ANALISIS PRAGMATIS SERAT SOTIYARINONCE KARYA RADEN SOERJAPRANATA
BANU BADRIKA, Drs. Akhmad Nugroho, S.U.
2014 | Skripsi | SASTRA NUSANTARANaskah Serat Sotiyarinonce (1911), karya Raden Soerjapranata merupakan naskah koleksi Perpustakaan Kirti Griya, Perguruan Taman Siswa, Yogyakarta. Naskah ini memuat tentang ajaran yang bersifat didaktik (pendidikan), yang dituliskan dalam bentuk prosa. Dari isinya, naskah ini dapat digolongkan dalam jenis Sastra Wulang, yakni karya sastra yang berisikan ajaran bagi pembacanya. Ajaran di dalam naskah ini bertemakan pembentukan karakter pribadi, ajaran hidup bersosial di tengah masyarakat, ajaran tentang pekerjaan, berumah tangga, merawat dan mendidik anak, kesehatan dan juga larangan untuk berjudi atau madat. Oleh pengarangnya, Raden Soerjapranata, karya sastra ini ditujukan bagi para murid yang telah usai menuntut ilmu di sekolah (lulus). Karya ini diharapkan dapat membawa murid yang telah lulus, untuk siap menjalani hidup di tengah – tengah masyarakat, bersentuhan dengan praktek nyata, tidak lagi teori. Penelitian ini menyajikan suntingan teks, dan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia, secara sederhana. Kemudian dilakukan analisis kritik pragmatis. Secara singkat, penelitian pragmatis adalah cara melihat sebuah karya sastra, dari sudut pandang pembacanya. Di dalam penelitian ini, sudut pandang pembaca amatlah penting, karena pembaca adalah penentu makna dari sebuah karya sastra, pembaca adalah indikator utama dari sebuah karya sastra, apakah karya tersebut bisa dikatakan berkualitas atau tidak. Membaca, bukanlah sebuah persoalan yang sederhana. Pengarang karya sastra dan pembacanya, memiliki knowledge about concept atau bingkai pemikiran yang berbeda. Mungkin juga mewakili zamannya masing – masing. Pengarang yang membuat Serat Sotiyarinonce pada tahun 1911 di Batavia dan pembaca yang berada di tahun 2013, telah melewati rentang waktu kurang lebih 102 tahun. Jelas bahwa banyak terdapat perbedaan konsep dan pemikiran, antara pengarang dan pembaca. Kata “perang†di tahun 1911, mungkin dianggap sebagai tindakan yang ksatria dan nasionalis, tapi berbeda dengan konsep “perang†pada tahun 2013, yang dianggap sebagai tindakan yang penuh dengan kekerasan dan barbar. Didalam perbedaan itulah, kritik pragmatis diterapkan pada karya sastra ini.
Serat Sotiyarinonce (1911), Raden Soerjapranata’s work, is manuscript collection of Perpustakaan Kirti Griya, Perguruan Taman Siswa, Yogyakarta. The manuscript is about didactic lessons (education) in prose version. Based on the content, the manuscript can be grouped in Sastra Wulang, which is the literature contains lessons for the readers. The lessons theme is about a personal character building, social life, work, married, children educating, health, and gambSling and opium forbidding. The literature is made for graduate student of school. The expectation is the graduate student will be ready for life in society, doing the real practice, no more theory. The research provides text editing and translation from Javanese into Indonesian simply, and then it analyzes the literature with pragmatic criticism. In brief, pragmatic analysis is the way to analyze a literature from the reader’s point of view. It is important because the reader is the literature interpreter and the main indicator that determines the literature quality. Reading is not a simple matter. The author and the reader have difference knowledge and thought. Perhaps it is may also represent their own era. The author of Serat Sotiyarinonce in Batavia 1911 and the reader of 2013 have 102 years stretch of time. It is clear that author and reader have many different concept and thought. The word “perang†in 1911 may be considered as a gallance and nationalistic action. It is different with “perang†concept in 2013, which has violent and barbaric value. These are the differences that research wants to analyzes.
Kata Kunci : karya sastra, serat sotiyarinonce, ajaran pendidikan, karakter, pembaca, knowledge about concept, kritik pragmatis.