Laporkan Masalah

KONTESTASI IDENTITAS (Studi Analitis Terhadap Gikiri dan Kekristenan di Kao Halmahera Utara)

Agnes Megy Takaendengan, Prof. Dr. Irwan Abdullah

2014 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya

Gikiri merupakan agama pribumi orang Kao yang mengalami kebangkitan kembali ketika terjadinya konflik sosial di Kao pada tahun 1999 antara orang Kao sebagai pribumi dan orang Malifut sebagai etnis pendatang. Dalam konteks sosiokeagamaan di Kao sebelumnya menempatkan agama Kristen Protestant dan Gikiri ke dalam oposisi biner, Kekristenan pada satu sisi menjadi agama kebenaran yang dapat membawa manusia pada keselamatan, kebaikan dan kedamaian. Di sisi lain Gikiri adalah kafir, sesat dan dianggap sebagai bagian dari kuasa kegelapan, sehingga gikiri mengalami eradikasi dan tercerabut dari konteks budayanya sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konflik sosial sebagai ranah perjuangan bagi agen-agen yaitu Kekristenan, Gikiri serta negara dalam kontestasi dan perjuangan simbolik untuk mendapatkan posisi dan modal. Tetapi justru di dalam konflik sosial, Gikiri mampu memainkan peranan penting dalam kehidupan orang Kao ketika berhadapan dengan krisis, Gikiri menegaskan identitas baik sosial, budaya dan religiositas orang Kao, sehingga momentum ini menjadi awal kebangkitan Gikiri. Hal ini menunjukan bahwa identitas adalah hasil dari suatu konstruksi yang tidak stabil dan dapat mengalami perubahan khususnya dalam konteks orang Kao, pengakuan terhadap identitas subordinan terjadi melalui kontestasi yang berdampak pada adanya habitus rekognasi, kesetaraan dan kompromi. Tesis ini dimulai dengan menggambarkan tentang Kao sebagai wilayah maupun konteks sosial, budaya dan agama yang membentuk identitas diri sebagai orang Kao dalam pendekatan etnografi sebagai acuan untuk mendeskripsikan pemahaman orang Kao tentang identitas keagamaan lokal-nya. Kemudian pembahasan tentang Gikiri akan dimulai dengan menempatkan Gikiri sebagai suatu elemen penting dalam konstruksi identitas bersama peranannya dalam aspek-aspek kehidupan orang Kao. Gikiri menjadi agama pribumi yang telah membentuk kesadaran orang Kao akan agama, sehingga sekalipun ia mengalami eradikasi, tidak berarti lenyap, karena ia tetap hidup dalam kesadaran maupun praktek hidup seharihari orang Kao.

Gikiri an indigenous religion of Kao revived during ethnic conflict in Kao on 1999. The conflict entangled Native Kao and New comer Makian who lived in Malifut the land of Kao. Even though conflict brought high tension of socio-politic, economy and cultural for both ethnic groups, For Kao people, conflict as a media of contestation in which reconstructed Kao`s cultural identity in Gikiri. It is a Kao`s indigenous religion that has been alienated and marginalized since Zending era that has introduced them with Christianity. In Protestant-Kao` socio-religious mapping put Christianity and Gikiri in a binary opposition in which Christianity is a truth religion that could bring human to salvation, goodness and peacefulness. On the other hand, Gikiri is infidel (kafir) and related to evil spirits. This research aims to analyze socio-ethnic conflict which became a field of struggle for agents of Gikiri, Christianity and the State at that time that were in contestation to each other by using such strategies of symbolic struggle to gain position, power and capital. However, in the field of conflict Gikiri played important role to help Kao people to overcome the crises. Gikiri`s power was used during the conflict to represent social, culture and “religious” identities of Kao as a native people to against Malifut people. That time was a precious moment for its revival in Protestant-Kao community. In this case, identity is an unstable construction; Gikiri in the past was subordinated and alienated but in the conflict era by using any symbolic struggle of its agents, Gikiri produced new habitus of recognition, equality and compromise. This thesis starts with picturing Kao in its regional, social, culture and religious context to explain about the society of Kao and Gikiri as their social identity. I use ethnography approach to explain their understanding of their local identity. The discussion of Gikiri is started to posit Gikiri in Kao` history and its role in shaping their religious identity. In fact, alienation of Gikiri brings another way of its represent through everyday practice of Kao people.

Kata Kunci : Gikiri, Kekristenan, Habitus, Ranah, Kontestasi, Rekognasi, Kesetaraan dan Kompromi.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.