Laporkan Masalah

PERBEDAAN TEKANAN INTRAOKULAR DAN RADANG KORNEA PADA PEMBERIAN TETES MATA DEKSAMETASON DIBANDING FLUOROMETOLON PASCA PRK

Rinanto Prabowo, dr. Hastono, Sp.M(K).

2014 | Tesis | S2 Ked.Klinik/MS-PPDS

Photorefractive Keratectomy (PRK) dianggap aman dan efektif dalam manajemen miopia. Inflamasi kornea pasca PRK merupakan salah satu faktor yang akan mempengaruhi respon penyembuhan luka dan keakuratan hasil PRK, sehingga penggunaan tetes mata steroid pasca PRK merupakan hal yang sangat penting. Beberapa penelitian tentang efektivitas penggunaannya telah dilakukan. Dari penelitian sebelumnya diketahui bahwa tetes mata steroid merupakan bahan yang aman digunakan untuk menekan proses inflamasi setelah PRK. Salah satu efek samping dari penggunaan tetes mata steroid adalah peningkatan tekanan intraokular (TIO). Potensi terjadinya hipertensi okuli membatasi penggunaan kortikosteroid dalam penggunaan jangka panjang. Deksametason merupakan agen inflamasi kuat yang dari penelitian sebelumnya memiliki potensi menyebabkan peningkatan TIO lebih tinggi dibandingkan dengan fluorometolon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tekanan intraokular (TIO), reaksi radang seperti rasa nyeri, blefarospasme, hiperemi konjungtiva, dan lakrimasi pasca PRK antara yang menggunakan tetes mata deksametason dengan fluorometolon. Sebuah penelitian uji klinis quasi experimental pada 34 orang pasien dengan miopia > - 4 D. Pada 34 mata dilakukan operasi PRK dengan tetes mata setelah operasi menggunakan deksametason dan 34 mata menggunakan fluorometolon. Pemeriksaan lanjutan dilakukan pada hari ke 1, 7, 14, 30, 60 pasca PRK. Penilaian terstandarisasi dilakukan untuk menilai tekanan intraokular, derajat blefarospasme, hiperemi konjungtiva, dan lakrimasi dan penilaian gejala nyeri dilakukan dengan menggunakan visual analogue scale (VAS). Tidak ditemukan perbedaan bermakna pada peningkatan tekanan intraokular pada seluruh pemeriksaan antara dua kelompok (p>0,05). Nilai VAS untuk nyeri tidak berbeda bermakna pada seluruh pemeriksaan (p>0,05). Derajat hiperemi konjungtiva, blefarospasme, dan mata berair tidak ditemukan perbedaan bermakna pada seluruh pemeriksaan pasca operasi (p>0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat perbedaan bermakna pada peningkatan tekanan intraokular, reaksi radang seperti rasa nyeri, blefarospasme, hiperemi konjungtiva, dan lakrimasi pasca PRK antara dua kelompok pada seluruh pemeriksaan pasca operasi.

Photorefractive keratectomy (PRK) is generally believed to be safe and effective for treatment of myopia. Corneal inflammation after PRK have been reported as the common complication, so that the use of topical steroids are mandatory. Certain studies have reported the topical steroid effectiveness. Previous studies found that topical steroids are safe to suppress the inflammatory process after PRK. One drawback is that steroid responders may develop elevated intraocular pressure (IOP). The potential ocular hypertensive effect of corticosteroid has limited their prolonged use. Dexamethasone is strong anti-inflammatory drugs that have tendency to raise intraocular pressure higher than fluorometholone. To compare the intraocular pressure (IOP), degree of blepharospasme, conjunctival hyperemia, watering, and postoperative pain following the use of dexamethasone and fluorometholone for suppressing inflammatory process after PRK. A clinical trial was carried out in 34 patients with myopia > -4 D. In 34 eyes after PRK using topical steroid with dexamethasone and 34 eyes with fluorometholone. Follow up were taken at day 2, 7, 14, 30, 60 postoperatively. Standardised examination was used to assess IOP, degree of blepharospasme, conjunctival hyperemia, watering, and postoperative pain were assessed using visual analogue scale. No significant difference was found in intraocular pressure between both group (p>0,05). There was no significant difference of VAS score between both group at all follow ups (p>0,05). Degree of blepharospasme, conjunctiva hyperemia, and watering was not significant different between both group at all follow ups (p>0,05). We concluded that there was no significant difference in intraocular pressure, degree of pain, blepharospasme, conjunctiva hyperemia, and watering between dexamethasone and fluorometholone group.

Kata Kunci : -


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.