitas Kota Toleran, nyatanya memberikan hasil yang berbeda antara kota Yogyakarta dan kota Berlin. Di kota Berlin, penduduk semakin saling menghargai keberagaman dan semakin saling menjaga satu sama lain. Sedangkan di kota Yogyakarta, tingkat kekerasan semakin meningkat antara penduduk asli terhadap pendatang, maupun sebaliknya.

On May 3, 2011, the city of Yogyakarta declared itself as the City of Tolerance. But the city of Yogyakarta is not the only one that has the identity as the City of Tolerance. The city of Berlin has long been known as the City of Tolerance. However, the identity of the city would not mean anything without the support of public policies from the city’s government. Both cities have their own public policies to support the identity of the city as the City of Tolerance. This difference is caused by the condition and the different needs of their communities. Both have the same problem to manage the plurality of their communities that is divided into two: natives and newcomers. The city of Yogyakarta have to deal with the newcomers dominated by citizens of the country that are derived from other regions, while the City of Berlin have to deal with immigrants. Public policies that were made in order to establish and maintain identity as the City of Tolerance, in fact gives different results between the city of Yogyakarta and the city of Berlin. In the city of Berlin, people are getting more respectful to diversity in their community, while in the city of Yogyakarta there are increasing levels of violence happen between natives and newcomers, or vice-versa.

Kata Kunci : identitas kota, perdamaian, toleransi.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.