Laporkan Masalah

PENGARUH INTERVENSI DISKUSI KELOMPOK KECIL (DKK) DISERTAI UMPAN BALIK TERHADAP PERENCANAAN KEBUTUHAN OBAT TAHUN 2013 DI RSUD TIDAR KOTA MAGELANG

OCTARIANA SOFYAN, Dr. Dra. Chairun W, M.Kes, M.App.Sc, Apt.

2014 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang : Dalam meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat untuk memperoleh kesembuhan dan memulihkan kesehatan maka faktor yang sangat berpengaruh yaitu mengenai perencanaan kebutuhan obat yang memadai, baik jenis maupun jumlahnya. Permasalahan yang masih ditemui di RSUD Tidar Kota Magelang yaitu masih terdapat obat yang berlebih dan persentase ketepatan perencanaan kebutuhan obat yang rendah (<100%). Tujuan : Meningkatkan ketepatan perencanaan kebutuhan obat di RSUD Tidar Kota Magelang pada tahun 2013. Metode : Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuasi eksperimen dengan rancangan pretest – posttest design. Penelitian ini melihat indikator perencanaan kebutuhan obat sebagai hasil dari sebelum dan sesudah intervensi DKK. Hasil : 1) Rata-rata persentase kesesuaian obat dengan formularium pada kategori obat regular sebelum intervensi DKK sebesar 82,2% dan setelah intervensi DKK sebesar 84,1%, pada kategori obat ASKES sebelum intervensi DKK sebesar 95,1% dan setelah intervensi DKK sebesar 97,5%, pada kategori obat jamkesmas sebelum intervensi DKK sebesar 64,7% dan setelah intervensi DKK sebesar 81,8%. 2) Rata-rata persentase kesesuaian obat dengan DOEN tahun 2011 sebelum intervensi DKK pada kategori obat reguler adalah sebesar 65,6% dan setelah intervensi DKK sebesar 72,8%, pada kategori obat ASKES sebelum intervensi DKK sebesar 66,6% dan setelah intervensi DKK sebesar 69,1%, pada kategori obat jamkesmas sebelum intervensi DKK sebesar 68,7% dan setelah intervensi DKK sebesar 71,1%. 3) Alokasi dana obat yang dibutuhkan telah mencapai angka 100% terhadap dana yang tersedia. 4) Rata-rata persentase jumlah item obat yang ada dalam perencanaan dengan jumlah item obat dalam kenyataan pemakaian pada kategori obat regular sebelum intervensi DKK sebesar 124,6% dan setelah intervensi DKK sebesar 241,7%%, pada kategori obat ASKES sebelum intervensi DKK sebesar 185,5% dan setelah intervensi DKK sebesar 265,2%, pada kategori obat jamkesmas sebelum intervensi DKK sebesar 220,5% dan setelah intervensi DKK sebesar 399,8%. 5) Persentase ketepatan perencanaan pada kategori obat regular sebelum intervensi DKK sebesar 40,1% dan setelah intervensi DKK sebesar 10,4%, pada kategori obat ASKES sebelum intervensi DKK sebesar 13,5% dan setelah intervensi DKK sebesar 4,9%, pada kategori obat jamkesmas sebelum intervensi DKK sebesar 13,8% dan setelah intervensi DKK sebesar 4,5%. Kesimpulan : Intervensi DKK yang disertai umpan balik dapat meningkatkan beberapa indikator ketepatan perencanaan kebutuhan obat di RSUD Tidar Kota Magelang antara lain persentase kesesuaian obat dengan formularium dan persentase kesesuaian obat dengan DOEN. Indikator alokasi dana menunjukkan bahwa dana yang dibutuhkan telah sesuai dengan dana yang tersedia. Indikator persentase jumlah item obat yang ada dalam perencanaan dengan jumlah item obat dalam kenyataan pemakaian mengalami peningkatan dan persentase ketepatan perencanaan mengalami penurunan akibat anggaran obat yang berlebih.

Background: In order to increase health service to people to obtain healing and restore health, very influencing factor is sufficient drug need planning, either for its type and amount. Problem faced in Magelang Tidar Hospital is excessive drug and low appropriate drug requirement plan (<100%). Aim: To increase appropriate drug need planning in Magelang Tidar Hospital in 2013. Method: This research used quasi experiment research design with pretestposttest design. It used indicator of drug need planning as output before and after FGD intervention. Results: 1) Average drug suitability with formulary for regular in before and after FGD intervention are 82.2% and 84.1%, for ASKES in before and after intervention are 95.1% and 97.5%, and for jamkesmas in before and after FGD intervention are 64.7% and 81.8%. 2) Average drug appropriateness with DOEN 2011 for regular in before and after FGD intervention are 65.6% and 72.8%, for ASKES in before and after intervention are 66.6% and 69.1% and for jamkesmas before and after FGD intervention are 68.7% and 71.1%. 3) Drug fund allocation has reached 100% of available fund. (4) Percentage of drug item amount in planning and real drug item in usage for regular drug before and after FGD intervention are 124.6% and 241.7%, for ASKES in before and after intervention are 185.5% and 265.2%, and for jamkesmas in before and after FGD intervention are 220.5% and 399.8%. (5) Percentage of planning appropriateness for regular drug before and after FGD intervention are 40.1% and 10.4%, for ASKES in before and after intervention are 13.5% and 4.9%, and for jamkesmas in before and after FGD intervention are 13.8% and 4.5%. Conclusion: FGD intervention with feedback can increase some appropriateness indicator of drug need planning in Magelang Tidar Hospital such as drug suitability with formulary indicator and drug suitability to DOEN indicator. Fund allocation indicted that required fund have accorded to available fund. Percentage of drug item amount in planning and in real usage is increase and percentage of planning appropriateness is decreased due to excessive drug budget.

Kata Kunci : Intervensi DKK, Perencanaan kebutuhan obat, RSUD Tidar Kota Magelang


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.