Laporkan Masalah

PENDEKATAN NEAR MISS DALAM PERBAIKAN KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN MATERNAL DI SISTER HOSPITAL PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Yeanne Seviani Sarimin, Prof. dr. Mohammad Hakimi, Sp.OG(K), Ph.D

2014 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar belakang: Provinsi NTT melaksanakan program sister hospital pada tahun 2010, sebagai bagian dari revolusi KIA. Pada tahun 2011, ibu yang meninggal di non fasilitas kesehatan sebesar 46%. Kematian di non fasilitas kesehatan ini, pada tahun 2010 adalah 55%, dengan demikian terjadi penurunan sebesar 9%. Kematian ini berpindah ke fasilitas kesehatan yang belum memadai (polindes, poskesdes), Puskesmas PONED, dan RS. Audit maternal yang efektif seyogyanya dapat memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan maternal. Namun demikian, meskipun audit maternal telah diperkenalkan di Indonesia sejak tahun 1994, hingga kini belum membawa perubahan yang signifikan. Pendekatan near miss merupakan strategi untuk mereduksi kematian maternal, dan meningkatkan pemahaman faktor risiko protektif untuk survival. Tujuan: tujuan utama penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh program sister hospital terhadap perbaikan pelayanan kesehatan maternal di NTT. Hal ini dilaksanakan dengan membandingkan manajemen komplikasi, dan mengukur severe maternal outcome pada sister hospital, melalui pendekatan near miss. Penelitian ini juga mengidentifikasi penyebab utama dan yang berkontribusi terhadap severe maternal outcome. Metode: penelitian ini menggunakan desain interrupted time series (ITS) quasiexperimental, dengan switching replications (sequential intervention). Rumah sakit yang dipilih terdiri dari sister hospital 1 dan sister hospital 2, dengan masing-masing diwakili oleh 1 RS. Analisis data menggunakan pendekatan kuantitatif, dimana seri pengamatan dianalisis dengan uji statistik untuk data seri, yaitu menggunakan model ARIMA (1,1,1) untuk RS TTS dan (0,0,0) untuk RS TTU. Hasil: Penyebab utama severe maternal outcome yang ditemukan pada tahun 2010-2012 adalah PEB/Eklampsia (53,27%), dan perdarahan berat postpartum (35,51%). Komplikasi berat maternal yang mengancam kehidupan tersebut, diperberat dengan adanya anaemia berat sebesar 5,92%. Hal lainnya yang berkontribusi yaitu near miss telah dialami ibu sebelum mencapai RS sebesar 88,41%. Manajemen dan pencegahan komplikasi sesuai rekomendasi WHO, setelah program SH dilaksanakan, mengalami perbaikan (50,92% di RS TTS dan 5,83% di RS TTU), dengan kecenderungan mengalami penurunan seiring berjalannya waktu (estimasi RS TTS) dan kecenderungan membaik untuk estimasi RS TTU. Mortality index setelah program SH mengalami penurunan di RS TTS (10% menjadi 2,69%) dan di RS TTU meningkat (1,8% menjadi 5,5%). Program ini mencegah 70% kematian maternal di RS TTS (RR 0,3), akan tetapi setelah intervensi program SH di RS TTU, kematian maternal meningkat 3 kali lebih tinggi dibandingkan sebelum program dilaksanakan (RR 3,1). Mortality index RS dengan dengan program SH lebih tinggi (MI 5,71%), dibandingkan RS kontrol (MI=2,15%). Wanita dengan komplikasi berat maternal yang tiba dan dirawat di RS dengan program ini, beresiko meninggal hampir 3 kali (RR 2,66) lebih besar, dibandingkan RS kontrol. Latar belakang: Provinsi NTT melaksanakan program sister hospital pada tahun 2010, sebagai bagian dari revolusi KIA. Pada tahun 2011, ibu yang meninggal di non fasilitas kesehatan sebesar 46%. Kematian di non fasilitas kesehatan ini, pada tahun 2010 adalah 55%, dengan demikian terjadi penurunan sebesar 9%. Kematian ini berpindah ke fasilitas kesehatan yang belum memadai (polindes, poskesdes), Puskesmas PONED, dan RS. Audit maternal yang efektif seyogyanya dapat memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan maternal. Namun demikian, meskipun audit maternal telah diperkenalkan di Indonesia sejak tahun 1994, hingga kini belum membawa perubahan yang signifikan. Pendekatan near miss merupakan strategi untuk mereduksi kematian maternal, dan meningkatkan pemahaman faktor risiko protektif untuk survival. Tujuan: tujuan utama penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh program sister hospital terhadap perbaikan pelayanan kesehatan maternal di NTT. Hal ini dilaksanakan dengan membandingkan manajemen komplikasi, dan mengukur severe maternal outcome pada sister hospital, melalui pendekatan near miss. Penelitian ini juga mengidentifikasi penyebab utama dan yang berkontribusi terhadap severe maternal outcome. Metode: penelitian ini menggunakan desain interrupted time series (ITS) quasiexperimental, dengan switching replications (sequential intervention). Rumah sakit yang dipilih terdiri dari sister hospital 1 dan sister hospital 2, dengan masing-masing diwakili oleh 1 RS. Analisis data menggunakan pendekatan kuantitatif, dimana seri pengamatan dianalisis dengan uji statistik untuk data seri, yaitu menggunakan model ARIMA (1,1,1) untuk RS TTS dan (0,0,0) untuk RS TTU. Hasil: Penyebab utama severe maternal outcome yang ditemukan pada tahun 2010-2012 adalah PEB/Eklampsia (53,27%), dan perdarahan berat postpartum (35,51%). Komplikasi berat maternal yang mengancam kehidupan tersebut, diperberat dengan adanya anaemia berat sebesar 5,92%. Hal lainnya yang berkontribusi yaitu near miss telah dialami ibu sebelum mencapai RS sebesar 88,41%. Manajemen dan pencegahan komplikasi sesuai rekomendasi WHO, setelah program SH dilaksanakan, mengalami perbaikan (50,92% di RS TTS dan 5,83% di RS TTU), dengan kecenderungan mengalami penurunan seiring berjalannya waktu (estimasi RS TTS) dan kecenderungan membaik untuk estimasi RS TTU. Mortality index setelah program SH mengalami penurunan di RS TTS (10% menjadi 2,69%) dan di RS TTU meningkat (1,8% menjadi 5,5%). Program ini mencegah 70% kematian maternal di RS TTS (RR 0,3), akan tetapi setelah intervensi program SH di RS TTU, kematian maternal meningkat 3 kali lebih tinggi dibandingkan sebelum program dilaksanakan (RR 3,1). Mortality index RS dengan dengan program SH lebih tinggi (MI 5,71%), dibandingkan RS kontrol (MI=2,15%). Wanita dengan komplikasi berat maternal yang tiba dan dirawat di RS dengan program ini, beresiko meninggal hampir 3 kali (RR 2,66) lebih besar, dibandingkan RS kontrol.

