Laporkan Masalah

PETANI TANGGUH LERENG MERAPI: (Studi Partisipasi Warga Dalam Rehabilitasi Bencana Erupsi Merapi 2010

ALAM SURYA GUMILANG, Dr. Bambang Hudayana, MA.

2014 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA

Erupsi Merapi tahun 2010 menyebabkan rusaknya lingkungan, karena abu vulkanik Merapi yang ditimbulkan mampu meluluh lantakkan permukiman penduduk dan lahan pertanian sebagai tulang punggung perekonomian warga. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap sistem pengetahuan masyarakat petani sayuran dalam melakukan program rehabilitasi pertanian, sekaligus memahami tingkat keberhasilan mereka dalam beradaptasi terhadap lingkungan yang rentan terhadap bencana erupsi Gunung Merapi. Penelitian mengenai sistem pengetahuan tersebut, dinilai sangat penting, guna memahami perasaan dan pikiran mereka dalam merepresentasikan kebudayaannya terhadap lingkungan sosial, budaya, maupun lingkungan alam, khususnya di Dusun Gowok Sabrang, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Guna mencapai tujuan di atas, penelitian ini menggunakan metode observasi partisipan (participant observation) untuk menangkap secara langsung fenomena sosial budaya masyarakat setempat. Di samping itu, metode wawancara mendalam (indepth interview) digunakan pula dengan menerapkan metode wawancara berstruktur (guide interview) yang sudah dipersiapkan sebelumnya dalam bentuk pedoman wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa perubahan pola usaha tani pasca erupsi seperti pemanfaatan mengolah lahan sepetak, dan pola tanam tumpang sari dengan masa panen yang singkat, serta efisiensi ongkos produksi perawatan tanaman, menjadikan petani mampu bangkit kembali beraktifitas seperti semula. Pola penghematan biaya produksi pertanian yang dilakukan oleh warga pasca erupsi semacam ini terus menerus dilakukan, hingga pada akhirnya masing-masing warga terbukti mampu menambah beberapa petak lahan garapannya yang berarti keadaan perekonomian mereka beranjak membaik. Kesuksesan warga, merehabilitasi pertanian pasca erusi tersebut, sudah pasti tidak dapat dilepaskan dari berbagai bantuan, dan yang lebih utama adalah kemadirian dari warga sendiri. Sikap kebersamaan, kerja keras, pantang menyerah serta egaliteren merupakan fondasi utama yang terbukti mampu menghadapi bencana erupsi Merapi. Makna yang dapat dipetik dari fenomena ini adalah bahwa, tinggal dan menggantungkan hidup di daerah rawan bencana sungguh sangat beresiko, namun dengan strategi adaptasi yang tepat, bencana tidak harus dipandang sebagai ancaman, karena bisa dieliminir.

Merapi eruption in 2010 caused damage to the environment, due to volcanic ash devastated posed capable of settlements and agricultural land as the backbone of the economy of the people. This research aims to reveal knowledge systems of the society vegetable peasant in conducting agricultural rehabilitation programs, as well as to understand their level of success in adapting to the environment that is susceptible to eruptions of Mount Merapi. Research about knowledge system considered to be very important, in order to understand their feelings and thoughts in representing the culture of the social environment, culture, and natural environment, particularly in Gowok Sabrang, Sengi Village, Dukun Sub-district, Magelang Regency, Central Java Province. To achieve the objectives, this research applies a participant observation methods to directly capture socio-cultural phenomenon in local society. In addition, indepth interview is also used by applying a structured interview method (guide interview) that has been prepared in the form of interview guide. The results of this research indicate that changes in farming patterns, such as the use of post-eruption cultivate a patch of land, intercropping and planting pattern with a short harvest period, as well as the efficiency of the treatment plant production costs, making the farmer is able to bounce back to normal activities. The pattern of agricultural production cost savings made by residents after the eruption of this kind continue to be done, and eventually each resident proved able to add some plot land is state of the economy, which means they get better. Kesuksesan warga, merehabilitasi pertanian pasca erusi tersebut, sudah pasti tidak dapat dilepaskan dari berbagai bantuan, dan yang lebih utama adalah kemadirian dari warga sendiri. Sikap kebersamaan, kerja keras, pantang menyerah serta egaliteren merupakan fondasi utama yang terbukti mampu menghadapi bencana erupsi Merapi. Makna yang dapat dipetik dari fenomena ini adalah bahwa, tinggal dan menggantungkan hidup di daerah rawan bencana sungguh sangat beresiko, namun dengan strategi adaptasi yang tepat, bencana tidak harus dipandang sebagai ancaman, karena bisa dieliminir. Success peasant rehabilitating the agricultural post eruption, certainly can not be separated from a variety of assistance, and that is more important is autonomy of its own peasant. The attitude of togetherness, hard work, never give up and egaliteren are the main foundation that proved capable of facing the Merapi eruption. Meaning that can be gleaned from this phenomenon, living and livelihood in disaster-prone areas is extremely risky, but with appropriate adaptation strategies, disaster should not be viewed as a threat, because it can be eliminated.

Kata Kunci : Erupsi Merapi, Rehabilitasi pertanian, Adaptasi, Merapi Eruption, Agricultural Rehabilitation, Adaptation


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.