PERILAKU CREEP BALOK LAMINATED VEENER LUMBER KAYU SENGON (Paraserianthes falcataria) DENGAN TUMPUAN KANTILEVER
ROBBII ADRIANSYAH KULLIT, Ali Awaludin, S.T., M.Eng., Ph.D.
2013 | Skripsi | TEKNIK SIPILCreep merupakan pertambahan defleksi pada kayu seiring dengan waktu dengan beban yang tetap yang besarnya sangat dipengaruhi oleh jenis kayu, pembebanan dan kondisi lingkungan. Perilaku ini merupakan perilaku jangka panjang yang dapat mengakibatkan defleksi yang melebihi perencanaan awal lama setelah bangunan didirikan. Penelitian perilaku creep pada balok kantilever LVL Sengon dilakukan dengan memberikan pembebanan sebesar 30%, 40%, dan 50% dengan kondisi temperatur yang diatur dan tidak diatur selama dua minggu. Stress level ditentukan berdasarkan beban runtuh dari pengujian Modulus of Rupture kayu. Pengujian pertama faktor creep untuk stress level 30%, 40%, dan 50% didapat sebesar 0,27; 0,33; dan 0,40 untuk ruangan dengan temperatur yang diatur, sementara untuk ruangan dengan temperatur yang tidak diatur didapat faktor creep sebesar 0,26; 0,46; dan 0,63. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pertambahan stress level dan temperatur yang berfluktuasi akan memperbesar defleksi creep hingga 60% dari defleksi awal. Balok kantilever memberikan defleksi creep yang relatif rendah dibandingkan dengan balok sederhana diberbagai kondisi temperatur. Perubahan temperatur ruangan memberikan efek yang cukup signifikan pada kayu solid dibanding dengan LVL. Faktor creep yang didapat dari pengujian selama dua minggu belum dapat digunakan sebagai acuan perancangan. Untuk mendapatkan hasil yang ideal lama pengujian creep adalah satu siklus musim.
Wood behavior whether it is solid wood or LVL is strongly influenced by time, one of which is creep behaviour. This behavior is a long term behavior that can lead to excessive deflection from the initial design long after the building was erected. The creep behavior of Sengon LVL beam with cantilever support research was conducted by applying 30%, 40%, and 50% loading with controlled and uncontrolled temperature condition in two weeks. Stress levels are determined from fracture load from timber Modulus of Rupture test. In the first test the obtained creep factor to the stress level of 30%, 40%, and 50% are 0,27; 0,33, and 0,40 for the controlled room temperature, while for a room with an uncontrolled temperature the obtained creep factor are 0,26; 0,46, and 0,63. The results of these studies indicate that increase in stress level and fluctuating temperature will increase the creep deflection up to 60% from initial deflection. Cantilever beam provides relatively lower creep deflection compared to simple beam in any temperature condition. Changes in room temperature gives a significant effect on the solid wood compared to LVL. Creep factor obtained from two weeks of testing can not be used as a reference for design. For ideal results duration of creep test is one season cycle.
Kata Kunci : -