Background: NTT provincial implement its sister hospital program in 2010, as part of the revolution KIA. Maternal deaths move to inadequate health facilities (Poskesdes and polindes), health centers basic emergency obstetric neonatal care, and hospitals, by 9% in 2011 compared to 2010 (46% to 55%). Maternal effective audit should be improving the quality of maternal health services. Nevertheless, although the maternal audit has been introduced in Indonesia since 1994, has yet to bring a significant change. Near miss approach is a strategy to reduce maternal mortality and improve understanding of protective risk factors for survival. Objectives: The main purpose of this study is to determine the effect of sister hospital program to the improvement of maternal health services in the province. This is done by comparing the complication management, and severe maternal outcome measure at its sister hospital. This study also identifies the main cause and that contribute to severe maternal outcome. Methods: The study design using interrupted time series (ITS) quasi-experiments, with switching replications (sequential intervention). Selected hospitals consisting of sister hospital 1 and sisters hospital 2, with each represented by one hospital. Data analysis using a quantitative approach, where the series were analyzed with statistical tests for the data series, using ARIMA models (1,1,1) for TTS hospital and (0,0,0) for TTU hospital. Results: The main cause of severe maternal outcomes were found in 2010-2012 was PEB/Eclampsia (53.27 %), and severe postpartum hemorrhage (35.51 %). Severe maternal complications are life -threatening, severe anemia exacerbated by the presence of 5.92%. Other things that contribute to that near miss had experienced mothers before reaching the hospital at 88.41%. Management and prevention of complications according to WHO recommendations, once implemented sister hospital program, improved (50.92 % in TTS and TTU 5.83%), with a tendency to decrease over time (estimate TTS hospital ) and a tendency to improved estimates TTU hospital. Mortality index after the sister hospital program has decreased in TTS ( 10 % to 2.69 % ) and in TTU increased (1.8 % to 5.5 %). This program prevents 70 % of maternal deaths in TTS (RR 0.3), but after the intervention sister hospital program in TTU hospital, maternal mortality increased 3 times higher than before the program is implemented (RR 3.1). Hospital Mortality index with sister hospital program higher (MI 5.71 %), compared to control hospitals (MI=2.15 %). Women with severe maternal complications were arriving and being treated in hospital with this program, nearly 3 times the risk of death (RR 2.66) greater than control hospitals . Conclusion: The quality of maternal health services, demonstrated by indicators CFR, MI and MNMMR. All three indicators were found in this study, suggests that it is very important to prepare the components of hospital in terms of resources, implementation of management and managerial complications, so that interventions implemented will provide maximum results.

Kata Kunci : kualitas pelayanan maternal, audit maternal, pendekatan near miss, sister hospital, interrupted time series.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.