Laporkan Masalah

KOMIK PERANAKAN TIONGHOA PADA MASA ORDE BARU

IQRA REKSAMURTY, Baha'Uddin SS, M.Hum

2014 | Skripsi | ILMU SEJARAH

Pada saat Orde Baru, Masyarakat Tionghoa mendapatkan diskriminasi dalam banyak hal termasuk dilarangnya untuk mengekspresikan segala sesuatu yang berkenaan dengan etnis mereka. hal-hal berbau Tiongkok harus dipandang sebagai kebudayaan yang Asing yang mana tidak boleh diakui sebagai bagian dari diri mereka. Di lain sisi, banyak orang-orang Tionghoa yang memiliki nama besar dalam dunia Komik Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa komik merupakan salah satu media berekspresi . Tulisan ini akan membahas bagaimana komikus-komikus Tionghoa bersuara mengenai etnis mereka dalam karya-karya komik mereka. penelitian dilakukan dengan membaca komik-komik yang dibuat oleh komikus-komikus Tionghoa tersebut, dan mewawancarai para komikus, kolektor, dan pengamat, dan juga masyarakat Tionghoa secara umum. Hasil penelitian menunjukan bahwa kebanyakan komikus-komikus Tionghoa lebih memilih mencari aman dalam membuat komik dengan tidak menggunakan kesempatan tersebut untuk menyuarakan ke-etnisan mereka. hal itu mengindikasikan bahwa represi Orde Baru masih terlalu kuat, yang juga menunjukan melunturnya keTionghoaan di kalangan Tionghoa Peranakan

On the new order period, the Tionghoa (Chinese Indonesian) people got discriminated on many aspects of their life, including the prohibition of expressing anything related to their ethnicity. Chinese-esque things must be viewed as a foreign culture of which cannot be recognized as a part of themselves. On the contrary, there are many of the Tionghoa people who has a well-known reputation in the world of Indonesia's comics. Comic, as it is known, is one of the media used for expressing ideas. This paper will analyze how the Chinese-Indonesian comic artists speak out about their ethnicity in comic works. research done by reading the comics that made by the Chinese-Indonesian comic artists, interviewed the artists, collectors, and observers, as well as the Chinese community in general. This research will focus on how the Tionghoa comic authors preferred to \\"lay low\\" in creating their comics by not using the chance to voice their ethnicity. This indicates that the new order repression is still too powerful, and also showed the diminishing Tionghoa ethnicity within the Tionghoa descendants

Kata Kunci : Komik, Tionghoa, Orde Baru


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.