LAHAR PASCA ERUPSI GUNUNGAPI MERAPI 2010 DI KALI PUTIH, MAGELANG, JAWA TENGAH: KARAKTERISTIK, DAMPAK TERHADAP PERUBAHAN MORFOLOGI SUNGAI, DAN PEMODELAN DENGAN LAHARZ
Gilang Arya Dipayana, Dr. Danang Sri Hadmoko, M.Sc
2014 | Tesis | S2 GeografiPenelitian ini dilakukan di Kali Putih, dengan tujuan penelitian sebagai berikut: (i) mempelajari karakteristik lahar di Kali Putih dan menentukan dampak lahar terhadap perubahan morfologi alur sungai akibat erupsi Merapi 2010, (ii) menentukan potensi kejadian lahar di masa mendatang berdasarkan pemodelan spasial dan arahan pengurangan dampak lahar terhadap perubahan morfologi sungai. Data kejadian lahar dan curah hujan digunakan untuk mendapatkan hubungan hujan yang menyebabkan lahar. Pengukuran lapangan untuk mendapatkan data ketebalan lahar dan material lahar. Interpolasi titik ketebalan lahar digunakan untuk mendapatkan peta ketebalan lahar dan volume lahar. Analisis granulometri dilakukan untuk mendapatkan karakteristik material lahar. Analisis citra berorientasi obyek (OBIA) pada citra resolusi tinggi digunakan untuk menentukan daerah luapan lahar 2010-2011, batas tebing sungai 2007, dan batas tebing sungai 2012. Morfologi alur sungai pra erupsi dan pasca erupsi didapatkan dari DEM ekstraksi peta kontur Ci 2,5 m (2007) dan DEM LiDAR yang sudah di upscaling (resolusi 2,5 m) (2012). Perubahan morfologi dilakukan dengan menggunakan GIS Processing. Pemodelan dengan LAHARZ menggunakan skenario 5, 3, 1,5, dan 0,6 juta m3. Arahan pengurangan dampak menggunakan dasar hukum UU 26/2007 dan PP 38/2011. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa di Kali Putih telah terjadi 29 kali kejadian lahar selama November 2010-Mei 2012. Kejadian lahar paling banyak terjadi pada bulan Januari 2011 yaitu sebanyak 12 kejadian kali kejadian. Kejadian lahar didahului dengan curah hujan sebesar 20 mm/jam yang terjadi selama 2 jam berturutturut. Area terdampak lahar seluas 1,992 km2. Volume lahar sebesar 3,76 juta m3 dengan ketebalan lahar 0-17 meter. Material lahar didominasi oleh pasir kasar (medial), pasir sedang (medial-distal), dan pasir halus (distal) dengan sortasi buruk. Perubahan tebing sungai akibat erosi lateral sebesar 0,4 km2 dan luas sebaran sedimen seluas 0,06 km2. Daerah yang paling tererosi adalah daerah distal (di Desa Seloboro dan Sirahan dengan lebar erosi maksimal 106 m). Perubahan dasar sungai akibat erosi sebesar 0,20 km2 dengan volume kehilangan material sebesar 0,8 x 10-3 km3 dan daerah tersedimentasi seluas 0,78 km2 dengan volume penambahan material sebesar 3,5 x 10-3 km3. Daerah paling banyak mengalami deposisi material lahar adalah daerah distal (Desa Seloboro dan Sirahan). Pemodelan lahar menghasilkan luasan daerah terkena dampak lahar sebesar 2,75 km2 (skenario 5 juta m3), 1,97 km2 (skenario 3 juta m3), 1,58 km2 (skenario 1,5 juta m3), dan 1.1 km2 (skenario 0,6 juta m3). Ketebalan lahar hasil pemodelan menunjukkan rentang ketebalan lahar adalah 0-15 meter. Pengurangan dampak perubahan morfologi dilakukan dengan tindakan teknis pembuatan tanggul dan penguatan tebing sungai, serta batasan sempadan sungai dan perencanaan penggunaan lahan di sempadan sungai.
This research located at Kali Putih. The objectives of the research are (i) to study lahar characteristic at Kali Putih and to determine impact of lahar on river morphology change due to lahar following Merapi eruption 2010, (ii) to determine potential lahar based on spatial modeling and how to reduce impact lahar on river morphology change. Lahar occurrences data and rainfall data was used to derive the relation between rainfall triggered lahar. Fieldwork measurement was used to derive lahar thickness. Interpolation using krigging was applied in order to build lahar thickness map and to measure volume of lahar. Granulometry analysis was used to represented lahar grain size characteristic. Object based image analysis (OBIA) was applied in order to identify of lahar extension 2010-2011, riverbank 2007, and riverbank 2012. DEM from topography map Ci 2,5 m (2007) and from LiDAR resolution 2,5 m (2012) was used to asses riverbed change using GIS processing. Lahar modeling using LAHARZ using volume scenario 5; 3,5; 1,5; and 0,6 million meter cubic. UU 26/2007 and PP 38/2011 was used to determine how to reduce impact of lahar on river morphology change. The results of this research are during November 2010-May 2012 was occur 29 lahar event. Most of lahar was occur in January 2011 (12 lahar event). Lahar occurance was initiated form rainfall with intensity 20 mm during 2 hours. Lahar was impacted around 2,33 km2 with 3,76 million meter cubic material aan average of thickness is 0-17 meter. Lahar material was dominated with coarse sand (medial area), medium sand (transition medial-distal), and fine sand (distal area) with poor sortation. Riverbank change due to lateral erosion around 0,4 km2 and the area sedimentation around 0,06 km2. The most extensive area due to riverbank erosion was located at distal area (Seloboro and Sirahan with maksimum maksimum erosion is 106 m). Riverbed change area due to erosion was around 0,20 km2 with total losses material around 0,8 x 10-3 km3 and sedimentation area around 0,78 km2 with total added material around 3,5 x 10-3 km3. The area with most riverbed agradation located at distal area (Selobor and Sirahan). Lahar modeling resulted lahar inundated area around 2,75 km2 (scenario 5 million m3), 1,97 km2 (scenario 3 million m3), 1,58 km2 (scenario 1,5 million m3), dan 1.1 km2 (scenario 0,6 million m3). Lahar modeling resulted lahar thickness in Kali Putih around 0-15 m. Impact of lahar on river morphology change can reduced with several processes, (i) using zonation of hazard zone, (ii) build the riverbank protector, and (iii) restoration SABO DAM function and sand mining management.
Kata Kunci : lahar, perubahan morfologi sungai, pemodelan lahar, LAHARZ, OBIA