Laporkan Masalah

CERITA DUA KELUARGA DI DALAM BUDAYA NGENGER (Relasi patron client antara anak ngenger dan orang tua penerima di RT 5/RW 36, Dusun Babadan, Sendangtirto, Berbah, Sleman)

SARI HANDAYANI, Milda Longgeita Pinem, S.Sos, MA.

2014 | Skripsi | ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)

Permasalahan eksploitasi di ranah domestik yang dialami oleh pekerja rumah tangga, salah satunya muncul karena merasa memiliki seseorang akibat dari sudah diberikannya sejumlah materi kepada orang tersebut. ILO turun tangan di dalam permasalahan terkait eksploitasi.Penelitian ini mencoba melihat praktik ngenger sebagai sebuah fenomena yang dapat digunakan untuk menelaah permasalahan yang ada. Tidak sekedar melihat sebuah fenomena dari luarnya saja, namun mencoba masuk lebih dalam dan memahami kembali kejadian-kejadian yang terungkap.Dari data-data yang didapat kemudian melihat hubungan apa yang ada di dalam praktik ngenger. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode pengumpulan data secara kualitatif, dengan pengamatan berperan serta (pengamatan terlibat). Dalam penentuan informan menggunakan purposive sampling. Untuk melihat kebenaran data yang ditemukan maka penelitian ini menggunakan teknik triangulasi dengan tujuan mengungkap fakta yang sebenarnya terjadi. Data yang terkumpul dari informan kemudian dipadukan dengan hasil observasi yang dilakukan untuk menghindari data yang bias. Dusun Babadan menjadi lokasi yang dipilih dan berfokus kepada satu wilayah RT yaitu RT 5. Masyarakat RT 5 memiliki karakteristik yang kental dengan kegiatanagama Islam. Masjid Al Ijtihaad menjadi tempat sentral di dalam menjalankan kegiatan agama. Dengan latar belakang masyarakat asli yang awalnya kurang agamis, mengalami perubahan ketika masuknya para pendatang dari daerah lain. Gotong royong masih menjadi hal yang dianut di dalam setiap kegiatan di RT 5. Dapat ditemukan di beberapa kegiatan, antara lain kegiatan agama di bulan Ramadhan, membenarkan saluran pengairan, pelaksanaan qurban Idul Adha dan membersihkan wilayah RT 5 dari sampah. Hubungan patron client menjadi hubungan yang terlihat jelas di dalam praktik ngenger. Terdapatnya ketidaksamaan (inequality) antara anak ngenger dengan orang tua penerima ngenger, menjalani proses tatap muka (face to face character) yang dilakukan setiap harinya serta tindakan yang luwes dan meluas (diffuse flexibility) terjadi di dalam praktik ngenger. Timbal balik menjadi kunci di dalam hubungan ini. Ngenger dapat memfasilitasi pihak yang terbatas di dalam mengakses sumber daya. Konsep kelayakan kerja (ILO) belum dapat diterapkan di Indonesia yang bukan berlatar belakang negara industry, namun dari praktik ngenger terlihat sebuah bentuk kerja layak dengan caranya sendiri. Sehingga dibutuhkan kehati-hatian di dalam mengadopsi sebuah kebijakan dari kacamata Barat agar terhindar dari pembuatan kebijakan yang tidak sesuai dengan keadaan masyarakat. Kata kunci : ngenger, patron client

-

Kata Kunci : ngenger, patron client


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.