INFLASI DINAMIK DI INDONESIA: MODEL HYBRID NEW KEYNESIAN PHILLIPS CURVE DALAM PERSPEKTIF DATA PANEL PROVINSI
CHANDRA UTAMA, Prof. Dr. Insukindro, M.A.
2014 | Tesis | S2 Ilmu Ekonomi dan Studi PembangunanInflasi yang tinggi adalah permasalahan penting dalam perekonomian sehingga harus dikendalikan. Pengendalian tersebut membutuhkan kebijakan yang didasarkan pemahaman yang baik mengenai inflasi dinamik. Riset yang telah dilakukan di Indonesia umumnya menganalisis inflasi dinamik menggunakan data nasional sedangkan riset ini menggunakan data panel provinsi. Data nasional memiliki kelemahan karena cenderung didominasi provinsi di Jawa sedangkan data panel provinsi lebih menggambarkan inflasi dinamik di seluruh wilayah Indonesia. Penelitian ini menggunakan data kuartalan yang mencakup periode 2005.III- 2013.III. Hasil empiris-yang diestimasi menggunakan Generalized Method of Moment (GMM)-menunjukkan bahwa pola pembentukan ekspektasi inflasi daerah adalah backward looking dan forward looking dengan forward looking lebih dominan. Persistensi inflasi juga diketahui rendah sehingga penyesuaian inflasi berjalan cepat. Variabel lain yang mempengaruhi inflasi adalah kesenjangan output dan perubahan jumlah uang di provinsi. Selain itu, variabel lebaran juga menyebabkan inflasi meningkat. Dominasi perilaku forward looking menunjukkan bahwa pelaku ekonomi merespon informasi masa datang dan kebijakan yang kredibel dengan cepat. Selain itu rendahnya persistensi inflasi menunjukkan bahwa pelaku ekonomi juga tidak menunda penyesuaian inflasi. Kondisi ini ini memungkinkan kebijakan target inflasi efektif. Pengaruh kesenjangan output menunjukkan bahwa ketika output perekonomian tinggi inflasi juga tinggi dan sebaliknya ketika output perekonomian rendah inflasi juga rendah. Hasil ini menunjukkan pentingnya pemahaman pada stage mana perekonomian daerah sedang berada. Selain itu, perekonomian provinsi membutuhkan kebijakan yang dapat mengelola permintaan. Selanjutnya penambahan uang yang tinggi menyebabkan inflasi tinggi dan sebaliknya jika tambahan uang dikurangi inflasi rendah. Pengaruh tambahan uang ini menunjukkan bahwa inflasi di daerah dapat dikendalikan menggunakan jumlah uang beredar. Hasil estimasi juga menunjukkan bahwa lebaran menyebabkan inflasi lebih tinggi sehingga diperlukan kebijakan yang dapat mengimbangi kenaikan harga ketika lebaran.
High inflation is one of major economic problems and must be controlled. Therefore it is essential to understand inflation dynamics in Indonesia. The previous studies are generally analyze inflation dynamics using national data, while this research uses the provincial panel data. National data have weakneses because it tends to be dominated provinces in Java, while the provincial panel data represent whole region or provinces in Indonesia. This study uses quarterly data covering the period 2005.III-2013.III. The empirical results-estimated using Generalized Method of Moment (GMM)-show that the expectation of inflation in provinces is formed from backward looking and forward looking behavior as forward looking is dominant behavior. Furthermore, the study find low inflation persistence in provinces then the price is adjusted rapidly. In addition, other variables that influence inflation are output gap and the change of money in provinces. On the other hand, the cyclical variabel, Eid (Islamic religious holidays) also cause inflation rise. The domintion of forward-looking behavior suggests that economic agents respond to the future information and credible policy quickly. In addition, the low inflation persistence also indicates that economic agents do not delay the inflation adjustment. This condition allows the effective inflation target policy. Furthermore, positive output gap causes hight inflation and negative output gap causes low inflation. This results implies the importance of understanding on which stage the provincial economy. In addition, the provinces economy requires policies to manage demand.Furthermore, the high increase of money led high inflation and low increase or decrease of money led low inflation. The result imply that inflation in the region can be controlled using the money supply. The estimation of inflation dinamic also show that the Eid (islamic religious holiday) lead to higher inflation so the policies that offset the price increase when Eid are essential.
Kata Kunci : Indonesia, hybrid NKPC, inflasi dinamik, inflasi provinsi, data panel, GMM. Klasifikasi JEL: E31, E12, C22