PENGARUH FERMENTASI BUNGKIL INTI KELAPA SAWIT MENGGUNAKAN ISOLAT BAKTERI SELULOLITIK DARI BELALANG KEMBARA (Lokusta migratoria L.) DALAM PAKAN TERHADAP PENAMPILAN PRODUKSI PUYUH JANTAN
ARIF PRANATA, Prof. Dr. Ir. Lies Mira Yusiati, S.U.
2014 | Tesis | S2 Ilmu PeternakanPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fermentasi bungkil inti kelapa sawit (BIKS) menggunakan isolat selulolitik dari belalang terhadap nilai gizi dan pengaruh pemberian bungkil inti sawit fermentasi dalam pakan terhadap performa dari puyuh jantan (Cortunix – cortunix japonica). Bakteri selulolitik dari saluran pencernaan belalang dioptimasi pertumbuhannya dengan pH medium (4,0, 4,5, 5,0, 5,5, 6,0, dan 6,5), suhu (25, 30, 35, dan 40 oC) dan waktu inkubasi (1–6 hari). Fermentasi BIKS didesain dengan rancangan acak lengkap pola searah dengan 4 perlakuan pemberian isolat (0, 10, 20, 30%), setiap perlakuan terdapat 3 replikasi. Digunakan 210 ekor anak puyuh yang dibagi menjadi 7 perlakuan K (kontrol), NF10, NF20, NF30 yaitu penambahan BIKS sampai dengan 30% dari total ransum dan F10, F20 dan F30 pemberian BIKSF sampai dengan 30% dari total ransum. Masing-masing perlakuan terdapat tiga replikasi dan setiap replikasi terdiri dari 10 ekor puyuh. Ransum disusun dengan iso energi dan iso protein dengan kandungan energi 2900 kcal/kg dan PK 22%. parameter yang diamati adalah kualitas fisik dan kimia BIKSF, energi metabolisme, dan data penampilan produksi puyuh. Data yang didapat dianalisis menggunakan rancangan acak lengkap pola searah jika menunjukkan hasil yang signifikan dilanjutkan dengan uji Duncan new multiple range test (DMRT). Pertumbuhan bakteri optimum pada pH 5,5, suhu 30oC dan waktu inkubasi hari ke-2. Proses fermentasi menggunakan isolat selulolitik dari belalang tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap BK, BO, Abu, PK, dan LK namun berpengaruh secara nyata (P<0,05) terhadap SK (26,53, 23,73, 20,62, 20,73%), energi metabolisme (1739,696, 1776,116, 1873,384 dan 2014,888 Kcal/kg). Pemberian BIKSF dan BIKS tidak mempengaruhi berat badan puyuh dan persentase karkas. Pemberian BIKSF dan BIKS menyebabkan peningkatan konsumsi pakan (68,50, 77,00, 80,08, 73,88, 80,43 dan 82,62 g/ekor/minggu) dan konversi pakan puyuh (2,86, 2,81, 3,38, 3,17, 3,13, 3,28 dan 3,31). Dapat disimpulkan bahwa fermentasi menggunakan isolat selulolitik dari belalang dapat meningkatkan nilai nutrisi BIKS dan pemberian BIKSF sebanyak 10% tidak menurunkan performa puyuh pedaging.
This experiment was conducted to evaluate the nutritional value of Palm Kernel Cake (PKC) Fermented by cellulolitycs bacterial from grasshoper and the effect of the utilization fresh and Fermented Palm Kernel Cake (FPKC) in Quail (Cortunix-cortunix japonica) diets on growth performance. Cellulolytic bacterial have been isolated from the gut of grasshoper and the bacterial growth was optimized on the different medium pH (4, 4.5, 5, 5.5, 6, 6.5), temperature (25, 30, 35, and 40oC) and incubation time (1–6 day). The experiment effect of fermentation using cellulolitycs bacterial were designed in 3 treatment and 3 replication. The treatment were 0% (control) was fermentation without cellulolitycs bacterial, 10, 20, and 30% treatment with addition 10, 20, and 30% cellulolitycs bacterial. 210 male day old quail were randomly devide in to seven diets treatment in 3 replications with 10 male quail. The dietary treatments were K (kontrol), NF10, NF20 and NF 30 diets with addition 10, 20, and 30% PKC, F10, F20, and F30 diets with addition 10, 20, and 30% FPKC. ME and CP of feed formulation was 2900 kcal/kg and 22%. The data collected were microbial growth based on optical density (OD) and CMC-ase activity, fiscal and chemical quality of FPKC, and performance of quail and will be analyzed by a one way classification of variance analysis (CRD), followed by testing the significant mean by Duncan’s new multiple range test (DMRT). The result showed the optimum bacterial growth was on pH 5.5, incubation temperature 30oC and days 2 incubation. Dry matter (DM), organic matter (OM), ash, crude protein (CP) dan ether extract (EE) had not significant different and crude fibre (CF) had significant different 26.53, 23.73, 20.62, 20.73%. Metabolized energy had significant differences 1739.696, 1776.116, 1873.384 dan 2014.888 kcal/kg. Feed consumption 68.50, 77.00, 80.08, 73.88, 80.43 and 82.62 (g/quail/week), feed convertion 2.86, 2.81, 3.38, 3.17, 3.13, 3.28 dan 3.31, and the treatment had no effect on body weight and carcass percentation. It was conclude that fermentation using cellulolitycs bacterial from grasshoper could increase the nutritional value of FPKC and additions 10% of FPKC on diets had no negative effect on quail performance.
Kata Kunci : Belalang, Bakteri selulolitik, Fermentasi, Bungkil inti kelapa sawit, Puyuh.