Berjilbab: Antara Kepatuhan dan Resistensi Studi Kasus Aturan Berjilbab di Lembaga Kursus Bahasa Inggris Di “Kampung Inggrisâ€, Pare, Kediri, Jawa Timur
Rose Kusumaning Ratri, Dr. Budiawan
2014 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan MediaPakaian telah lama meninggalkan fungsi alamiah sebagai pelindung tubuh. Ini karena pakaian mengandung makna yang lebih kompleks, yakni medium komunikasi artifaktual yang menyampaikan komunikasi nonverbal. Siapa Anda dan darimana Anda berasal dapat diketahui melalui bagaimana cara Anda berpakaian. Artinya, pakaian punya peran dan arti ganda: sebagai kulit sosial yang menunjukkan afiliasi budaya sekaligus cermin ekspresi identitas keindividuan. Maka, pluralitas makna berpakaian menjadikan analisis atasnya tidak cukup mengenakan pendekatan struktural atau sebaliknya menekankan subjektivitas individu tanpa mengaitkan dengan ciri keseluruhan sosial. Aturan berpakaian di sebuah lembaga kursus bahasa Inggris, Basic English Course (BEC) adalah sebuah fenomena yang tidak umum terjadi. Sebab, karakteristik kebanyakan lembaga pendidikan nonformal adalah membebaskan para peserta dalam pilihan berpakaian. Aturan berpakaian yang diterapkan adalah kewajiban berjilbab bagi peserta perempuan beragama Islam. Aturan berjilbab tersebut menjadi problematis dan menarik karena BEC tidak berafiliasi pada organisasi masyarakat berbasis keagamaan tertentu. Kepemilikan dan pengelolaan BEC dimiliki dan dikelola oleh perseorangan. Namun, pemahaman atas aturan berjilbab tidak melulu sebagai ujud representasi pelaksanaan perintah agama. Ini karena dalam pluralitas makna berpakaian, tidak menutup kemungkinan ada perbedaan antara motivasi dan interpretasi atau antara tujuan dan praktik berjilbab. Dengan mengangkat kisah tentang pengalaman para peserta kursus, penelitian ini menjelaskan praktik berjilbab sebagai respons dari aturan berjilbab. Analisis dilakukan untuk menjelaskan pluralitas makna jilbab. Arah penelitian bergerak dari konsep jilbab secara umum kemudian mengerucut pada konteks aturan berjilbab di lembaga kursus. Tujuannya adalah menjelaskan jejaring pemikiran yang melatarbelakangi aturan berjilbab dan mengeksplorasi bentuk penerimaan atas aturan tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut, digunakan konsep habitus Pierre Bourdieu dalam menjelaskan struktur yang terstrukturasi dalam aturan tersebut tanpa mengesampingkan kedirian individu. Selanjutnya, untuk mendedah mengapa aturan tersebut berhasil mapan diterapkan, digunakan perspektif Foucauldian untuk menelusuri wacana-wacana yang terbangun dalam lingkup ranah sosial BEC.
Clothes have been left their natural function as a body protector. This is because clothes have a complex meaning, that is as an artifactual that delivering nonverbal communication. Who are you and where do you come from can be known from the way you are wearing certain clothes. It means, clothes have their roles and double senses: as a social skin that showing the culture afiliation all at once mirror of individual identity exspression. Therefore, the plurality sense of clothing make the analysis toward them cannot be enough using structural approach or for the opposite emphasizing individual subjectivity without linking the whole social characteristic. The rules of using clothes in an English Course, Basic English Course (BEC) is uncommon phenomenon. It is because nonformal English Course usually let their students to wearing their favorit clothes. The rules of clothing that is implied in that English Course is the obligation to wearing a veil for women moslem students. The rules of using veil becoming a problematic and interesting matter because BEC do not affiliation toward religious-based community organizations. This institute is owned and managed by individual. But, the comprehension toward the using of veil not merely a religious command. This is because on plurality meaning of clothing, there are a possibility of difference motivation and interpretation or between the purpose and practice of veiling. By lifting the story about the experience of the course, the participants in this research explain practices using veil as a response from the rules of using veil. Analysis is conducted to explain a plurality of the significance of the veil. The direction of research move from the concept of the veil in general then reduce in the context of the rules using veil in an institution course. The goal is to explain network of the thought which is the rationale behind the rules of using veil and explore the form of the approval of the the rule. To reach the goal, the concept of habitus Pierre Bourdieu in clarifying structure that is arranged in that rule without rulling out each of individual is used. Furthermore, to explain why the rules applied has been successfully established, the Foucauldian perseption is used for tracking the ideas that is established on social domain of BEC.
Kata Kunci : veil, habitus, and discourse, habitus, jilbab, dan wacana